Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Ingin Bersamamu


__ADS_3

Vino mengangkat teleponnya. Sementara Dinda beranjak keluar sambil membawa es batu bekas konpresan.


"Ya Ma, ada apa?" tanya Vino.


"Ada apa antara kamu dan Mas kamu Vin?" tanya mama.


Vino kaget mendengar pertanyaan ibunya.


"Bagaimana Mama bisa tau?" tanya Vino.


"Nggakk usah kamu tanya mama tau dari mana. Kamu jawab aja pertanyaan Mama," sahut mamanya marah.


"Kami memang lagi ada masalah Ma" jawab Vino jujur, dia memang gak pernah bisa bohong pada Mamanya.


"Masalah apa sampai kalian berkelahi seperti itu?" tanya sang Mama.


"Masalah perasaan Ma. Mama kan tau Vino nggak pernah menentang Mas Rio dalam masalah apapun. Tapi kali ini Vino nggak bisa Ma. Mama tau kalau Vino belum pernah bisa jatuh cinta pada wanita manapun. Jadi Vino mohon Mama memaklumi," jelas Vino.


Terdengar suara Mama menghela nafas.


"Ya Mama akan maklumi alasanmu. Tapi berkelahi bukanlah jalan keluar yang benar" kata Mamanya bijak.


"Iya Ma, maafin Vino".


"Tapi kamu harus tau nak, carilah wanita yang bisa membimbingmu menjadi orang yang lebih baik dan bahagia. Jangan wanita yang malah membuatmu dalam masalah," nasihat Mama lembut.


"Masalah antara aku dan Mas Rio disebabkan oleh keegoisan aku dan Mas Rio Ma, Dinda hanya korban" jawab Vino.


"Oh jadi namanya Dinda?" tanya Mama.


"Iya Ma, dia orang yang baik dan tulus".


"Iya, tentu saja. Anak-anak Mama yang hebat keduanya menyukai dia, sudah pasti dia wanita yang hebat juga", sahut Mamanya.


"Terimakasih atas pengertian Mama", kata Vino sambil tersenyum dan menutup teleponnya. Dia memang beruntung telah diadopsi oleh Nyonya Aditya.


Sementara Ny.Aditya menutup teleponnya sambil tersenyum pula. Ia lega anak bontotnya telah menemukan labuhan hatinya.


Lara menatap Ny.Aditya dengan rasa tak puas.


"Kenapa Tante membiarkan Vino tetap bersama wanita itu?" protesnya.


Ny.Aditya tersenyum lembut.


"Karena dulu Tante sempat khawatir anak bontot Tante akan kesepian sampai tua.


Sekarang kekhawatiran Tante telah hilang, kenapa Tante harus melarangnya?" katanya.


"Lalu bagaimana dengan Mas Rio? Gimana bisa mereka mencintai wanita yang sama?" tanya Lara masih dengan nada memprotes.


"Rio tidak memiliki trauma terhadap wanita seperti Vino. Lambat-laun mereka akan menemukan jalan keluar nya, Tante hanya bisa membimbing dan memantau mereka dari jauh, karena mereka telah dewasa".


"Tapi itu nggak adil buat Mas Rio, kan Tan?"

__ADS_1


"Tante tau apa yang terbaik untuk mereka. Rio dari dulu selalu menginginkan apa yang menjadi milik Vino. Tante malah takut nanti kalau Rio yang bersama wanita itu, Rio tidak akan bahagia, karena dia tidak menginginkan hubungan itu dari hatinya sendiri," jawab Ny.Aditya.


Lara tidak bisa membantahnya lagi, hatinya begitu kesal. Dia merasa harus mencari cara untuk memisahkan Vino dari Dinda. Kalau tidak semua usahanya agar bisa kembali ke Indonesia akan sia-sia saja.


Ia harus menemui Rio.


Sementara Rio yang baru sadar berteriak sekencang-kencangnya, melepaskan amarah yang meluap di dalam dadanya.


"Aaakkhhh," teriaknya sambil menendang kursi rias yang ada di kamar Dinda.


"Aku nggak akan membiarkan kamu Vin, kamu akan terima akibatnya" geramnya dengan mata yang memerah.


*****


Pagi yang cerah. Dinda sedang membuat sarapan di dapur. Sebagai ibu rumah tangga rasanya ia rindu dengan dapur, apa lagi setelah mengalami beberapa kejadian yang sangat menegangkan.


Tiba-tiba ia merasakan seseorang berdiri di belakangnya, dan pinggangnya di peluk dari belakang.


" Kamu manis banget pakai celemek begini," bisik Vino di telinganya.


Dinda merasa canggung dan berusaha melepaskan pelukan Vino.


"Jangan bergerak-gerak dulu, aku ingin begini sebentar aja, rasanya aku sangat bahagia," kata Vino sambil mengeratkan pelukannya dan tersenyum lebar.


"Kita nggak boleh begini Vin, atau aku akan pindah dari rumahmu," kata Dinda dengan pipi yang mulai merona.


