
Hai Pembacaku yang Budiman....✋✋✋✋✋✋✋✋✋✋✋✋✋✋✋
Karena Kalian minta Visualnya Vino sama Dinda, dan semua pada minta yang rada-rada keindonesiaan, karena udah bosan liatnya oppa-oppa Korea melulu. Jadi saya usahakan Visualnya sesuai dengan keinginan para pembaca dan sesuai juga dengan karakter nya.
Semoga suka ya.... Baca terus novel 'PENCULIK CINTA' nya ya. Jangan lupa like, favorit, rate 5, and share ke sosial media kalian. Bantu vote juga ya, biar saya semangat Up terus... Terimakasih pembaca setia ku.😘😘😘❤️❤️❤️❤️
Selamat membaca...
Dinda membuka matanya perlahan, saat mendengar suara ribut-ribut di sampingnya. Dan dia merasakan wajahnya seperti sedang diolesi sesuatu.
Samar-samar matanya melihat beberapa orang di sampingnya sedang sibuk dengan wajahnya.
Refleks Dinda membuka matanya lebar-lebar dan langsung bangkit. Namun ia merasa kepalanya pusing.
"Kalian siapa?" Tanya Dinda ketika matanya sudah jelas melihat beberapa perempuan yang mengelilinginya tadi.
"Maaf mbak, mbak tidur aja dulu. Setelah kami selesai merias, baru mbak bangun kembali ya" Kata perempuan yang berada disampingnya sambil mendorong pelan tubuhnya agar tidur kembali.
Dinda yang merasa kepalanya masih pusing pun menurut saja. Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang yang sandarannya sedikit rebah itu.
"Kalian siapa?" Dinda mengulang pertanyaan nya dengan suara lemah, dan sambil memejamkan mata untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya.
"Kami perias mbak, kami nggak akan menyakiti Mbak kok. Mbak tidur aja dengan tenang, setelah selesai kami akan membangunkan Mbak lagi" Kata salah seorang dari mereka.
Dinda kembali hanya bisa menuruti perkataan mereka walaupun pikirannya masih bingung dengan apa yang terjadi padanya.
Lima belas menit telah berlalu, para perias itu mulai meletakkan peralatan kosmetik nya dan tersenyum puas.
"Mbak, silahkan buka matanya. Mbak bisa lihat sendiri hasilnya" Kata salah seorang perias.
Dinda mencoba membuka matanya, dan rasa pusingnya sepertinya telah hilang. Dia kembali melihat kearah perias yang berdiri di sampingnya, dan mereka menatapnya sambil tersenyum.
"Sebenarnya ada apa ini mbak? Kenapa kalian merias wajah saya?" Tanya Dinda.
"Karena Mbak adalah pengantin nya" Jawab mereka.
Dinda terkejut dan merasa bingung mendengarnya.
"Mbak lihat hasilnya dulu di cermin" Kata si perias sambil menunjuk ke cermin.
Dinda pun menoleh kearah cermin yang ditunjukkan, dan ia sangat terkejut melihat bayangan di cermin itu.
Dinda melihat dirinya sendiri memakai baju pengantin berwarna putih yang sangat indah.
Ia sama sekali tidak menyadari sedang memakai baju pengantin, karena sedari tadi ia memejamkan matanya karena merasa pusing.
"Ini aku? Kenapa aku jadi pengantin?" Batin Dinda bingung.
Perlahan Dinda meraba wajahnya sendiri, dia terlihat begitu cantik dengan riasan dan baju pengantin nya.
Bahkan para perias pun takjub memandang wanita yang sedang berdiri di depan mereka itu.
Tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka, Dinda dan para perias itu menoleh kearah pintu, dan Dinda sangat terkejut saat melihat Rio yang masuk.
__ADS_1
Rio tampak terpana melihat Dinda, sampai ia terdiam terpaku untuk beberapa saat.
"Kamu sangat cantik Dinda, aku tidak salah telah menyukaimu" Kata Rio sambil tersenyum.
"Jadi mas Rio yang melakukan ini mas? Mas yang telah menculik aku?" Tanya Dinda.
"Seandainya aku yang melakukannya, pasti aku akan sangat bahagia saat ini" Kata Rio sambil tersenyum getir.
Lalu dari belakang Rio muncul Nyonya Aditya.
Dia mengusap punggung anak sulungnya itu lembut.
"Rio, ada apa kamu kemari? Biar mama saja yang akan menemani Dinda" Kata Nyonya Aditya.
Rio menoleh kepada ibunya dan tersenyum tipis.
"Iya ma, Rio cuma mau ngelihat aja kok" kata Rio, lalu berbalik dan berjalan keluar.
Nyonya Aditya mengalihkan perhatiannya kepada Dinda lalu tersenyum lembut.
"Kamu cantik sekali Dinda, seperti seorang bidadari, Mama sampai takjub melihatnya" katanya memuji.
"Tapi Ma, ini sebenarnya ada apa?" Tanya Dinda.
Dia berjalan perlahan dengan gaun nya yang panjang, dan memegang tangan ibunya Vino itu. Walaupun masih bingung, tapi ia merasa lega di sana ada Nyonya Aditya.
