
Dinda masih berjongkok di lantai, wajahnya terlihat bimbang. Ia tak tau harus memilih untuk masuk atau tidak. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan Vino yang sedang terbaring sakit. Dan tidak ingin mama mertuanya yang begitu baik kecewa terhadapnya.
Perlahan ia beranjak bangun dan menuju ke kursi yang berjajar di pinggir lorong rumah sakit, ia merasa tubuhnya sangat lemas. Ia ingin duduk di sana sejenak untuk mempertimbangkan apakah ia akan masuk atau tidak.
Sementara di dalam ruangan Vino dirawat, Lara yang merasa mempunyai kesempatan untuk mendekati kedua orang tuanya Vino pun mulai beraksi.
"Tante, apa keadaan Vino parah?" tanya Lara sambil memasang wajah khawatir.
Raut wajah nyonya Aditya tampak sedih sambil menatap anaknya yang terbaring tak sadarkan diri.
"Dokter bilang sih, tidak parah. Vino hanya mengalami benturan ringan di kepalanya. Dan jika sebelum pagi nanti Vino tersadar, maka dia akan baik-baik saja. Namun jika tidak sadar juga, berarti ada sesuatu yang serius pada benturan kepalanya"
Lara kembali menunjukkan ekspresi sedih.
"Kenapa ini bisa terjadi? Setahu Lara Vino tidak pernah gegabah saat mengemudi. Apa mungkin ada sesuatu yang membuatnya tidak fokus saat itu?"
tanya Lara mulai memancing.
Ia teringat dengan Dinda yang berada di luar sambil menangis, dan tak berani masuk. Lara dapat memperkirakan pasti ada sesuatu hal yang terjadi antara Dinda dan Vino.
Nyonya Aditya mengernyitkan keningnya seperti sedang berpikir lalu ia berkata,
"Tapi sepertinya Vino kecelakaan sendiri, tidak ada yang menyalip atau menabraknya. Polisi mengatakan Vino menabrak tiang listrik yang ada di tikungan, karena ia tidak sempat berbelok"
"Kejadian kecelakaan nya belum tengah malam, tidak mungkin Vino mengantuk sampai tidak lihat belokan. Apa mungkin Vino sedang ada masalah, sehingga pikirannya tidak bisa fokus saat menyetir?" tanya Lara terus memancing.
"Masalah? Tante tidak tau, mungkin saja begitu," jawab Nyonya Aditya sambil mengerutkan keningnya.
Lalu ia menoleh ke arah suaminya yang sedari tadi diam.
"Apa ada masalah di perusahaan Pa?" tanya nya.
"Sepertinya tidak, soalnya kalau ada masalah di perusahaan pasti Papa juga akan tau," jawab Aditya.
"Orang yang seharusnya tahu masalah Vino sekarang adalah Dinda, Tante. Karena dia istrinya Vino. Tapi dia malah tidak ada disini," ujar Lara mulai melancarkan aksinya.
"Oh iya, kenapa Dinda belum datang ya? Apa terjadi sesuatu sama Dinda?" ujar Nyoy Aditya dengan wajah cemas.
"Coba Mama telepon lagi," kata Aditya.
"Iya Pa, mama coba telepon lagi," kata Nyonya Aditya sambil mengambil ponselnya.
Sementara Lara yang berencana untuk menjelekkan Dinda karena tidak datang untuk menjenguk suaminya, malah merasa terjebak sendiri dengan rencananya.
"Tunggu Tante, biar Lara aja yang menghubungi Dinda. Lara juga mempunyai nomor ponsel Dinda," potong Lara cepat, ia tidak mau orang tua Vino sampai tahu kalau Dinda sudah datang dan berada di luar ruangan itu.
Nyonya Aditya menoleh kearah Lara.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu," katanya sambil menyimpan kembali ponselnya.
"Lara teleponnya di luar aja ya Tan, biar nggak mengganggu Vino," ujar Lara sambil berjalan keluar.
Nyonya Aditya menganggukkan kepalanya dan kembali menatap Vino yang belum sadarkan diri.
Sesampainya di luar, Lara langsung berjalan mendekati Dinda yang sedang duduk di kursi pengunjung.
Lalu dengan cepat dia menarik tangan Dinda dengan kasar.
Sontak Dinda menjadi terkejut dan terpaksa bangun, karena tangannya terus ditarik oleh Lara.
"Ada apa ini Mbak? Kenapa Mbak tarik tangan saya?" tanya Dinda bingung sambil menarik kembali tangannya.
Namun Lara tidak menjawabnya, dia malah terus menarik Dinda menjauh dari ruangan Vino sampai ke lorong yang lainnya.
Sementara di ujung lorong itu terlihat Agus yang sedang lewat. Ia baru saja dari toilet. Dan langkahnya langsung terhenti, melihat menantu majikannya ada di sana. Setelah dilihatnya ternyata Lara yang sedang bersama Dinda, ia kembali melangkahkan kakinya menuju keluar rumah sakit. Dan seperti biasa, ia menunggu majikannya di mobil.
