Love "A" Double

Love "A" Double
Mengambil Laptop


__ADS_3

Di dalam mobil Alga dan Almira hanya diam tidak saling bicara. Alga menatap jendela kaca mobilnya begitupun juga dengan Almira. Sesekali Alga menoleh ke arah Almira  tanpa sepengetahuan Almira.


Bagaimana ini. Apa aku harus meminta bantuan paman untuk mengetahui soal orang yang kemarin menelponku. Tapi, orang itu juga sudah tidak lagi mengganggu. Sudahlah biarkan saja. 


Alga menatap Almira yang sepertinya sedang merasa kesepian dan perubahan sikap dari Almira di hari ini. Dari senang ke sedih, dari sedih ke marah, dari marah ke diam. Alga pun sebenarnya merasa bersyukur karena Almira tidaklah menangis. Seperti wanita lemah biasanya. Begitu menurutnya.


"Hei, apa kamu tidak bisa melihat?! Kita sudah sampai di rumahmu. Apa yang ingin kamu lakukan? Segeralah turun dan kembali." Suara Alga yang kencang dapat membuyarkan lamunan Almira. 


Almira menoleh ke arah Alga menunjukkan mata sinisnya dan mengangkat tangannya yang terkepal. Lalu, turunlah dia ke rumahnya.


Pukulan wanita tidaklah sekuat pukulan laki-laki. Tapi, wanita lebih kuat menahan sakit hati daripada laki-laki. Ya, tidak semua. Hanya Almira sepertinya. 


"Ayo pulang aku sudah selesai." Ucap Almira sambil masuk ke dalam mobil kembali.


"Apa yang kamu lakukan?" Alga melirik tas yang berbentuk persegi panjang besar.


"Aku hanya ingin mengambil laptop milikku saja." Sambil menunjukkan tas laptop yang sedang dipegangnya.


"Buang-buang waktu ku saja. Kamu kan bisa menggunakan laptop yang ada di rumah. Tidak perlu mengambil punyamu seperti ini."

__ADS_1


"Tidak bisa, semua dataku kan ada di laptop ini." 


Dan juga siapa yang meminta mu untuk ikut menemaniku. Salahmu sendiri waktumu terbuang. Jadi, bukan salahku.


"Cih, data tidak penting saja."


"Enak saja tidak penting. Dataku penting semua tahu."


"Terserah katamu saja."


Mobil pun kembali melaju. Almira yang menyadari mobil mereka bukan melaju ke arah rumah menjadi bingung karena ia tidak tahu mobilnya ini akan membawa mereka kemana.


Alga hanya melihat pemandangan luar melalui jendela mobilnya selama perjalanan. Memang dirinya lah yang meminta sopir yang membawa mereka ke suatu tempat sebelum pulang ke rumah.


Alga menoleh ke arah Almira sejenak. Melihat Almira yang duduk dengan gelisah. Tidak tahu kenapa kali ini Alga melihat Almira yang tampak berbeda dari biasanya. Seperti berubah setelah sama sekali belum mendapat kabar dari ayahnya. 


Alga merasa iba dengan Almira. Karena, ia sendiri pun sedang merasa cemas juga dengan ayahnya. Entah perjalanan bisnis kemana tanpa memberi kabar setelah kepergian mereka.


"Tenanglah. Kita hanya akan pergi ke tempat yang tidak membosankan." Ucap Alga dengan mata yang menatap indahnya lautan di ujung sana melalui jendela kaca mobilnya.

__ADS_1


Almira menoleh ke arah Alga. Alga yang seakan-akan mengerti dengan dirinya. Tentu saja mengerti dia kan tidak boleh memperlakukanku dengan tidak baik. Pikir Almira. 


"Memangnya kita akan kemana?" 


"Ke tempat yang tidak membosankan."


"Aku tahu, tapi dimana?"


"Nanti juga tahu."


Ya, terserah sajalah.


"Alga, apa Tuan Besar Gautama sudah memberimu kabar?" Almira membuka suara dengan pertanyaan yang dari tadi mengganjal hatinya.


"Tuan Besar Gautama?" Alga tergelak sambil menyeringai licik. 


"Maksudku ayahmu, apa sudah ada kabar darinya?" Jelas Almira lagi.


Bersambung. 

__ADS_1


__ADS_2