Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Pamit


__ADS_3

Seharian penuh Vino terus menempel pada Dinda. Kemanapun Dinda pergi, ia terus berada di samping Dinda, dengan alasan ingin menjaga Dinda seratus persen, dan takut istrinya akan jatuh kalau tidak di papah.


Padahal sudah berulangkali Dinda mengatakan kalau kakinya sudah tidak terlalu sakit lagi, dan ia bisa berjalan sendiri. Ia juga merasa risih, karena Vino terus mengikuti nya bahkan sampai ke kamar mandi saat ia mau buang air kecil. Namun Vino tidak mau menjauh sedikit pun.


"Kamu kok lebay gitu sih? Aku malu tau, kamu ikuti sampai ke kamar mandi," protes Dinda saat Vino bersikeras untuk menemaninya.


"Kenapa harus malu sama suami sendiri? Aku bahkan sudah pernah melihat setiap inchi tubuhmu," jawab Vino bersikeras.


"Ih, tapi ini kan mau pipis. Jorok tau"


"Aku gak akan lihat kok, nanti aku balikkan badan," dan akhirnya Dinda lah yang harus mengalah.


Setelah selesai, Dinda pun keluar dengan wajah yang terlihat memerah menahan malu, saat membayangkan ia tadi harus buang air kecil di dekat cowok tampan itu.


Sementara Vino mengikuti nya sambil cengar-cengir sendiri melihat raut wajah Dinda yang manyun.


"Kamu malu gara-gara bunyi nya atau bau nya?" Tanya Vino semakin gencar menggoda.


Dinda langsung berbalik ke arah Vino dengan wajah kesal.


"Ih, kamu kok gitu sih? Mana mungkin bau, aku kan langsung siram. Lagian aku kan udah ngelarang kamu ikut masuk," seru Dinda mulai marah.


Vino langsung terkekeh menerima semprotan Dinda. Lalu ia menarik lembut Dinda kedalam pelukannya.


"Sayang, aku cuma godain kamu kok. Soalnya kamu itu gemesin kalo lagi kesal"


"Jadi kamu mau buat aku kesal terus gitu?" tanya Dinda sambil melepaskan dirinya dari pelukan Vino.


"Ya nggak lah. Aku cuma sedang menikmati setiap ekspresi mu yang belum pernah aku liat sebelumnya" jawab Vino sambil menarik kembali pinggang Dinda untuk mendekatinya. Ia mengangkat wajah Dinda agar menatapnya.


"Kamu itu wanita tercantik di mataku. Jadi apapun yang kamu lakukan, aku tidak akan pernah merasa illfeel sama sekali".


Perlahan wajah kesal Dinda berubah menjadi ekspresi malu, mendengar perkataan Vino. Dengan wajah merona ia menahan senyumnya.


"Nah, ini satu lagi ekspresi kamu yang paling aku suka," ujar Vino sambil tersenyum.


"Udah ah, aku mau duduk. Kamu itu godain aku terus," kata Dinda sambil mendorong pelan dada bidang Vino.


Vino kembali tersenyum.


Ia langsung menarik tangan Dinda, dan dengan cepat ia mengangkat tubuh istrinya itu sampai Dinda memekik kaget.


"Ih, kamu. Ngagetin tau!" seru Dinda sambil memukul dada Vino pelan.


Vino hanya tersenyum dan berjalan ke arah ranjang sambil mengangkat tubuh Dinda.


"Ayo kita bobok lagi, biar kakinya cepat sembuh"


"Aku memang udah sembuh Vin, kamu aja yang memperlakukan aku seperti orang sakit. Kamu gak bosan apa, nempelin aku terus?"

__ADS_1


Vino meletakkan Dinda perlahan di ranjang.


"Nggak dong, aku malah ketagihan menempel sama kamu," jawabnya santai.


Lalu ia menelungkupkan tubuhnya di atas Dinda.


"Kalo kamu udah sembuh, berarti kita bisa olahraga lagi dong," ujar Vino dengan ekspresi nakal.


Dinda hanya bisa pasrah, ia memahami ini masih hari pertama setelah hari pernikahan mereka.


CEKREKK


Tiba-tiba saja pintu kamar mereka terbuka, dan muncul sosok kecil imut Arka.


Sontak Vino dan Dinda kaget. Vino langsung duduk tegak.


Sementara Arka berlari mendekati ibunya.


"Mama, udah sembuh kan?" tanya Arka sambil naik ke atas ranjang.


