
Vino langsung menuruni tangga dengan cepat. Hatinya merasa panas melihat Dinda berada di dalam gendongan Rio. Begitu ia sampai ke bawah, Rio telah meletakkan istrinya di sofa.
Vino menghampiri Rio, dan menarik tangannya dengan kuat. Lalu ia mendorong tubuh Rio agar menjauh dari Dinda.
"Beraninya kamu menyentuh istriku Mas Rio!" teriaknya marah.
Rio yang merasa tidak bersalah pun tidak mau menerima diperlakukan seperti itu. Ia balas mendorong Vino.
"Kamu itu memang anak pungut yang gak tau diri ya! Kamu itu cuma benalu dalam keluarga ini tau! Berani sekali kau mendorong ku!" teriak Rio tak kalah marahnya. Kemarahan dan kebenciannya terhadap Vino, ia tumpahkan dalam caciannya.
Sementara Vino merasa semakin marah karena Rio menghinanya di depan Dinda. Tanpa basa-basi ia bergerak maju hendak memukul Rio.
Namun suara teriakan Nyonya Aditya membuat langkahnya terhenti.
"Berhenti! Sudah cukup! Kenapa kamu kekanak-kanakan sekali Vino?" seru Nyonya Aditya marah.
Vino menatap Mamanya dengan perasaan kecewa, karena ia merasa Mamanya malah membela Rio yang telah menyentuh istrinya.
Namun karena ia tak pernah membantah ibunya, dengan terpaksa ia pun mundur perlahan.
"Apa kamu tidak bisa melihat dan berpikir dengan akal sehat kenapa Rio menggendong Dinda?"
Fino baru tersadar dan mengingat Dinda. Ia langsung membalikkan badannya, dan melihat Dinda yang terbaring di sofa dengan raut wajah yang yang sedang menahan sakit, dan lutut yang mengeluarkan darah.
Rasa penyesalan Vino langsung timbul, karena ia tidak bisa mendahulukan hal yang lebih penting.
Rasa cemburu telah menghilangkan akal sehatnya.
Lalu ia langsung berlutut disamping Dinda.
"Kenapa kamu bisa terluka sayang?" tanya Vino lembut sambil membelai rambut istrinya.
"Aku terjatuh saat sedang mengejar Arka" jawab Dinda dengan suara yang lemah.
Sementara Nyonya Aditya telah duduk disamping Dinda dengan kotak obat. Dengan telaten wanita paruh baya itu membersihkan luka Dinda dan membubuhkan obat.
Setelah selesai ia menatap Dinda dengan rasa kasihan.
"Luka kamu udah Mama obati, tapi tetap harus diperiksa oleh dokter. Sebentar lagi dokter pribadi kita akan datang. Mama cuman takut kalo ada keretakan tulang atau hal serius lainnya," kata Nyonya Aditya.
"Huh! kamu itu memang enggak becus! Menjaga istrimu saja kamu tidak bisa" kata Rio sinis.
Vino merasa marah mendengar ejekan Rio. Namun sekarang ia sudah tidak mempedulikannya lagi, karena keadaan Dinda lebih penting.
Sementara Nyonya Aditya langsung memelototi anak sulungnya itu.
"Rio sudah cukup! Kamu datang kemari untuk apa? Selesaikan urusanmu, jangan kamu ikut campur lagi urusan Vino"
Rio yang kena marah Mamanya mendengus kesal dan berbalik pergi. Namun sebelumnya ia sempat melirik Dinda untuk memastikan keadaannya sudah baik-baik saja.
__ADS_1
Tidak lama kemudian seorang dokter yang berusia sekitar empat puluh tahunan masuk dengan tergesa-gesa.
Setelah dipersilahkan oleh Nyonya Aditya, dokter mulai memeriksa lutut Dinda. Sementara Vino terus memperhatikan dengan wajah cemas.
"Apa ada yang serius Dok?" tanya Nyonya Aditya.
"Sepertinya tidak ada, tapi benturan yang keras ini memang menyebabkan rasa sakit yang luar biasa, tapi itu hanya untuk sementara. Sebentar lagi akan membaik," jelas sang Dokter.
Vino Akhirnya bisa bernafas lega.
Ia mengecup kening Dinda perlahan.
"Maafin aku ya sayang, karena aku tidak bisa menjaga kamu" Ujar Vino dengan rasa bersalah.
"Ini bukan salah kamu kok. Masa kamu juga harus jagain aku kalau aku lagi jalan, aku kan bukan anak kecil," kata Dinda sambil berusaha tersenyum.
