
"Kau ingin bicara apa tadi?" Tanya Alga beralih kepada Devan lagi.
"Apa ya, lupa." Devan menggaruk-garuk rambutnya.
"Alga, boleh tidak kalau aku meminta…" Alga mengatakan apa yang tadi terputus oleh Devan dengan sama persis.
"Wah, daya ingat kau bagus sekali." Devan memuji Alga. Alga hanya diam menunggu. Sepertinya wajah dan hatinya berbeda jauh. Hatinya sedang rapuh. Sedangkan, wajahnya dipasang menjadi dingin.
"Bagaimana kalau aku meminta bantuan papa ku untuk membantumu? Mungkin dia bisa membantu. Ayahmu juga kan selalu baik dan saling membantu dengan keluargaku." Devan memberi saran.
"Tidak. Saat ini aku tidak bisa mempercayai siapapun. Bahkan Saudara Gautama lainnya." Ucap Alga menolak secara tegas.
"Apakah kau serius bisa menangani ini semua seorang diri?" Tanya Devan mengernyitkan dahinya merasa tidak yakin.
"Hemm…, aku hanya butuh orang terdekat yang bisa aku percaya. Saat ini hanya ada kalian dan para pekerja setia Gautama." Jawab Alga yakin.
__ADS_1
"Baiklah. Aku mendukungmu."
Alga ingin melihat satu video lagi yang belum dibuka olehnya. Dia kembali membuka laptop yang ada di atas meja kerjanya. Mencoba memasukkan kembali dvd yang tersimpan dalam laci meja kerja itu.
Lalu, Alga mengotak-atik laptopnya untuk membuka file dari video tersebut. Devan memperhatikan setiap gerakan Alga.
Devan dapat menangkap maksud dari gerakan Alga. Pasti Alga ingin melihat video yang satunya lagi kan. Di sisi lain Devan melihat Alga seperti seorang dewasa yang sudah bisa mengatur diri sendiri dan berbagai macam masalah tidak dengan gegabah.
Bahkan, Alga bisa mengatur emosinya. Mau itu sedih, senang, bahagia dan marah sekalipun. Devan cukup kagum dengan Alga.
Dan juga yang paling penting Alga bisa menutupi rasa kecewa terhadap pamannya. Serta rasa sedih yang amat dalam atas kepergian ayahnya tentunya.
Kini mereka berdua sedang menonton video yang satu lagi. Di dalam layar laptop terlihat sebuah ruangan gelap yang terdapat satu kursi di tengahnya. Satu menit ditunggu masih kosong juga. Belum ada tanda-tanda apa maksud dari video kedua ini.
"Apa isinya cuma hal membosankan begini saja? Tidak ada apa-apa." Ucap Devan yang mulai bosan namun ada rasa takut juga menunggu apa yang berada di detik-detik selanjutnya.
__ADS_1
"Tunggu saja jangan banyak bicara." Jawab Alga yang sebenarnya bosan namun penasaran.
Dua menit berlalu. Mereka merasa video kedua ini tidak ada apa-apanya. Hanya video yang menampilkan suasana ruangan gelap saja.
"Apa cepatkan saja?" Tanya Alga kepada Devan.
"Iya lebih baik begitu." Jawab Devan berpikiran yang sama.
Alga pun menyentuh laptopnya. Namun, belum sempat di cepatkan beberapa detik ke depan. Seseorang yang berpenampilan hitam masuk ke dalam layar.
Orang yang berpakaian sama dengan orang yang ada di video satu lagi. Ya, video pertama yang sudah pernah Alga lihat sebelumnya. Bahkan, sebelum Ayah Gautama dan tangan kanannya meninggal.
"Tunggu Alga. Dia sudah masuk itu." Ucap Devan. Alga pun menarik tangannya lagi.
Mereka berdua menonton video itu. Awalnya orang berpakaian hitam itu duduk di kursi yang ada di tengah ruangan itu. Namun, beberapa detik kemudian. Orang itu berdiri lagi memutar kursinya membelakangi kamera. Lalu, duduk kembali.
__ADS_1
"Alga, keraskan volume suaranya. Aku mendengar dia berbicara." Devan memberitahu Alga karena ia mendengar suara orang itu yang tengah berbicara dengan tubuh membelakangi kamera.
Bersambung.