"Maafkan kami sudah membuat kamu takut" Ujar Nyonya Adhitya sambil membalas genggaman tangan Dinda.
"Maksud Mama dengan kami itu apa?"
Alih-alih menjawab, Nyonya Aditya mengembangkan senyumnya lagi.
"Mama mau bertanya sama kamu. Apa kamu sudah siap menjadi seorang pengantin?"
"Maksud Mama? Pengantinnya siapa?"
"Tentu saja pengantin dari orang yang kamu cintai"
Dinda menundukkan kepalanya dengan wajah yang merona
"Tapi Dinda sekarang tidak tahu Vino ada di mana"
Nyonya Aditya menatap Dinda dengan rasa bersalah.
"Dia memang sengaja menghilang dari kamu"
Dinda langsung mendongakkan kepalanya.
"Jadi benar, Vino dengan sengaja tidak memberi kabar kepada Dinda?" Tanya Dinda dengan mata yang berkaca-kaca.
Nyonya Aditya menganggukkan kepalanya
"Dan dia sekarang sudah menerima permintaan Papanya untuk menikah?"
Nyonya Aditya memandang Dinda heran, bagaimana Dinda bisa tahu tentang permintaan Papanya Vino. Namun dia kembali menganggukkan kepalanya.
"Jadi hari ini Mama ingin Dinda menikah dengan siapa? Dengan mas Rio?" Tanya Dinda dan mulai tak bisa membendung air matanya.
__ADS_1
Nyonya Aditya semakin bingung dengan pertanyaan Dinda.
"Tunggu dulu sayang, sepertinya ini ada kesalahpahaman. Maksud Mama orang yang kamu cintai itu tentu saja Vino, dan Papanya minta Vino nikah dengan kamu" jelas Mamanya Vino itu.
Sekarang giliran Dinda yang bingung. Nyonya Aditya tersenyum, lalu menjelaskan.
"Sebenarnya, beberapa hari ini kami telah menyusun rencana untuk memberi kejutan kepada mu. Ini sebenarnya rencana Vino. Dia ingin kejadian pertama kali bertemu denganmu, diulangi kembali hari ini. Makanya dia sengaja tidak memberi kabar kepada mu setelah kebebasannya"
Dinda menatap Nyonya Aditya tak percaya. Dan kini ia malah tidak bisa membendung lagi air matanya. Dia ingin menumpahkan semua perasaan gundah yang selama ini dia rasakan.
Nyonya Aditya langsung membawa Dinda ke dalam pelukannya.
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Hari ini adalah hari bahagia mu, nanti riasannya luntur lho" Ujar Nyonya Aditya sambil mengusap punggung Dinda lembut.
Dinda melepas pelukannya dan mengusap air matanya.
Bibirnya kini mengembangkan senyum.
Pintu ruangan itu kembali terbuka, Dinda menoleh ke arah sana dan ia melihat kakaknya Yanti masuk bersama malaikat kecilnya Arka.
Yanti tersenyum lebar melihat adiknya. Sementara Arka langsung berlari menghambur ke pelukan ibunya.
"Mama hari ini jadi princess ya?" Tanya Arka polos.
Dinda tersenyum dan mencium pipi anaknya.
"Ya sayang, apa Mama cantik?"
"Cantik banget. Mama kayak peri baik hati"Jawab Arka.
Dinda menoleh kearah kakaknya.
"Jadi kakak sebenarnya sudah tahu?"
"Iya, tapi kakak baru saja tahu, dan Vino meminta kakak untuk merahasiakannya padamu".
Yanti memeluk adiknya hangat.
"Kamu sudah siap kan untuk menjemput kebahagiaanmu?" Tanya Yanti sambil melepaskan pelukannya, dan menggenggam tangan Dinda erat.
Dinda pun mengangguk yakin.
Nyonya Aditya dan Yanti tersenyum lega.
"Kalau begitu, mari kita keluar menjumpai pangeran mu" Kata Yanti sambil menggandeng tangan adiknya.
Begitu keluar dari ruangan itu, Dinda melihat sekelilingnya yang sudah dihias begitu indah, penuh bunga-bunga berwarna putih.
Para tamu menatap Dinda takjub, Dinda memang terlihat sangat cantik dan anggun. Ia menyusuri karpet merah yang di kiri dan kanannya berbaris bunga putih.
Sekali-kali ia menundukkan kepalanya karena merasa malu saat semua mata tertuju padanya.
Dan begitu ia menatap ke depan, di ujung karpet merah yang diapit bunga-bunga putih itu, berdiri tegak sosok yang memakai setelan jas berwarna putih.
Semakin dekat dengan sosok itu, semakin jelas ia bisa melihat laki-laki tampan yang sedang tersenyum manis padanya.
Vino terlihat begitu tampan, sampai membuat jantung Dinda berdegup kencang. Dan ia merasa jadi sulit bernafas, seolah-olah dadanya telah dipenuhi bunga-bunga.
__ADS_1
Bersambung....
JANGAN LUPA VOTE YA PEMBACAKU YANG BAIK. BIAR SAYA SEMANGAT UP TERUS. TERIMAKASIH.