Love "A" Double

Love "A" Double
Belum Terbiasa


__ADS_3

Hari ini mereka akan memulai hari kembali dengan sarapan pagi. Berguna untuk menjaga stamina tubuh dan juga pengisi tenaga tubuh mereka. 


"Apakah ada jadwal penting hari ini untukku?" Di sela-sela makan paginya.


Almira pun langsung meraih tablet yang ada di atas kursi sebelahnya tepatnya di dalam tasnya. Mengeluarkan tablet itu dari tas dan melihat jadwal harian Alga. 


"Jadwal paling terutama bagimu ada pertemuan penting dengan klien dari Perusahaan C." Ucap Almira sambil menyentuh layar tabletnya dan menggesernya. 


"Perihal apa?" Tanya Alga lagi. 


"Proyek besar pembangunan rumah sakit di ibu kota negara ini." Jelas Almira lagi. 


"Baiklah." 


Huh! 


Alga menghela nafasnya kasar. Merasa baru pertama kali terjun dalam dunia kerja. Tapi, merasa sudah sedikit tertekan karena belum terbiasa. Dan juga masih di awal sudah mendapatkan proyek besar yang seharusnya disenangi dan diperjuangkan oleh orang-orang lain.


Namun, berbeda bagi Alga yang tampak tidak bersemangat karena memang masih terlalu awal. Tapi, Alga tetap mencoba yang terbaik.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan Alga dan Almira langsung berangkat ke kantor. Alga memijat dahinya yang terasa berdenyut membuat kepalanya terasa pusing.


Almira melihat itu dan terasa khawatir pun datang. Almira mengeluarkan botol aroma terapi yang berupa botol roll dalam tasnya.


Lalu, ia menghadapkan itu ke depan wajah Alga. Alga bingung dan menoleh ke arah Almira. 


"Pakailah ini kalau merasa pusing. Olesi sedikit di sudut dahimu. Jangan sampai mengenai mata." Ucap Almira menatap kedua mata Alga yang tampak sayu. Alga tersenyum melihat Almira. 


"Baiklah, terima kasih." Ucap Alga. Almira tersenyum dan mengangguk. 


Sepertinya Alga yang sombong sudah tidak ada. 


"Saat jam makan siang." Jawab Almira sekenanya. Cepat dan tepat. 


"Oke." Jawab Alga.


Sesampainya di kantor. Almira dan Alga langsung turun dari mobil yang mereka gunakan. Mereka berjalan beriringan. Tidak peduli tatapan karyawannya seperti apa terhadap mereka. Yang penting Alga dan Almira merasa mereka tidak mengganggu kehidupannya saja sudah cukup.


Sebelum memulai pekerjaannya Almira pergi ke pantry yang ada di kantor. Ia ingat dengan Alga yang sebelumnya di mobil merasa kepalanya pusing.

__ADS_1


Jadi, ia ingin membuatkan teh hangat untuknya. Tidak tahu karena khawatir, berinisiatif atau perasaan. Hanya Almira dan tuhan saja yang tahu.


Bisa saja Almira tidak menyadari perasaannya. Walaupun dulu pernah menolak Alga mentah-mentah di hadapan temannya yang lain. Almira membawa teh hangat itu ke ruangan Alga.


Sebelum masuk Almira mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah mendapat sahutan kalau Almira diperbolehkan masuk oleh Alga. Barulah Almira masuk.


Berharap tingkah lakunya dilihat oleh orang lain dan dijadikan contoh akan etikanya. Alga melihat Almira masuk dengan tangannya yang membawakan gelas berisikan teh hangat.


Alga tahu kalau teh hangat itu pasti untuknya. Lagi pula memangnya siapa lagi kalau bukan untuk Alga seorang yang ada di dalam ruangan itu. 


"Aku tidak memintanya. Tapi, kamu baik sekali. Jadi, taruh saja disitu. Nanti akan ku minum." Ucap Alga sambil tersenyum senang. 


"Baiklah." Ucap  Almira tersenyum sinis dan sedikit kesal. Ia pun menaruh segelas teh hangat di atas meja Alga. 


"Kamu sudah cukup handal untuk menjadi seorang sekretaris profesional." Alga memuji Almira yang hendak berjalan keluar ruangan nya lagi. Almira berbalik menghadap ke arah Alga tanpa berjalan mendekat.


"Oh iya, terima kasih." Almira menunduk kepalanya hormat.


Alga terkekeh melihatnya. Alga tahu itu hanya candaan mereka semata. Lumayan untuk menghilangkan penat mereka yang lelah bekerja. Karena, belum terbiasa. 

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2