
Refleks Dinda langsung membalikkan badannya, sesaat mereka saling berpandangan.
Lalu terdengar ketukan di pintu. Terlihat sepasang pengantin baru itu menjadi salah tingkah. Dinda membalikkan kembali badannya dan berkata,
"Tolong kancingkan kembali gaunnya Vin"
Mata Vino kembali tertuju kepada punggung yang terlihat putih mulus itu, ingin rasanya ia menggerayangi lagi, namun cepat-cepat ia menghilangkan pikiran nakal nya.
Setelah gaunnya terkancing kembali, Vino dan Dinda pun segera membukakan pintu.
Setelah pintunya terbuka, terlihat Yanti dengan senyuman canggung, karena merasa tidak enak telah mengganggu pasangan pengantin baru itu. Dan di depannya berdiri Arka yang yang sedang mengusap air matanya.
Vino langsung berjongkok dan membantu Arka mengusap air matanya.
"Jagoan kok nangis? Arka kenapa?" tanya Vino lembut.
"Maaf, dari tadi Arka pengen ketemu sama mamanya. Udah diajak main, tapi tetap nggak mau. Akhirnya nangis" jawab Yanti.
Dinda tersenyum duduk bersimpuh dan menarik Arka ke dalam pelukannya.
"Anak Mama kenapa nangis?"
"Arka mau sama Mama. Arka ngantuk dan mau bobok sama Mama," rengek Arka.
Yanti menarik tangan keponakannya perlahan.
"Arka boboknya sama Bibi aja ya," rayu Yanti.
"Nggak mau, Arka mau sama Mama," jawab Arka sambil menarik kembali tangannya.
Dinda tersenyum dan menggendong Arka.
"Enggak apa-apa kak, biar aku aja yang nemenin Arka bobok"
"Iya Kak, lagi pula aku udah nyiapin kamar Arka di sini," timpal Vino.
"Baiklah. Karena ini udah malam, kakak pamit pulang dulu ya, Mas mu udah kecapean dan pengen pulang" ujar Yanti.
"Iya kak, terima kasih banyak untuk hari ini ya" kata Dinda.
"Iya, sama-sama" jawab Yanti sambil beranjak pergi.
Vino menatap Arka sambil tersenyum, lalu ia merentangkan kedua tangannya kepada anak kecil itu.
"Arka mau Om yang gendong nggak?" tanya Vino.
Arka mengangguk pelan dan menyambut uluran tangan Vino.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, kita menuju kamar kamu sekarang. Om udah siapin kamar yang bagus untuk kamu" kata Vino sambil ber jalan ke kamar yang berada di samping kamar pengantinnya.
Dan Dinda mengikuti nya sambil tersenyum senang. Ia bahagia melihat anaknya bisa akrab dengan Vino.
Begitu Vino membuka pintu kamarnya, mulut Arka langsung terbuka lebar dengan matanya yang melotot.
"Wow! Kamarnya bagus banget Om" seru Arka saat melihat kamar yang yang dicat warna biru, dan dindingnya dilukis dengan mural motif spider-man.
Kamar yang yang bernuansa kartun itu tertata dengan apik sesuai selera anak-anak.
"Wah, Vino kamu menyiapkan semua ini untuk Arka?" tanya Dinda.
"Iya dong, emangnya aku punya anak yang lain?"
Dina tersenyum senang, apalagi melihat Arka yang begitu antusias saat melihat kamarnya.
Sementara Vino juga merasakan bahagia, saat melihat wajah istri dan anaknya begitu gembira.
T**ernyata seperti inilah rasanya mempunyai sebuah keluarga, melihat senyum mereka saja sudah membuat aku bahagia, batin Vino.
"Arka udah makan malam?" tanya Vino.
"Udah tadi sama Bibi dan Nenek"
"Ya udah, Arka mau bobok sekarang?"
Vino menurunkan Arka dari gendongannya nya ke tempat tidur.
Lalu Dinda ikut merebahkan tubuhnya disamping anaknya sambil memeluk Arka.
