Love "A" Double

Love "A" Double
Bangun Pagi


__ADS_3

Pagi hari yang cerah hadir kembali. Tirai jendela ruang keluarga terbuka lebar. Cahaya matahari yang bersinar pun mampu menusuk wajah yang tak tertutupi oleh selimut. Keempat orang yang berada di ruang keluarga itu tampak sangat kelelahan setelah bermain video game semalam sampai larut. 


Alga dan Devan tidur di lantai beralaskan selimut ditambah bantal dan guling yang diambil dari kamar. Almira dan Danisa tidur di atas sofa di tutupi oleh selimut. Dengan penyangga kepala menggunakan bantal sofa. 


"Cih, belum pada bangun." Gumam Alga saat sudah mengangkat tubuhnya. Duduk dengan tubuhnya yang terasa lemas dan sakit semua. 


"Ah, semalam membuat tubuhku sakit." Gumam Alga lagi sambil meregangkan tubuhnya. 


Sepuluh menit Alga mencoba menenangkan pikirannya sambil mengumpulkan nyawanya. Bangun dari duduknya. Beranjak pergi ke kamar miliknya. Masuk ke kamar mandi. Untuk membersihkan diri. Namun, Alga sempatkan untuk berendam air hangat terlebih dahulu. Sebelum memulai hari yang panjang lagi. 


Devan menjadi yang kedua untuk bangun pagi hari ini. Karena terpaan cahaya sinar matahari. Membuatnya bangun. Melihat ke sampingnya. Sudah tidak ada Alga. Melihat ke arah sofa. Masih ada dua wanita lagi yang belum bangun. Niat jahilnya muncul. 

__ADS_1


Devan mengambil guling yang ada di bawah. Siap untuk memukul kedua wanita itu dengan guling agar bangun. Pastinya tidak akan sakit hanya akan terganggu saja. Baru saja akan memukulnya. Gulingnya sudah diambil oleh Alga dengan cepat.


"Kenapa kau mengambilnya? Aku ingin membuat kedua wanita ini bangun. Kan lucu kalau di jahilin dulu." Ucap Devan sambil mencoba mengambil gulingnya lagi dari tangan Alga. Alga tidak memberikannya melainkan melemparnya jauh. 


"Kau itu masih waras kan Devan! Kasihan mereka pasti kelelahan. Kita sebagai laki mana mungkin merasa lelah hanya karena bermain game." Ungkap Alga sambil membenarkan selimut yang dipakai kedua wanita itu. Almira dan Danisa. Oh, sweet banget. 


"Oh iya? Bukannya semalam kau bilang kalau kau sudah lelah bermain jadinya kau tidur lebih dulu." Devan yang mencoba mengingatkan Alga. Kalau Alga lupa dengan kejadian semalam. 


"Kau itu sudah berubah ya Alga. Walaupun kadang-kadang sifat menyebalkanmu itu masih ada." Ucap Devan sedikit kesal namun masih bisa ditahan. 


"Ya, apa katamu sajalah." Alga tidak ingin berdebat. Berjalan pergi meninggalkan Devan yang masih diam ke ruang makan untuk sarapan. Sedangkan, Devan menuju ruang kamarnya yang digunakan untuk menginap di rumah Alga. Karena, ingin membersihkan dirinya. 

__ADS_1


Di sela-sela makannya. Alga tampak berpikir. Bagaimana caranya mengisi liburan sekolah mereka sebelum hari kelulusan. Apa harus sampai menyusun jadwal. Bukan artis ataupun penyanyi atau presiden direktur yang harus punya jadwal. Memangnya siapa aku yang perusahaannya saja masih di pegang orang tua. Begitu pikir Alga sambil meneruskan makannya lagi. 


Alga meminta pelayan untuk mengantarkan sarapan untuk tiga orang ke ruang keluarga. Alga juga ikut kembali ke ruang keluarga. 


Menunggu Almira dan Danisa bangun rasanya membosankan. Devan baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah. Alga yang melihat rambut Devan. Langsung muncul ide jahilnya. 


"Devan." Panggil Alga santai. Sambil menarik tangan Devan mendekat dan memegang kepala Devan membawanya ke wajah Almira terlebih dahulu. Menyuruh Devan mengibaskan rambutnya supaya airnya mengenai wajah Almira. Begitu juga dengan Danisa. 


"Apa ini?" Gumam lirih dari Almira yang tidurnya terganggu karena ada cipratan air. 


"Ganggu saja deh." Kesal Danisa yang sudah duduk di sofa. 

__ADS_1


Bersambung. 


__ADS_2