Vino hanya bisa mengusap wajahnya untuk meredakan gairah yang terlanjur menggelora.


"Iya, Mama udah sembuh kok. Arka kemana aja? Kok baru jenguk Mama sekarang?" tanya Dinda sambil membelai rambut anaknya.


"Tadi Arka bobok siang sama Nenek. Nenek bilang, Mama juga harus bobok siang dulu biar cepat sembuh. Jadi Arka gak datang dulu, takut gangguin Mama," kata Arka.


Vino ikut membelai rambut Arka


Dinda menatap Vino seolah bertanya ' apakah tidak apa-apa?'. Mengingat ini masih malam pengantin kedua mereka.


Vino mengangguk sambil tersenyum, ia mengerti Dinda merasa tidak enak padanya.


"Aku adalah Papanya sekarang. Aku juga ingin merasakan tidur bersama putraku" Ujar Vino, yang membuat Dinda merasa terharu.


"Papa bobok di sini juga?" tanya Arka polos.


"Iya dong, Papa pingin malam ini kita bobok bersama"


"Baiklah, tapi Papa bacain dongeng seperti malam kemarin lagi ya," pinta Arka.


"Oke" jawab Vino sambil tersenyum. Begitu juga dengan Dinda. Ia berdoa di dalam hati, agar kebahagiaan ini akan selalu menyertai mereka.


*****


"Kamu udah siap kan? Kita harus beri tahu Mama hari ini," ujar Vino.


Dinda menghela nafas. Rasanya berat harus minta izin untuk tinggal di rumah sendiri pada Mama. Ia takut kalau sampai Mama merasa sedih. Tapi ia juga ingin hidup damai bersama suaminya, tanpa gangguan Rio.


"Baiklah, ayo kita coba. Mudah-mudahan Mama mau mengerti," ujar Dinda sambil bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Sesampainya di bawah, mereka melihat Nyonya Aditya sedang duduk di ruang keluarga.


Dinda dan Vino berjalan mendekat dan duduk di sofa ruang keluarga itu.


Sementara Arka sedang bermain di taman, di awasi oleh asisten keluarga Papa barunya.


"Wah, pengantin baru ini. Kemana-kemana selalu berdua," goda Nyonya Aditya.


Dinda tersenyum malu-malu.


"Ma, Vino dan Dinda ada hal penting yang mau dibicarakan sama Mama," ujar Vino.


"Hal penting apa?"


"Ini masalah tempat tinggal kami kedepannya," jawab Vino.


Tampak Nyonya Aditya tertegun sejenak.


Ia seperti telah bisa menebak hal penting yang ingin disampaikan oleh anak dan menantunya itu.


"Apa kalian mau pindah dari sini?"


Sesaat mereka terdiam.


"Iya Ma. Kalau Mama mengizinkan" jawab Dinda perlahan.


Nyonya Aditya menghela nafasnya.


Ia merasakan kesedihan yang perlahan menyusup ke dalam hatinya. Namun ia menyadari, kalau anaknya memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.


Dinda merasa terenyuh melihat wajah wanita yang sangat dihormatinya itu terlihat muram.


"Baiklah. Kalian memang nya mau pindah kemana?"


"Kami berencana tinggal di rumahnya Dinda Ma, dan ini atas kemauan nya Vino Ma. Vino yang mengajak Dinda pindah," jelas Vino. Ia tidak ingin Mamanya salah paham terhadap Dinda.


"Iya, Mama tau. Ini pasti karena kejadian kemarin bukan? Mama juga berpikir begitu. Mama setuju kalian pindah, demi kebaikan kita semua. Hanya saja, Mama merasa sedih. Karena Mama pernah berharap kita bisa tinggal bersama," jawab Nyonya Aditya lirih.


Perlahan setetes air mata mengalir di pipinya Dinda. Ia merasa sedih, karena tidak bisa menghadirkan kebahagiaan untuk wanita yang sangat baik hati itu.


Ia bangkit berdiri dan menghampiri Mama mertua nya itu.


Dinda duduk di samping Nyonya Aditya dan memeluknya.


"Maafin Dinda Ma, tapi Dinda janji, akan sering-sering menjenguk Mama," ujar Dinda.


Perlahan bibir Nyonya Aditya tersenyum. Ia tak mau membuat anak dan menantunya ikut sedih.


"Terimakasih sayang. Mama izinkan kalian pindah," jawabnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2