
Setelah selesai berkeliling dan tidak ada yang dibeli lagi. Barulah mereka membayar belanjaan mereka. Sistem di negara asal dengan di negara ini tentunya berbeda.
Di negara yang menjadi tempat singgah Alga dan Almira ini. Mereka membayar sendiri tentunya ya. Tapi, melakukan scan barcode setiap produknya itu juga sendiri.
Mereka juga memasukkan semua barang mereka sendiri ke dalam paper bag. Jadi, yang melakukan bukan orang lain.
Setelah selesai. Alga dan Almira saling membantu membawakan barang belanjaan mereka. Mereka tidak membawa pengawal bersama mereka. Karena, dipikirnya negara ini akan aman untuk sedikit bebas dari segala pantauan pengawal.
Jadi, bisa sedikit lebih leluasa saat sedang diluar. Mereka menaruh barang belanjaan mereka di beberapa di bagasi dan di dalam mobil bersama mereka.
Sopirnya pun ikut membantu menaruh barang-barangnya. Setelah semuanya sudah masuk. Barulah mereka masuk ke dalam mobil dan melaju pulang ke rumah besar Gautama.
Di dalam mereka sama-sama diam. Almira sibuk dengan ponselnya mencari cara untuk membuat ayam bakar khas negara ini yang enak. Alga sibuk mengerjakan pekerjaannya melalui ponsel miliknya. Sesampainya di rumah.
Beberapa pelayan rumah membantu mereka membawakan barang belanjaan mereka untuk dibawa masuk ke dalam dan menaruhnya di dapur. Almira pun langsung pergi ke dapur.
Sedangkan, Alga sambil menunggu waktu makan malam. Dia memutuskan untuk pergi ke ruang kerja. Sebelum memasak Almira melepas blazernya dan menggantungnya di kursi meja makan.
__ADS_1
"Permisi nona muda, biarkan saya membantu nona memasak untuk malam ini." Pintanya salah satu pelayan di rumah dengan sopan.
"Terima kasih. Tapi, tidak perlu. Aku sudah membaca resep di internet. Jadi, aku ingin mencobanya sendiri." Jawab Almira merasa tidak enak.
"Tidak apa nona, biarkan saya membantu ya." Ucapnya lagi.
"Baiklah, ayo kita masak sekarang." Semangat Almira.
"Baik nona." Ucapnya.
Almira dan beberapa pelayan pun memasak makan malam untuk Alga dan Almira sendiri. Almira yang terbilang masih muda. Dia cukup pintar dalam memasak.
Sebelum mematikan laptopnya dia ingin melihat berita tentang Gautama Group yang sudah diperintahkan untuk membuat berita bahwa perusahaan itu sudah bangkrut.
Kerja bagus. Berita ini sudah berada di halaman trending. Tidak lama lagi akan mencakup pemberitaan global. Aku merasa akan cukup aman jika aku bertahun-tahun disini untuk memperluas jaringan perusahaan. Saat waktu yang tepat. Aku akan menangkapnya dengan segala kekuatan dan kekuasaan ku.
Dzzrt…, Dzzrt…,
__ADS_1
Suara deringan ponsel Alga yang ada di dalam saku jasnya. Alga pun mengambilnya dan melihat siapa yang menelepon.
Orang suruhanku. Apa dia menemukan bukti.
"Hallo, tuan muda?" Sahut orang di seberang sana.
"Iya ada apa? Apa kau menemukan bukti?" Tanya Alga langsung to the point.
"Tidak tuan. Jika, ingin membuat paman tuan muda masuk penjara sepertinya akan sulit. Karena, bukti kuat tidak ada." Ucapnya.
"Tidak ada? Bagaimana bisa menjadi sulit? Apa maksudmu?" Sahut Alga sedikit kesal. Karena, harapan menjerumuskan pamannya ke penjara menjadi tertunda.
"Maaf tuan, namun bukti kuat memang tidak ada. karena,..." Sudah dipotong oleh Alga.
"Kenapa bisa, hah?!" Teriak Alga marah.
"Maaf tuan muda, karena…" Orang diseberang sana dipotong lagi ucapannya.
__ADS_1
"Kau tahu kan saat ini hidup ku dan Almira sedang terancam." Jelas Alga marah.
Bersambung.