"Mah, kalau mama peluk Arka pakai baju peri begini, Arka jadi merasa seperti dipeluk sama peri dalam dongeng"
Dinda tersenyum mendengar perkataan anaknya lalu ia mengecup puncak kepala anaknya lembut.
Vino yang duduk dipinggir tempat tidur ikut tersenyum.
"Memangnya Arka suka cerita dongeng?" tanya Vino.
"Iya, Arka suka," jawab Arka.
"Mau Om bacakan dongeng nggak?"
"Emangnya Om punya buku dongeng?"
"Punya dong, Om sudah persiapkan untuk Arka banyak nih"
kata Vino sambil menunjukkan tumpukan buku dongeng di dalam laci meja kecil di kamar itu.
__ADS_1
"Wah, banyak banget buku dongeng nya om!" seru Arka sambil bangun dan duduk di tepi ranjang.
"Sekarang Arka pilih dulu yang mana Arka mau Om bacain" kata Vino sambil membawakan setumpuk buku kedekat Arka.
Setelah mendapatkan buku pilihan Arka, Vino mulai membacakan dongengnya. Sementara Arka kembali tidur di dalam pelukan ibunya.
Tak lama kemudian, mata Arka pun terpejam, dan terlelap dalam tidurnya.
Kemudian Dinda melepaskan pelukannya pada Arka perlahan, ia merasa gerah karena belum mengganti gaun pengantinnya.
"Aku mau ganti baju dulu. Yuk kita balik ke kamar, kamu juga mau ganti baju sekarang kan?" ajak Dinda.
Vino yang mendapatkan ajakan masuk kamar dari wanita yang telah sah menjadi istrinya itu tiba-tiba saja merasa gugup. Dan entah kenapa dia merasa malu sendiri membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya di dalam kamar pengantinnya nanti.
Dengan wajah yang memerah ia mengikuti langkah Dinda untuk keluar dari kamar Arka.
Setelah sampai di kamar, Dinda melirik ke arah Vino.
"Sekarang bajunya aku buka sendiri aja ya?" tanya Dinda sekaligus memberikan kode, bahwa ia mengizinkan kalau memang Vino yang ingin membukanya.
Namun Vino yang sedang merasa gugup, tidak bisa menangkap isyarat itu.
"I..Iya" jawab Vino gelagapan sambil mengangguk.
Dinda diam sejenak, lalu membuka bajunya sendiri. Sementara Vino duduk di tepi ranjang sambil sesekali melirik Dinda.
Perlahan Dinda menurunkan gaun nya. Dinda sengaja tidak buru-buru memakai handuk, dengan wajah yang merona dan jantung deg-degan ia menunggu reaksi Vino.
Apa Dinda akan menganggap aku terlalu agresif kalau aku menyentuh nya sekarang ya? Aku gak mau salah mengambil langkah dan membuat Dinda illfeel padaku, batin Vino.
Dinda yang melihat Vino tidak bereaksi apa-apa, akhirnya menutup kembali tubuhnya dengan handuk.
wajahnya tampak memerah karena malu.
Kenapa Vio tidak bereaksi apa-apa ya? Apa aku yang terlalu agresif ? Batin Dinda sambil melirik Vino yang sedang menatap ke arah lain.
Dia bahkan tidak melirik sedikitpun ke arahku, apa aku tidak menarik sama sekali ya? Batinnya sedih.
"Aku mandi dulu ya Vin" ujarnya masih berharap Vino bereaksi.
Namun Vino hanya mengangguk sambil melirik sekiIas.
Dinda yang tadinya merasa malu saat disentuh Vino, sekarang jadi malu karena tidak didekati lagi, malu karena minder.
Akhirnya ia pun masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.
Sementara Vino melepaskan nafasnya yang sejak tadi ia tahan. Walaupun bersusah payah ia berusaha untuk tidak melihat, namun matanya terus melirik. Hampir saja ia tidak bisa menahan nafsunya itu, kalau saja ia tidak mengkhawatirkan tanggapan Dinda yang mungkin tidak suka dengan sikap agresif nya.
__ADS_1
Bersambung...