Love "A" Double

Love "A" Double
Manusia Tak Punya Hati


__ADS_3

Pagi harinya Alga dan Almira sarapan bersama di ruang makan hanya berdua. Sarapan kali ini juga akan menjadi yang pertama setelah mereka tinggal di satu atap. Walaupun hanya sementara. Setelah Tuan Besar Gautama dan Pak Wisnu kembali mereka juga akan kembali tinggal dirumah masing-masing. 


"Apa kamu sudah menghubungi ayahmu?" Alga bertanya sambil menatap Almira serius di sela-sela makannya. 


"Iya, tapi tidak aktif nomornya." 


"Sudah berapa kali?" 


"Sepertinya lebih dari sepuluh kali aku mencobanya." 


Alga kembali terdiam. Memikirkan apa yang bisa saja terjadi kepada mereka berdua. Orang yang tidak dikenalnya kemarin pun tidak lagi mencoba untuk menghubunginya. Berarti masalah tidak lagi diperpanjang kan. Dia juga sudah tidak menagih saham yang dia inginkan. Pikir Alga. 


"Bagaimana dengan ayahmu?" Almira yang memecahkan keheningan. 


"Sama." 


Ya, satu kata. Tidak apa sudah cukup jelas bahkan sangat jelas. 


"Kenapa mereka berdua sangat sulit untuk dihubungi?" Almira menaruh sendok dan garpunya dan menundukkan kepalanya menjadi lesu. 


"Kamu kenapa?" Alga memperhatikan perubahan Almira. 

__ADS_1


"Aku hanya merasa rindu dengan ayahku. Tidak biasanya dia tidak mengangkat telepon ku saat sedang berpergian jauh." Almira dengan suara lirihnya. 


Astaga, kenapa dia jadi lemah seperti ini. Apa kabarku yang harus menjaga wanita lemah ini. Alga menghela nafasnya. 


"Ternyata Almira yang kuat dan berani hanya akting saja. Sebenarnya, Almira itu mudah rapuh dan lemah." Alga mengejeknya sengaja. 


"Apa?! Tidak. Aku tidak seperti itu. Enak saja." Seketika Almira tersadar dan bangkit. 


Memangnya kamu kira aku ini manusia tak punya hati apa. Aku juga punya hati. Apalagi aku ini wanita. Ya, wanita yang lemah lembut. Batin Almira kesal sambil melanjutkan makannya lagi dengan kesal. 


Bagus, tunjukkan saja sifatmu yang seperti itu. Supaya bebanku tidak bertambah hanya untuk menjagamu. 


Selesai makan mereka kembali ke kamar masing-masing. Alga di kamar kembali dengan wajah cemasnya. Cemas akan keberadaan ayahnya sekarang, keadaan ayahnya sekarang dan juga orang tidak jelas yang menghubunginya kemarin. 


Lakukanlah sebelum rasa penyesalan datang. Karena, penyesalan datang di akhir. 


"Apa ini? Buku macam apa yang kubeli kemarin." Alga yang berbicara pada dirinya sendiri. 


Melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh lebih baik daripada terpaksa jika itu pun gagal,  tidak masalah artinya masih memiliki celah kesuksesan yang sedang menanti. 


"Cih! Buku ini semakin membuatku kesal." 

__ADS_1


Tok!, Tok!, Tok!. 


Suara pintu ruang perpustakaan diketuk. 


Alga menoleh ke arah sumber suara. 


"Tuan muda. Nona Almira ingin pergi sebentar ke rumahnya. Apakah tidak apa?" Teriak pelayan yang sudah tidak muda lagi dari luar ruangan. 


Mau apa dia kembali ke rumahnya lagi? Apa ada barang yang tertinggal. 


Alga keluar ruang perpustakaan dengan tergesa-gesa. Membuka pintu dan melihat pelayan yang tadi memanggilnya. 


"Bilang kepadanya tunggu aku." Ucap Alga dan langsung berlari ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi. 


Di ruang tamu Almira sedang duduk menunggu pelayan yang tadi ia sempat meminta tolong kepadanya. 


"Bagaimana apa aku boleh pergi ke rumahku sebentar?" Tanya Almira kepada pelayan itu sambil berdiri dari duduknya. 


"Kata Tuan muda, Nona Almira diminta untuk menunggu Tuan Muda." Jelasnya. 


Menunggunya, untuk apa. Apa dia ingin ikut. 

__ADS_1


"Baiklah, tidak apa. Terima kasih." Ucap Almira sopan duduk kembali. 


Bersambung. 


__ADS_2