
Karena, semalam Alga sudah mendapatkan surat wasiat yang ternyata sudah disiapkan dan direncanakan oleh ayahnya sendiri sebelum meninggal.
Alga menjadi pewaris dari keseluruhan harta kekayaan Gautama termasuk perusahaan keluarga. Namun, Alga tidak langsung menerima itu semua kemarin.
Dia menyertakan syaratnya kepada orang yang dipercaya oleh Tuan besar Gautama untuk memberikan surat wasiat kepada Alga. Syarat yang diminta Alga harus dipenuhi dimana matahari sudah terbit di pagi hari.
Dengan begitu Alga menerima wasiat ayahnya yang diberikan kepadanya melewati perantara tersebut.
Saat semua pekerja dan pekerja yang memiliki keluarga sudah berada lengkap di kediaman Gautama. Alga memerintahkan mereka semua masuk dalam mobil.
Sedangkan, Alga dan Almira bersama dua orang pengawal di belakang mereka memperhatikan semua hal yang sedang terjadi di depannya itu. Semua orang mencoba mencari mobil yang kosong untuk mereka tumpangi.
"Almira, kamu tahukan harus bersikap seperti apa. Kamu harus memposisikan dirimu setegar mungkin. Lupakan sejenak apa yang sudah terjadi sebelumnya. Sekarang, lihat kedepan. Kamu mengerti?" Alga menasehati Almira yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Iya, iya. Aku mengerti." Jawab Almira.
"Bagus. Jaga kesehatanmu. Aku akan berada di mobil paling depan dan kamu berada di mobil paling belakang."
"Baik baik, aku paham."
Alga mengacak rambut Almira sambil tersenyum gemas. Dia cukup puas dengan sikap Almira yang saat ini. Berusaha tidak terlihat lemah dan sedih walaupun sebenarnya isi hatinya tidak dapat dibohongi.
Satu persatu mobil keluar dari gerbang rumah utama Keluarga Gautama. Diawali dengan mobil yang berisi mobil Alga. Diakhiri dengan mobil uang berisi Almira.
Saat semua mobil sudah berada di luar rumah. Alga dan penjaga rumah yang biasanya menjaga rumah Gautama turun dari mobil. Mereka berdua menutup gerbang rumah Gautama bersama-sama.
Saat gerbang sudah tertutup. Gerbang itu pun juga di kunci dengan sistem keamanan yang ketat. Sehingga sampai pada waktunya mereka semua kembali. Keadaan rumah masih sama saat dimana mereka semua tinggal.
__ADS_1
Saat sudah selesai, Alga menatap rumah dimana tempat dia dibesarkan sebentar. Rasanya sedikit sedih dan tidak rela harus ditinggalkan dalam kondisi seperti ini.
Namun, tidak ada yang bisa dilakukan lagi disaat keadaan sudah darurat. Alga meneteskan air matanya. Lalu, tersenyum miris.
Begitu banyak kenangan di rumah ini. Aku harap saat aku kembali rumah ini masih berdiri kokoh seperti saat ini. Ayah, maafkan Alga. Alga harus melakukan ini. Tenang saja, Alga tidak akan membiarkan semua yang sudah ayah perjuangan diambil orang begitu saja. Secepatnya Alga akan kembali merawat rumah ini dan mengunjungi ayah lagi. Pak Wisnu aku akan menjaga Almira. Aku berjanji seumur hidupku. Sekarang, aku pergi dulu ya.
Alga buru-buru menghapus air matanya. Lalu, berjalan lagi masuk ke dalam mobil bersama penjaga rumah yang membantunya menutup gerbang rumah.
Semua mobil pun akhirnya jalan sesuai dengan rencana awal dimana mereka semua akan pergi ke bandara.
Sebenarnya saat pagi hari dimana matahari belum terlihat. Alga dan Almira sudah mengunjungi makam kedua ayah mereka dimakamkan. Anggap saja mereka berdua berpamitan sebelum mereka pergi. Jadi, rasa kesedihan dan rindu sudah sedikit terbayarkan.
Bersambung.
__ADS_1