"Tapi kenyataannya kamu bisa jatuh kayak anak kecil," sanggah Vino dengan senyum menggoda.
"Itu karena aku kalang kabut mengejar Arka aja," jawab Dinda membela diri.
" Ya sudah Vino, kamu angkat Dinda dulu ke kamarnya biar Dinda bisa istirahat!" perintah Nyonya Aditya.
"Baik Ma" jawab Vino.
Perlahan ia mengangkat Dinda dan membawanya ke lantai atas menuju kamarnya.
"Rasanya aku mau sakit terus nih, kalau bisa digendong kayak gini sama kamu" goda Dinda.
"Tanpa sakit pun aku dengan sukarela mau menggendong kamu," jawab Vino sambil tersenyum mendengar godaan istrinya.
Sesampainya di dalam kamar, Vino meletakkan tubuh Dinda di ranjang dengan perlahan. Lalu ia menatap mata Dinda dalam-dalam.
"Kamu pasti kecewa sama aku" ujar Vino.
"Kecewa kenapa?" tanya Dinda.
"Karena sikapku tadi," jawab Vino dengan rasa malu, mengingat sikapnya tadi yang sangat kekanak-kanakan.
"Sedikit," ujar Dinda sambil mengumpamakan ukuran sedikit dengan tangannya.
Vino langsung merasa kuyu mendengar jawaban Dinda. Sehingga Dinda langsung tersenyum untuk menghiburnya.
"Nggak apa-apa kok, kamu begitu kan karena kamu cemburu," ujar Dinda.
"Iya, aku cemburu. Aku tidak mau kamu didekati oleh siapapun dan lelaki manapun, termasuk Rio," katanya dengan raut wajah yang kembali emosi, saat terbayang kembali ketika Rio menggendong Dinda.
"Ih kamu, kok posesif gitu?"
"Kan gak apa-apa kalo posesif sama istri sendiri," kata Vino membela diri.
__ADS_1
Dinda hanya bisa tersenyum, melihat wajah tampan didepannya bersungut seperti anak kecil.
Lalu laki-laki yang pernah menjadi idaman setiap wanita itu perlahan membaringkan tubuhnya di samping Dinda.
"Din..." panggil Vino sambil memainkan rambut Dinda.
"Ya.." jawab Dinda.
"Aku jadi berpikir tentang tempat tinggal kita"
"Memangnya kenapa?"
"Sepertinya aku lebih setuju kalau kita tinggal di rumah kamu aja, atau kalau kamu mau, kita beli rumah lain juga boleh. Tapi aku nggak mau kita tinggal di sini"
"Apa karena mas Rio?" tanya Dinda.
Vino menganggukkan kepalanya.
"Terus gimana sama Mama?"
"Kita bisa jenguk Mama setiap akhir pekan," jawab Vino.
"Tapi aku kasihan sama mama, dia pasti akan merasa lebih kesepian. Karena beberapa hari ini, dia sudah merasa dekat dengan Arka," jawab Dinda.
"Tapi aku nggak mau kita jadi sering ketemu sama Mas Rio"
Dinda pun akhirnya terdiam. Ia juga tidak tahu harus memutuskan apa. Ia sama sekali tidak enak nanti jika harus menolak kepada Mamanya Vino.
Namun pikirannya langsung buyar saat merasakan tangan Vino yang mulai menjalar di bahunya.
"Vin, kamu mau ngapain?" tanya Dinda sambil menangkap tangan Vino.
"Hmm... nggak tau nih, tangan ku bergerak sendiri," jawab Vino asal.
"Ih kamu, aku kan lagi sakit"
"Lho, aku kan gak ngajak kamu ngapa ngapain. Kamu aja yang mikir begitu," kata Vino berkilah.
"Terus kenapa tangan kamu makin turun?" tanya Dinda sambil menangkap tangan Vino.
"Aku cuma mau meriksa, apa ada bagian lain yang sakit?" ujar Vino dengan tangan yang berpura-pura membelai lengan Dinda.
"Ngeles ah kamu, "
Ia menoleh kearah Vino, sehingga wajah mereka berhadapan. Ia melihat wajah Vino yang juga tengah menatap nya penuh kasih sayang. Wajah tampan yang dari dulu menjadi impian setiap siswi di sekolahnya, kini sedang menatapnya dengan penuh cinta. Dan perlahan bibir Vino bergerak untuk mengucapkan sesuatu.
"Aku mencintaimu Dinda"
Bersambung...
__ADS_1