Love "A" Double

Love "A" Double
Liburan (Part 11)


__ADS_3

"Kenapa?" Tanya Alga Akhirnya. Satu kata untuk bertanya pikirnya cukup untuk mencari tahu semuanya. 


Almira tetap tidak bergeming sedikitpun. Ia memeluk Alga tambah erat lagi. Seperti takut ditinggalkan. 


"Hei, bocah. Kenapa lagi?" Tanya Alga akhirnya yang kembali bersikap seperti mereka masih sekolah. 


"Apa si. Siapa yang bocah, hah?" Jawab Almira yang kesal namun terbata-bata mengucapkan. 


"Haha…, lagi menangis. Masih bisa saja marah." Ejek Alga. 


Almira pun langsung menghempaskan tubuh Alga. Melepaskan pelukannya. Rasa kesal pun mengelilinginya. 


"Kenapa di lepas? Bukannya kamu merasa nyaman dengan tubuhku." Alga menyeringai licik. 


"Terserah." 


Ah, gagal sudah. Seharusnya kan dia kemakan dengan tangisan dan pelukanku tadi. Harus bagaimana lagi coba aku membuatnya bisa membuatnya bicara tentang apa yang dia rasakan sekarang. Aku yakin sekali ada yang disembunyikan. 


"Sudah, sudah. Memangnya kenapa? Sampai pingsan begitu. Menangis pula." 

__ADS_1


Aku cuma pura-pura tahu. Apa kamu tidak bisa membedakan mana yang pingsan bohongan dan beneran ya. 


"Apa kamu baik-baik saja, Alga?" Tanya Almira melupakan dramanya sudah. Tidak berguna lagi. Begitu pikirnya.


"Sudah kubilang kan. Aku tidak apa-apa." 


Aku pikir kamu akan merasakan kasihan kepadaku. Karena melihatku menangis. Lalu, aku bertanya keadaanmu. Dan kamu akhirnya bercerita kepadaku dengan jujur. Apa isi hatimu. Ternyata rencanaku salah. Ah, salah. 


"Bohong!" Teriak Almira tidak percaya. 


"Kenapa? Untuk apa aku berbohong." Ucap Alga yang pura-pura seperti tidak ada apa-apa. 


"Masa. Tidak ada." 


"Hemm." Menjawab sekenanya. Tidak ingin Almira bertanya lebih dari itu. 


"Kenapa ayahku sama sekali tidak menghubungiku?" Tanya Almira berganti topik dengan raut wajah biasa walaupun sebenarnya penasaran dan sedih juga. 


"Kenapa ya?  Mana ku tahu. Dia kan ayahmu. Bukan ayahku. Apa urusanku." Ucap Alga sedikit kesal. Tapi, sebenarnya ia juga sedang memikirkan kedua orang itu. Ayahnya dan juga ayah Almira. 

__ADS_1


"Serius Alga. Aku ingin tahu." Paksa Almira. 


"Almira, aku sendiri pun tidak tahu ayahku berada dimana. Bagaimana keadaannya. Karena ayahku juga tidak menghubungi ku. Aku hanya berharap dia baik-baik saja. Begitu juga dengan ayahmu. Jadi, cobalah untuk berpikir jernih." Ungkap Alga yang berasal dari hatinya. 


"Hemm…, baiklah. Maaf." Pasrah Almira. 


Almira turun dari tempat tidur. Terlihat seperti orang yang baik-baik saja. Almira berjalan ke arah pintu tanpa berkata sepatah kata apapun lagi. 


"Mau kemana? Bukankah kamu masih lemas?" Alga yang melihat Almira ingin keluar dari kamarnya langsung merasa khawatir. 


"Aku tidak apa-apa. Aku ingin kekamar saja." Almira pun berlalu pergi keluar kamar Alga dan menuju kamarnya. 


Dari mana dia bisa tahu aku sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Aku tahu dia pintar. Tapi, kan bisa bodoh juga. Kenapa dia harus pintar dalam meraba keadaan seseorang. Apa yang harus ku lakukan coba. Apa aku panggil dua serangkai itu saja ya. Untuk datang kemari. Mengajak Almira pergi jalan-jalan. Atau aku dan Almira saja yang pulang. Membiarkan Almira dan dua serangkai itu berjalan-jalan ria. Masa bodoh jika harus menggunakan dan menghabiskan uangku. Yang penting Almira tidak memikirkan diriku. 


Eh, bodoh. Lebih baik aku dan Almira saja yang pulang. Dari pada dua serangkai itu memberantaki villa ku ini. 


Alga pun langsung memberi perintah kepada sopirnya yang juga turut ikut menginap di villanya. Memberitahu bahwa mereka berdua akan kembali ke ibu kota besok pagi. 


Bersambung. 

__ADS_1


__ADS_2