Love "A" Double

Love "A" Double
Video


__ADS_3

Danisa menghela nafasnya saat mendengar Alga begitu mencemaskan Almira kalau sampai Devan melakukan macam-macam padanya. Danisa tentu saja mengerti karena ia tidak sepolos Almira.


"Sudah lah Alga. Almira tidur bersamaku di atas tempat tidurnya. Devan juga menemani kita di dalam kamar. Sekaligus menjaga kita. Dia tidur di sofa. Tenanglah. Dia tidak segila itu. Tapi kau yang gila." Ujar Danisa menimpali. Tahu kemana arah pembicaraan Alga. 


"Oh, bilang dong dari tadi." Alga melepas tangannya dari bahu Almira. Dia beralih menatap Devan lekat. 


"Kau ikut aku ke ruang kerja ayahku." Meminta Devan mengikutinya. 


"Siap bos." Devan yang sudah diperlukan tidak jelas dengan Alga. Masih saja bisa sabar dan bercanda. Berbeda dengan Alga yang mudah tidak bisa berpikir jernih sekarang. Sejak beberapa kejadian aneh menimpanya. 


Devan dan Alga pun meninggalkan Almira Dan Danisa yang masih berdiri di depan pintu kamar. Mereka berdua menuju ruang kerja ayah Gautama atau Tuan Besar Gautama. Alga lupa kalau sebelumnya ia ingin makan di ruang makan gara-gara emosinya terhadap Devan. 


Di ruang kerja ayahnya. Alga duduk di kursi kerja ayahnya. Sedangkan, Devan duduk di kurai yang ada di hadapannya hanya berbataskan oleh meja kerja. 


Alga menyalakan laptop yang ada di hadapannya lalu memiringkannya supaya mereka berdua bisa melihatnya. Mengambil dvd yang ada di atas meja. Lalu, dimasukkan kedalam bagian dvd player yang ada di dalam laptop tersebut. 


"Dvd apa itu?" Tanya Devan penasaran.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu. Makanya aku ingin melihatnya sekarang." Ucap Alga sambil memeriksa apa yang ada di dalam dvd itu. Dia membuka folder file yang ada di dalam dvd itu. 


"Oh, kalau flashdisk itu?" Tunjuk Devan ke sebuah flashdisk yang ada di hadapan mereka. 


"Bukti cctv kejadian beberapa hari ini." Jawab Alga dengan matanya yang tetap fokus dengan laptopnya. Devan mengangguk paham. 


"Kau sudah bilang kepada mereka kalau kita tidak jadi liburan?" Alga bertanya sambil tetap fokus. 


"Iya sudah semalam." Jawab Devan langsung. 


"Bagaimana dengan reaksi mereka?" 


"Baguslah." 


"Tunggu, itu isinya…" Devan melihat Alga menemukan sesuatu. 


"Iya, ada dua video di dalamnya." Alga membuka folder lainnya yang ternyata berisikan dua video berdurasikan lima menit dan tujuh menit. 

__ADS_1


"Coba buka. Aku penasaran. Eh, tapi tunggu…" Devan berdiri dan mengambil bantal kecil yang ada di sofa ruangan kerja itu. 


"Untuk apa bantal itu?" Alga heran melihat Devan menutupi setengah wajah nya dengan bantal kecil sofa yang didekapnya juga. 


"Hanya untuk berjaga-jaga kalau isinya menyeramkan. Jadi, aku bisa menutup mataku dengan bantal ini. Hehe..." Ucap Devan sambil tertawa kecil.


"Dasar anak kecil." Ejek Alga.


"Enak saja. Aku ini lebih tua satu tahun darimu. Aku delapan belas tahun sedangkan dirimu masih tujuh belas tahun. Seharusnya, kau dan Almira itu adik kelas ku. Tapi, kau dan dia terlalu pintar si." 


"Terserah, yang penting aku lebih dewasa darimu." Alga tersenyum kecil setelah membanggakan dirinya. 


"Ingat jangan sombong bos." Devan mengingatkan. 


Alga tidak menanggapi Devan lagi. Cukup mampu untuk mengurangi kadar kesabaran seorang Alga menurutnya. Orang penakut seperti anak kecil yang menyebalkan. Pikirnya. 


Alga tanpa menunggu lama lagi. Ia membuka video pertama yang berdurasi lima menit. Alga dan Devan saling bertatapan saat melihat video apa itu. Alga pun tercengang melihatnya. Jawaban yang ia butuhkan selama ini. Selama ayahnya pergi. Kenapa ayahnya tidak bisa dihubungi dan ayahnya tidak pernah menghubunginya. Dalam video pertama ini terjawab sudah. 

__ADS_1


Bersambung. 


__ADS_2