Lara kemudian berbalik menghadap Dinda sambil menghempaskan tangan Dinda kasar.
"Aaukh!!" teriak Dinda kesakitan, dia meringis sambil mengusap-usap pergelangan tangannya.
"Ada apa ini Mbak? Kenapa Mbak narik saya begini?" tanya Dinda kembali .
Lara berdiri dengan dagu yang diangkat dan tangan dilipat didepan dada. Ia menatap Dinda sinis.
"Apa maksudnya Mbak Lara?" Dinda balik bertanya.
"Aku lihat tadi kamu menangis di depan pintu dan tidak berani masuk, pasti karena kamu merasa bersalah kepada Vino" kata Lara sinis.
Dinda memalingkan wajahnya sambil terus mengusap-usap tangannya.
"Ini urusan rumah tangga saya, saya nggak bisa menceritakannya kepada pihak luar," kata Dinda.
"Ternyata benar, kamu memang mempunyai masalah dengan Vino. Baru beberapa hari menikah saja, kamu sudah membuatnya terluka parah begini. Aku memang tidak salah, kamu itu tidak cocok menjadi istrinya Vino!" seru Lara keras.
Dinda hanya terdiam dengan kepala tertunduk. Ia memang merasa telah menjadi penyebab Vino kecelakaan. Karena dia adalah anak dari orang yang telah membuat Vino menderita dari sejak kecil.
"Kalau kamu memang tahu malu, seharusnya kamu tidak masuk menemui Vino, dan pergi dari sini," kata Lara.
Lalu ia kembali tersenyum sinis, dan menatap Dinda dengan tatapan merendahkan, kemudian ia berbalik pergi dan kembali masuk ke ruangan Vino.
Setibanya di dalam, Nyonya Aditya langsung bertanya kepadanya.
"Bagaimana Lara? Apa Dinda sudah berangkat ke sini?"
"Boro-boro berangkat Tan, dari tadi Lara telepon, dia tidak mengangkatnya," kata Lara berbohong.
__ADS_1
Lalu Nyonya Aditya mengambil ponselnya untuk menelpon sopirnya, Agus.
"Agus, tolong kamu periksa Dinda di rumahnya. Saya khawatir, karena dia belum sampai ke sini," kata Nyonya Aditya.
Sementara Agus yang menerima teleponnya terlihat bingung, karena dia tadi sudah melihat menantu majikannya itu di rumah sakit.
"Tapi Nyonya, Mbak Dinda nya sudah di rumah sakit kok, tadi saya lihat Mbak Dinda lagi bersama Mbak Lara," jawab Agus.
Nyonya Aditya terkejut mendengar perkataan Agus, perlahan ia melirik kearah Lara yang sedang berdiri menatap Vino sambil tersenyum.
Lalu sesaat kemudian Nyonya Aditya menutup teleponnya.
Sementara Dinda masih berdiri terpaku di tempatnya. Ia merasa yang dikatakan Lara itu benar, dan ia merasa tidak pantas untuk menjenguk Vino.
Perlahan kakinya berjalan menuju pintu keluar. Namun baru saja dia hendak keluar, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.
"Mbak Dinda! Tunggu dulu!"
Dinda menoleh, dan ia melihat Agus disana sedang berjalan dengan cepat kearah nya.
"Mbak Dinda, Nyonya Aditya menyuruh saya untuk menjemput anda, dia khawatir karena anda belum datang juga" kata Pak Agus.
Dinda terlihat gelagapan sekaligus
bingung, ia tak mungkin lagi pulang karena Pak Agus sudah melihatnya.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk masuk menjenguk Vino, mumpung Vino belum sadar, jadi dia tidak usah takut Vino akan menyuruhnya pergi.
"Oh, baiklah. Saya masuk sekarang," kata Dinda dan berbalik kembali menuju ruangan Vino, diikuti Agus di belakang nya.
Sebelum membuka pintunya, Dinda menarik nafasnya dalam-dalam, dan perlahan ia masuk.
"Assalamualaikum Mama, Papa. Maaf Dinda datang terlambat," kata Dinda dengan kepala tertunduk.
Sementara Lara terkejut melihat kedatangan Dinda.
*Hu*h! Berani juga wanita ini masuk, dia memang tidak tahu malu, batin Lara.
Lara langsung berbalik kearah Dinda dengan tersenyum sinis, ia merasa inilah kesempatannya untuk menjatuhkan Dinda.
"Suamimu kecelakaan begini, tapi baru jam segini kamu sampai untuk menjenguknya," ejek Lara sinis.
Nyonya Aditya menatap Lara dengan tajam. Dan ia merasa harus bicara padanya sekarang.
Bersambung...
Nah pembacaku sekalian.... Enaknya Lara kita kasih hukuman apa ya, biar kapok??? Tulis pendapat kalian di komentar ya...
__ADS_1