
Vino menutup map berkas perusahaan nya dengan kasar, sehingga membuat sekretaris dan asistennya terkejut dan tegang.
"Aku nggak bisa berfikir untuk sekarang. Batalkan semua jadwalku untuk hari ini. Berkas ini akan aku periksa kembali besok," kata Vino sambil menyerahkan berkas itu pada sekretarisnya.
"Bambang, bagaimana dengan tugas yang kuberikan pada mu? Apa anak buah mu udah menemukan orang yang aku suruh cari?" tanya Vino pada asistennya.
"Belum ada kepastian Pak, cuma ada beberapa dugaan yang mendekati," jawab Bambang ragu.
"Apa itu?"
"Yang pertama, sepertinya wanita yang Pak Vino suruh cari telah diculik. Berhubung Pak Vino bilang wanita itu menghilang di pasar malam jadi kami memeriksa kamera pengawas yang ada di tempat parkirnya, dan terlihat di sana seorang wanita di papah dua orang laki-laki, lalu dimasukkan ke dalam mobil," jelas Bambang.
Vino meremas pulpen ditangannya, ia bersumpah akan membalas perlakuan si penculik terhadap Dinda.
"Lalu?" tanya Vino dengan suara bergetar menahan marah.
"Dugaan kedua, dalang penculikannya sepertinya Pak Rio. Karena setelah beberapa saat mobil itu pergi, terlihat pak Rio datang dan masuk ke mobilnya", kata Bambang dengan suara yang tampak ragu.
Apa lagi melihat wajah Vino yang kaget.
"Tapi karena ini berhubungan dengan Pak Rio, jadi kami memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut, sampai ada kepastian di mana keberadaan wanita itu sekarang," sambungnya.
Vino mengambil ponsel nya untuk menelfon Rio. Namun berkali-kali ia menelepon, Rio sepertinya memang sengaja tidak mengangkat.
Vino langsung keluar dari kantornya. Dia harus menemui Rio. Ia membawa mobilnya dengan cepat menuju ke rumah keluarga angkatnya.
Sesampainya di sana, ia melihat sebuah mobil yang terlihat asing terparkir di depan rumahnya. Rumah yang terlihat begitu besar bak sebuah hotel bintang lima.
Sepertinya ada tamu, ia jadi tidak bisa melabrak Rio sekarang. Karena Vino sangat menghargai Mama dan Papa angkatnya itu.
"Assalamualaikum Ma..." sapa Vino.
Ia melihat Mamanya itu sedang menerima tamu.
"Waalaikumussalam Vin, kamu udah pulang?" jawab Mama nya sambil tersenyum lembut.
"Sini dulu Vin, ini ada tamu yang pasti bakalan buat kamu senang," panggil Mamanya lembut.
Vino mendekat dan melihat seorang gadis cantik berambut cokelat dan berkulit putih bersih tersenyum ceria padanya.
"Lara?!" seru Vino tak menyangka akan bertemu dengan teman lamanya.
Lara Silvia adalah teman Vino sejak pertama kali ia diadopsi keluarga Aditya. Gadis tomboy yang merupakan teman sekolah sekaligus tetangganya.
Namun setelah mereka lulus SMA, Lara beserta keluarganya pindah ke luar negeri.
Lara bangkit dari duduknya dengan sangat anggun dan memeluk Vino.
Vino refleks melepaskan pelukan Lara.
Gadis itu sedikit terkejut dengan penolakan Vino.
__ADS_1
"Wah mentang-mentang udah tinggal di LA sekarang kamu udah kayak gayanya bule nih, main peluk-peluk aja. Ngomong-ngomong kamu sekarang udah feminim ya," kata Vino sambil memperhatikan temannya itu.
Lara tampak bersemu merah diperhatikan Vino.
"Iya dong, abisnya di sana gak ada yang nemenin aku main bola. Jadi aku pakai rok aja" canda Lara.
"He he he" Vino terkekeh mendengar candaan gadis cantik itu.
"Terus kenapa selama ini kamu nggak pernah berkunjung ke Indonesia? Kupikir kamu udah lupa lagi sama negeri sendiri," sambungnya.
"Mana mungkin aku lupa, aku selama ini fokus sama cita-cita ku membuka butik dan menjadi desainer di Indonesia. Jadi aku harus benar-benar mencari ilmu dulu di sana," jelas Lara.
"Oh...jadi kamu mau tinggal di Indonesia sekarang?"
"Iya, aku akan cari rumah dulu. Rencananya kalau kamu nggak sibuk, aku mau ngajakin kamu nemenin aku nyari rumah," kata Lara
"Oke, aku akan bantuin kamu nanti"
"Nak Lara seharusnya tinggal di sini aja untuk sementara, dari pada tinggal di Hotel" sahut Mama nya Vino.
