
Alga teringat sesuatu. Ia tidak tahu bagaimana ayah dan Pak Wisnu bisa meninggal. Alga menelepon orang suruhan keluarganya. Sudah saatnya dia menggantikan posisi ayahnya. Dan juga menjadi sosok yang bisa menemani dan menjaga Almira selalu.
"Kau sedang menelpon siapa?" Tanya Devan melihat Alga yang sedang menelpon orang.
"Orang." Jawab Alga singkat. Karena, masih menunggu panggilan yang belum diangkat.
"Iya, siapa?" Devan penasaran. Bertanya lagi kepada Alga.
"Orang suruhanku. Aku ingin tahu bagaimana Ayah dan Pak Wisnu bisa meninggal." Jelas Alga.
"Menurutku ayahmu meninggalnya karena dicekik. Karena, tidak ada darah sama sekali. Sedangkan, Pak Wisnu ada luka tusuk di bagian perut." Ucap Devan memberi informasi atas apa yang sudah dilihatnya tadi di dalam peti.
"Sekarang ayah dan Pak Wisnu ada dimana?" Tanya Alga menatap Devan. Tatapannya begitu sendu saat bertanya perihal ayahnya.
"Sudah aku serahkan kepada para pekerja mu Alga. Untuk dibersihkan sebagaimana mestinya dan nanti siang akan dikubur." Jawab Devan.
"Baiklah."
Karena panggilannya tidak diangkat. Namun, masih tetap mencoba untuk menelponnya kembali. Lagi-lagi tidak diangkat. Akhirnya, Alga menaruh kembali ponselnya di atas meja.
__ADS_1
Seketika ruangan menjadi hening. Masing-masing terhanyut dalam pikirannya sendiri-sendiri.
Aku harus segera mungkin menjebloskan paman ke penjara. Bukti yang kuat saat ini apa? Video kah? Jas dan kemeja? Rekaman cctv? Ah, iya masih ada satu video lagi yang belum aku lihat. Alga.
Alga dan Almira berada di kondisi yang sama. Apalagi Alga harus menjadi pimpinan perusahaan. Bagaimana kalau aku minta bantuan papa. Mungkin dia bisa membantu Alga. Devan.
"Alga." Devan memanggil.
"Devan." Alga memanggil.
Mereka memanggil nama lawan bicara mereka masing-masing.
"Alga, boleh tidak kalau aku meminta…"
Dzzrt…, Dzzrt…
Belum selesai sudah terpotong oleh suara deringan ponsel Alga.
"Angkat saja dulu mungkin itu orang suruhanmu yang tadi. Dia menelponmu kembali." Ucap Devan.
__ADS_1
"Ya, baiklah."
Alga mengambil ponsel miliknya di atas meja. Lalu, menggeser tanda hijau. Mendekatkan ponselnya ke telinganya.
"Hallo Tuan muda Gautama. Maaf tadi saya sedang di kamar mandi ada yang perlu saya setor. Hehe…, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya orang di seberang sana.
Cih, jorok sekali orang ini. Apa harus memberitahuku tentang hal menjijikkan itu.
"Ya, aku minta bantuanmu saat ini. Selidiki pembunuhan Tuan besar dan Asisten Pribadi tangan kanannya yang bernama Wisnu Gantari." Perintah Alga kepada orang itu.
"Hah, apa! Apa Tuan muda berbicara serius saat ini? Bukan sebuah omong kosong kan tuan. Tuan besar dan Tuan Wisnu apakah benar-benar sudah meninggal? Bagaimana bisa seperti ini Tuan muda?" Sahut orang suruhan Alga yang tampaknya terkejut dengan perintah yang baru saja diberikan oleh Alga.
"Apa kau lupa aku ini siapa? Apakah aku berani berkata omong kosong jika berkaitan dengan ayahku? Lakukan saja perintahku! Temukan semua bukti. Aku ingin pembunuh dan dalang dari ini semua membayarnya." Tegas Alga lagi.
"Baik Tuan muda. Akan saya tangkap mereka tanpa ampun. Saya akan membalaskan kebaikan Tuan Besar dengan ini." Sahut Orang di seberang sana penuh semangat dan yakin.
"Bagus, terima kasih." Ucap Alga. Lalu, mengakhiri panggilannya.
Devan mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Alga. Semua yang didengar dan dilihat. Tampaknya sangatlah serius dan tidak main-main.
__ADS_1
Bersambung.