
"Kenapa begitu?" Tanya Almira lagi.
"Supaya paman ku tidak mengetahuinya dan tidak mengejarku untuk memimpin perusahaan lagi. Karena, perusahaannya sudah tidak ada." Jawab Alga.
"Oh, begitu ya. Tapi, aku tidak bisa menjadi sekretaris."
"Ah, sudahlah kamu terlalu banyak bicara. Cepat ikut aku." Alga menarik tangan Almira untuk masuk ke dalam lift.
Alga menghela nafasnya pelan saat berada di dalam lift. Menunduk sejenak dan mengangkat kepalanya lagi. Karena, dia harus mulai menjadi pimpinan perusahaan mulai saat ini.
Semoga aku tidak salah mengambil keputusan dengan mengganti sementara nama perusahaan keluarga Gautama.
Seluruh karyawan maupun staf khusus ada beberapa yang sudah mengenal Alga dan juga ada yang belum.
Maka dari itu Alga akan mengadakan rapat untuk mengumumkan Presiden Direktur baru yang akan memimpin perusahan.
"Almira, kamu mau ruangan mu di dalam atau diluar ruanganku?" Tanya Alga saat mereka sudah berada di depan ruangan Presdir.
__ADS_1
"Tempat sekretaris pada umumnya saja." Jawab Almira mencoba memposisikan dirinya sedewasa mungkin.
"Kalau begitu ruangan itu milikmu. Pelajari dan kamu harus mendalami tugas seorang sekretaris dari sini. Selebihnya kamu harus memiliki inisiatif." Ucap Alga menunjuk ruangan Almira yang berada di sebelahnya.
Alga juga memberikan sebuah buku untuk mendalami tugas-tugas seorang sekretaris perusahaan.
"Hemm…, baiklah." Almira menerima buku itu.
"Ya sudah, aku masuk dulu. Kamu juga sana. Dua jam lagi aku ingin rapat. Kamu harus bisa menyiapkannya."
"Iya, baik Tuan." Jawab Almira menundukkan kepalanya hormat.
Lalu, berlalu pergi ke dalam ruangannya. Almira mendengus kesal. Rambutnya yang sudah ditata rapi menjadi berantakan lagi.
Ia pun masuk ke dalam ruangannya segera untuk merapikannya lagi sebelum banyak yang melihat.
Wah, ruangannya bagus dan luas sekali. Pasti ruangan Alga lebih besar dan luas dari ini. Haha…, ya pasti lah ya. Dia jan presiden direkturnya.
__ADS_1
Almira duduk di kursi kerjanya. Menaruh tasnya di bawah meja yang ada di sebelahnya. Lalu, membuka buku yang diberikan Alga kepadanya. Dan membaca bukunya. Mencoba melakukan yang terbaik.
Almira juga tidak ingin mengecewakan Alga. Karena, kalau dipikir-pikir lagi. Alga dan keluarganya sudah sangat baik terhadap keluarganya.
Apalagi ayah Gautama sendiri yang sangat memperhatikan dirinya lebih dari sekedar anak dari asistennya.
Tugas-tugasnya sangat banyak sekali. Tapi, kenapa aku merasa inisiatif saja yang paling penting. Aku jadi malas membaca buku ini. Aku lebih suka buku pelajaran. Ah, bagaimana ini.
Almira menjatuhkan kepalanya di atas meja. Membenturkan kepalanya sengaja ke atas meja beberapa kali.
Ia mendesah kesal harus bekerja disaat usianya yang seharusnya berjalan-jalan ke sana dan ke sini. Bermain dan berkumpul bersama teman dan sahabat-sahabatnya.
Tapi, Almira duduk di kursinya dengan meja kerja dihadapannya. Sebuah komputer dengan layar yang cukup besar yang sudah disiapkan oleh kantor di hadapannya.
Bahkan, sampai-sampai Almira membulatkan matanya saat melihat komputer merek apa yang digunakan oleh Perusahaan Alga.
Siang harinya. Alga dan Almira baru saja keluar dari ruang rapat. Kini Alga sudah diketahui keberadaannya oleh seluruh karyawan dan staf khususnya. Lebih cepat lebih baik menurut Alga. Tidak perlu menunda karena akan mempersulit dirinya sendiri kedepannya.
__ADS_1
Alga dan Almira berencana untuk makan siang di luar. Pertama kali bagi mereka makan siang di luar di negara lain dan juga bukan sebagai anak sekolahan.
Bersambung.