
Saat makan malam suasana tampak sangat hening. Alga dan Almira sama-sama tidak membuka suaranya masing-masing. Hanya ada suara berisik dari garpu dan sendok yang beradu.
Alga sesekali mencoba melirik Almira yang tenang dan fokus saat makan. Tiba-tiba ia kembali teringat dengan panggilan telepon yang diterimanya tadi sore.
Dua hari lagi aku pastikan kau akan merayakan hari kematian orang yang kau sayang. Kalimat itulah yang membuat pikiran Alga kini menjadi tidak tenang.
Apa aku harus memberitahu Almira soal telepon tadi atau tidak perlu. Batin Alga bimbang dengan keputusannya.
"Almira." Panggil Alga santai.
"Iya." Sahutnya.
"Sudah selesai?" Tanya Alga tanpa melihat piring makan Almira.
"Sedikit lagi." Jawabnya tanpa terbebani.
Alga mengangguk mengerti.
Setelah sudah selesai makan. Almira ditawari kue bolu kukus coklat oleh salah satu pelayan di rumah itu. Almira tanpa rasa malu ataupun gengsi menjawabnya mau. Alga hanya menggelengkan kepalanya.
"Nona tunggu di ruang keluarga saja sambil menonton televisi nanti saya bawakan kuenya." Ucap pelayan itu.
"Oh iya oke. Terima kasih." Jawab Almira sopan dan ramah.
__ADS_1
"Apa Tuan muda juga mau?" Tanya pelayan itu yang beralih kepada Alga.
"Hemm." Jawabnya singkat.
"Baik nona dan tuan saya tinggal dahulu ke dapur." Ucap pelayan itu sambil meninggalkan Alga dan Almira.
Alga dan Almira duduk di sofa panjang dan empuk yang ada di ruang keluarga. Alga menonton televisi tapi tidak benar-benar sedang menontonnya. Hanya mengganti-ganti chanel saja.
"Apa tidak ada kerjaan selain memainkan remot televisi?!" Tanya Almira geram dengan tingkah Alga.
Alga diam tidak menjawab. Sepertinya Alga tidak mendengar dengan jelas ucapan Almira karena pikirannya sedang melayang entah kemana.
"Alga!" Panggil Almira dengan suara keras.
Almira yang jiwa jahilnya seketika bangkit. Ia mengambil bantal sofa yang ada di sebelahnya. Lalu, mendekat ke arah Alga mengarahkan bantal itu ke wajah Alga.
Almira dengan gerak cepat langsung menekan wajah Alga dengan bantal sekencang mungkin. Alga tentu saja kaget dengan perlakuan yang diterimanya.
Ia memegang kedua lengan tangan yang sedang menahan bantal pada wajahnya tanpa melihat. Lalu, mendorongnya ke samping.
Almira pun kaget yang kini posisi mereka menjadi terlihat aneh. Almira berada di bawah Alga yang berada di atas yang sedang mengukungnya. Alga memberi tatapan yang sulit dimengerti dan juga senyuman yang nakal.
"Ingin bermain?" Ajak Alga sambil membelai wajah Almira.
__ADS_1
Bugh!
Almira dengan reflek langsung memukul perut Alga yang berada di hadapannya. Alga yang memang tenaganya kuat tidak berpindah hanya sedikit gerakan saja.
"Berani-beraninya memukulku!" Ucap Alga geram. Dengan cepat ia langsung meraih tengkuk Almira dan menahannya. Mengarahkan bibirnya untuk menempel ke bibir Almira.
Plak!
Almira kembali melayangkan tangannya ke pipi Alga sekencang mungkin. Alga pun menghentikan aksinya dan menyentuh pipinya yang ditampar.
"Ternyata mulai berani ya sekarang." Alga menyeringai licik sambil berdiri merapikan bajunya dan duduk kembali di sofa sebelah Almira.
"Makanya jangan macam-macam denganku." Ucap Almira dengan santai.
"Jangan berani-beraninya juga mengambil kesempatan dalam kesempitan." Ucap Almira lagi penuh dengan penekanan.
Walaupun aku juga sebenarnya takut menampar anak dari atasan ayahku sendiri. Batin Almira yang merutuki perbuatannya tadi.
Seketika satu ruang keluarga menjadi hening. Salah satu pelayan yang tadi pun membawa satu piring besar beberapa potongan kue bolu kukus coklat yang menggoda iman.
Dzzrt…, Dzzrt…,
Suara deringan panggilan dari ponsel Alga yang berada di atas meja depan sofa. Alga melihat ponselnya lalu berganti menatap Almira yang juga tengah melihat Alga dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
Bersambung.