"Kenapa?" tanya Vino.


"Ya karena aku ini masih istri orang" jawab Dinda.


"Baiklah kalau begitu, hari ini kamu gugat cerai Ardi. Aku akan menyiapkan berkasnya," kata Vino.


" Baiklah, aku juga ingin semua berakhir tenang, dan aku bisa kembali pada Arka," sambut Dinda semangat.


Wajah Vino kembali merungut.


"Jadi aku nggak termasuk dalam alasanmu?" tanya Vino.


Dinda menunduk.


"Aku takut menjadi wanita yang jahat. Menceraikan suaminya untuk bersatu dengan laki-laki lain," katanya perlahan.


"Tapi kisahmu berbeda Din. Ardi lah yang telah memperalat kamu, menyelingkuhi kamu dan meninggalkan kamu," jawab Vino.


Dinda mengangkat kepalanya menatap laki-laki tampan yang telah banyak menolongnya itu dan mencoba tersenyum.


"Baiklah, kamulah alasanku ingin meneruskan hidup dengan bahagia" kata Dinda yang membuat Vino merasakan luapan kebahagiaan dalam dadanya.


****


Lara melirik sekilas ponselnya yang sedari tadi berdering dengan malas sambil mengendarai mobilnya pelan.


Suasana hatinya telah memburuk sejak mengetahui laki-laki yang ia nantikan sejak SMU dulu telah melabuhkan hatinya pada wanita lain.

__ADS_1


Dulu Lara selalu bersama Vino. Gayanya persis seperti laki-laki. Sehingga ia disebut cewek tomboy. Tapi sebenarnya dia tidak setomboy itu.


Lara hanya berusaha menjadi tomboy agar bisa selalu bersama Vino. Karena ia tau Vino membenci wanita.


Setelah beberapa kali berdering, akhirnya Lara meraih ponselnya. Lalu ia memakai headset nya.


"Ya halo Kak Ilham, ada informasi apa?" tanya Lara.


"Gini Ra, Dinda itu ternyata sudah bersuami," jawab Ilham di seberang, yang membuat mata Lara melotot.


"Apa? Kak Ilham nggak salah nih?" tanya Lara.


"Nggak Ra, aku udah memastikannya. Dia juga udah punya anak. Tapi sekarang ini suaminya sedang jadi buronan polisi," jelas Ilham.


Lara semakin terperangah mendengar penjelasan Ilham.


"Baiklah, terimakasih Kak" katanya sambil menutup teleponnya.


Bagaimana bisa Vino menyukai wanita dengan latar belakang seperti itu. Dia bahkan sudah punya anak dan suami yang seorang buronan, pikirnya.


"Aku nggak bisa membiarkan ini. Mama Vino pasti nggak akan tinggal diam lagi kalau aku memberi tau identitas wanita pilihan anaknya. Tapi sekarang aku harus bertemu Mas Rio dulu untuk menggali informasi lain tentang wanita itu," gumamnya.


Kemudian dia langsung menekan gas sehingga mobilnya melaju dengan kencang.


Sesampainya di rumah Rio. Lara sudah tidak melihat lagi ada penjaga di pintu rumah itu. Ia tidak langsung masuk, karena melihat Rio sedang menelfon seseorang.


Lara berdiri di depan pintu menunggu Rio selesai menelepon.


Setelah menelepon, tampak wajah Rio berubah marah.


"Ada apa Mas?" tanya Lara tanpa basa-basi.


"Lara? sejak kapan kamu berada di sana? Kenapa nggak masuk?" tanya Rio


"Baru aja Mas, aku penasaran dengan masalah kalian makanya aku kemari," jawab Lara.


"Tentu aja kamu penasaran, karena kamu menyukai Vino," kata Rio sambil tersenyum dan mempersilahkan Lara duduk.


Lara tersenyum lirih.


"Ternyata cuma Vino yang nggak tau perasaanku," katanya. Lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Bagaimana bisa kalian mencintai wanita yang sudah menikah?" sambungnya.


"Karena perasaan tidak dapat diprediksi dan dikendalikan mungkin. Sama seperti kamu, udah tau Vino benci wanita, tapi masih menyukainya juga kan?" kata Rio.


"Barusan aku mendapat informasi bahwa hari ini dia akan menceraikan suaminya. Tapi aku nggak akan membiarkannya"


"Lho kenapa? Bukannya malah menguntungkan Mas Rio?" tanya Lara heran.


"Iya sih, tapi justru hanya dengan begitu Vino tidak akan bisa bersama Dinda. Sampai aku yang bisa memilikinya, barulah aku membiarkan dia bercerai."


"Tapi bagaimana caranya Mas? Aku dengar suaminya seorang buronan, jadi pasti permohonan perceraiannya akan berhasil," kata Lara.

__ADS_1


"Sangat mudah bagiku, karena suaminya ada di tanganku," jawab Rio dengan seringaian liciknya.


__ADS_2