"Iya, bener. Oh ya ma, Mas Rio dimana?" tanya Vino.
"Rio udah beberapa hari ini nggak pulang ke sini, sepertinya dia pulang ke rumahnya sendiri," jawab Mamanya.
"Ya udah, aku mau nemuin Mas Rio dulu" kata Vino.
"Aku ikut ya Vin, aku juga mau ketemu mas Rio," kata Lara.
"Oke, ayo!"
"Lara juga pamit dulu ya Tan, nanti Lara ke sini lagi," pamit Lara sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Ya, hati-hati dijalan ya," sahut Mama sambil tersenyum.
"Aku naik mobil kamu aja ya Vin, biar kita bisa ngobrol lagi," kata Lara sambil mengikuti Vino keluar.
"Oke" jawab Vino.
****
"Jadi apa sekarang kamu masih dingin sama semua perempuan Vin?" tanya Lara setelah mereka di mobil.
Vino tersenyum mendengar pertanyaan Lara.
"Ya, kenapa? jangan bilang kalau kamu sekarang udah jadi perempuan. Aku pasti akan cuekin kamu," kata Vino.
Lara memalingkan wajahnya keluar jendela.
"Aku memang perempuan kali Vin," jawabnya lirih.
"Ha ha ha kamu itu perempuan yang nggak bersifat perempuan Ra, kamu nggak suka ribet, kamu berani dan selalu to the point, justru itu yang aku suka darimu," kata Vino.
__ADS_1
Lara menatap laki-laki disampingnya itu dan perlahan ia tersenyum.
"Ini rumahnya Rio, yuk turun!" ajak Vino setelah memarkirkan mobilnya.
"Wah Mas Rio suka gaya klasik rupanya," kata Lara begitu melihat rumah bergaya klasik yang berdiri megah di depan nya itu.
"Tapi kok ada banyak penjaga begitu Vin? Apa di rumah Mas Rio lagi ada masalah ya?" sambungnya saat melihat beberapa laki-laki bertubuh tegap memakai setelan jas hitam berdiri siaga di depan pintu masuk.
"Aku nggak tau, aku juga baru lihat banyak penjaga begini," jawab Vino.
Vino dan Lara pun langsung melangkah masuk, namun langkah mereka langsung ditahan para penjaga.
Vino terkejut saat mereka di tahan begitu.
"Maaf saya adiknya Mas Rio, saya Vino Aditya", kata Vino berfikir kalau para penjaga tidak mengenalnya.
"Iya, kami tau. Tapi pak Rio telah menugaskan kami untuk melarang siapapun masuk ke rumahnya, termasuk keluarga," jawab si Penjaga.
"Wah, gila nih si Rio! Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan!" seru Vino marah, karena dia merasa sepertinya dugaannya benar, Rio pasti menyekap Dinda di rumah nya.
"Aku nggak mau tau, aku harus masuk sekarang!" kata Vino sambil mengepalkan tangannya.
Para penjaga langsung siaga menahan Vino.
"Maaf Pak Vino, kami tidak bisa membiarkan anda masuk," kata Penjaga.
Vino memberontak, dan terus mencoba menerobos masuk.
"Panggil Rio kemari sekarang juga!" teriaknya.
"Maaf Pak, Pak Rio sedang tidak ada di rumah," jawab Penjaga.
Lara yang tampak bingung melihat reaksi Vino, perlahan menarik tangan laki-laki itu.
"Udah lah Vin, kamu kan bisa nelepon Mas Rio" katanya.
"Nggak bisa Ra, dia nggak angkat teleponnya. Dia memang sengaja bersembunyi dariku," jawab Vino.
"Yo, keluar kamu!" teriak Vino.
"Sabar Vin, gimana kalo kita samperin Mas Rio ke kantornya, siapa tau dia ada di sana," kata Lara.
Sementara Dinda yang berada di kamarnya di lantai atas seperti mendengar suara orang berbicara di luar.
Ia mencoba melihat melalui jendela kamarnya ke luar.
"Vino?!" seru Dinda senang saat melihat Vino di bawah sana sedang berbicara dengan penjaga.
"Akhirnya kamu datang," bisik Dinda.
Namun ia melihat Vino bersama seorang perempuan. Dan tak lama kemudian dia dan perempuan itu berbalik dan pergi.
__ADS_1
"Vino!" panggil Dinda dari atas, namun suaranya tak mungkin terdengar ke bawah.
"Kenapa Vino bahkan nggak menemui ku? Apa dia udah nggak peduli padaku? Terus, siapa wanita yang bersamanya?" berbagai pertanyaan muncul di benaknya, melihat laki-laki yang tanpa disadarinya telah ia rindukan pergi begitu saja.