
Alga duduk di tepi tempat tidur. Tepat di sebelah Almira yang sedang terbaring diatas tempat tidur dalam kondisi pingsan. Ia menggenggam tangan Almira begitu erat.
Merasa tangan Almira begitu dingin. Alga selalu menghangatkannya dengan genggaman tangannya. Berharap tersalurkan kehangatan yang ada di dalam dirinya.
Devan datang masuk ke dalam kamar menghampiri Alga. Alga menoleh sedikit ke arah Devan tanpa mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Devan. Devan menghela nafasnya pelan.
"Alga, aku sudah melihat isi dari kedua peti itu." Ucap Devan berucap pelan.
"Hemm. Tunggu aku di luar." Jawab Alga mengalihkan pandangannya kembali ke arah Almira.
"Baiklah." Devan keluar dari kamar menuruti ucapan Alga.
Berat sekali rasanya kalau harus aku yang mengatakan ini. Danisa malah memilih berdiam di dalam kamar ketakutan. Devan.
Alga mengusap pucuk kepala Almira sebentar. Membelai pipinya dengan lembut. Lalu, dia bangkit dari duduknya.
Sudah saatnya aku memperjuangkan dirimu lagi. Tidak peduli penolakan yang akan ku dapat. Tidak peduli kamu menjadi wanita jual mahal. Kamu akan menjadi milikku mulai saat ini. Aku akan menjagamu seumur hidupku. Tapi, umurmu masih dibawah. Huh!
Alga berjalan keluar kamar. Menemui Devan yang menunggunya di depan pintu.
__ADS_1
"Tolong kau minta dua pelayan wanita masuk ke dalam kamar Almira untuk menjaganya selama aku tidak menemaninya." Minta tolong Alga kepada Devan.
"Baiklah, kau bosnya saat ini. Tunggu ya." Devan membantu Alga memanggilkan pelayan. Pergi sebentar meninggalkan Alga.
Alga menunggu sambil membuka sedikit pintu yang memperlihatkan Almira. Almira masih terpejam. Harapan Alga saat ini hanya menginginkan Almira cepat sadar.
"Sudah?" Melihat Devan yang sudah kembali.
"Iya sudah. Itu mereka berdua." Tunjuk Devan kepada dua pelayan wanita yang sedang mengikutinya berjalan di belakang.
"Kalian jaga Almira. Kalau ada apa-apa saya ada di ruang kerja Tuan besar." Perintah Alga kepada kedua pelayan itu.
"Bicarakan di ruang kerja ayahku saja." Ucap Alga beralih kepada Devan lagi. Devan mengangguk paham. Mereka berdua berjalan ke ruang kerja Alga.
"Dimana Danisa?" Tanya Alga sambil tetap berjalan.
"Dia diam ketakutan di dalam kamar." Jawab Devan.
"Apa dia juga ikut melihat isinya denganmu tadi?" Tanya Alga lagi menoleh ke arah Devan. Devan mengangguk. Alga menghela nafasnya.
__ADS_1
"Sepertinya kau tidak perlu memberitahukan apa isinya kepadaku. Karena, pasti akan sama dengan apa yang sedang aku pikirkan sekarang."
"Iya aku rasa kau juga sudah tahu. Tanpa aku beritahu."
Alga dan Devan sudah masuk ke dalam ruang kerja yang biasanya digunakan oleh Ayah Gautama bekerja.
"Kapan hari kelulusan sekolah?" Tanya Alga sambil mendudukkan dirinya di kursi kerja. Devan duduk di hadapannya.
"Tiga hari lagi." Jawab Devan.
"Bantu aku untuk persiapkan pakaian kita berempat untuk hari itu." Pinta tolong Alga kepada Devan.
"Iya aku usahakan. Rasanya sekarang aku malah seperti menjadi orang suruhanmu Alga." Ucap Devan menyadari posisinya sekarang ini. Tidak hanya sebagai sahabat.
"Maaf, saat aku sudah menjadi pengganti posisi ayah. Aku akan membayarmu atas bantuan selama ini." Ucap Alga.
"Tidak, tidak perlu. Aku tidak butuh itu. Aku hanya ingin dalam keadaan apapun kita tetap bersahabat. Kau tenang saja. Kita selalu ada untukmu. Apalagi untuk Almira. Kau dan dia sudah sama-sama tidak memiliki, hemm… , maaf. Kau mengerti kan maksudku." Devan menatap mata Alga seakan tidak bermaksud untuk mengatakan apa-apa.
"Hemm." Jawab Alga paham.
__ADS_1
Bersambung.