Love "A" Double

Love "A" Double
Larangan


__ADS_3

Di satu sisi lain. Di kamar Almira ada Danisa dan juga Devan. Almira sudah tidak menangis hanya saja tidak ingin bicara. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Danisa cuma bisa menenangkan dan memberi air minum. Karena, ia sendiri tidak tahu permasalahannya apa. Devan pun duduk di sofa yang ada di kamar Almira. Mencoba menerawang apa yang sebenarnya bisa terjadi. 


Sampai mereka bertiga tidur di dalam satu kamar yang sama. Almira dan Danisa di atas tempat tidur. Devan di sofa. 


Saat hari sudah pagi. Alga pun langsung terjaga saat sinar matahari menembus tirai ruang kerja ayahnya. Alga keluar dari ruang kerja ayahnya. Tergesa-gesa. Menghampiri sopirnya yang biasa mengemudikan mobil untuknya. 


Ia melihat sopirnya sedang berkumpul dengan para penjaga lainnya di dekat pos penjaga rumah halaman depan. Alga pun mendekat. Berdehem keras saat mereka semua tidak menyadari akan kehadirannya.


"Maaf tuan muda. Kami tidak melihat tuan muda datang. Apa ada yang tuan muda perlukan?" Tanya salah satu penjaga rumah yang langsung menoleh.


"Apa tuan muda ingin pergi keluar, saya siap mengantarkan tuan muda." Ucap sopirnya yang sudah siap.


"Antar aku ke rumah paman." Perintah Alga. 


Sopir itu tampak diam saja. Seperti ingin mengatakan sesuatu namun bingung. Penjaga yang lainnya pun saling tatap.

__ADS_1


"Kenapa diam? Siapkan mobil!" Perintah Alga lagi yang membuat sopir itu tampak ragu. 


Alga menyadari keraguan yang tersirat di wajah orang-orang di hadapannya ini. 


"Ada apa?" Alga akhirnya mencoba tetap sabar. Walaupun dirinya tetap merasa harus secepatnya pergi ke rumah paman.


"Ma, maaf tuan. Saya hanya ingin memberi saran. Lebih baik tidak menyangkutpautkan hal ini dengan pamannya tuan muda." Ucap salah satu penjaga rumah itu.


"Kenapa? Dia paman ku kenapa tidak boleh meminta bantuannya." Alga yang tidak suka dengan penuturan penjaga rumahnya.


"Maaf tuan kami hanya menjalankan perintah dari tuan besar sebelum berangkat perjalanan bisnisnya." 


"Tuan besar mengatakan pada kami semua untuk melarang Tuan muda atau siapapun di rumah ini mengatakan kepada Saudara Gautama lainnya atas apa yang terjadi di rumah ini setelah Tuan besar pergi. Termasuk meminta pertolongan apapun pada mereka. Kami juga diminta untuk tetap setia pada Tuan muda apapun yang terjadi." Jelasnya.


"Kenapa seperti itu?" Alga semakin bingung dibuatnya.

__ADS_1


"Kami tidak tahu yang pastinya tuan. Maaf." Mereka semua menunduk.


Alga mengusap wajahnya kasar merasa bingung lagi. Apa yang harus dilakukannya sekarang. Kalau tidak boleh meminta bantuan siapa-siapa.


"Maaf tuan saya ingin mengatakan sesuatu. Satu hari sebelum..." 


Brakk!!! 


Suara kotak berisi benda berat baru saja dilempar dari depan gerbang ke dalam. terjatuh tepat di belakang mereka semua di tempat kosong. 


Alga sudah merasa geram. Dengan cepat Alga lari ke arah gerbang. Membuka gerbang besar rumahnya seorang diri. Dibantu oleh beberapa penjaga juga. Melihat dua orang bermotor dengan pakaian serba hitam yang sudah pergi dan menghilang di ujung jalan. 


Alga langsung meminta beberapa pengawalnya mengejar motor itu menggunakan motor juga. 


"Tuan muda." Panggil penjaga rumah yang mengambil kotak yang dilemparkan itu menaruhnya di meja yang ada di dalam pos penjaga rumah itu.

__ADS_1


Alga menghampiri penjaga itu yang ada di dalam pos. Ia Melihat satu buah kotak. 


Bersambung.


__ADS_2