
"Kebun kopi, stroberi, kentang, apel, kakao dan brokoli." Sebut Alga dengan sabar.
"Itu semua milik keluargamu? Aku ingin melihat kebun jagung. Dimana letaknya?"
"Bukankah sudah ku sebutkan kebun yang ada di sini. Ini daerah dataran tinggi. Tidak ada jagung. Kenapa begitu saja tidak tahu. Bukannya kamu itu pintar." Kesal Alga menjelaskan.
"Ya sudah memangnya kenapa si. Aku ini kan juga manusia. Namanya lupa ya wajar saja."
"Ya terserah sajalah." Alga yang lelah berkomentar.
"Tapi, kenapa tadi saat kita makan siang ada sup jagung. Kalau tidak ada kebun jagung disini?" Tanya Almira bingung.
"Mereka membelinya di tempat lain. Kan tidak harus semua berasal dari kebun. Kenapa kepintaranmu sekarang menjadi memudar?"
"Aku hanya bodoh akan semua kekayaan yang kamu punya. Tapi, aku pintar di hal lain. Enak saja!" Almira yang tidak terima dengan ucapan Alga.
Alga dan Almira pun berkeliling di sekitar kebun teh yang ada di rumah besar milik keluarga Alga.
Sampai ke kebun stroberi yang ada di ujung. Mereka tidak lelah karena mereka juga ikut memetik beberapa buah stroberi yang sudah jadi dan memakannya.
__ADS_1
Malam harinya mereka tidak makan makanan seperti biasanya. Karena mereka sudah sepakat ingin makan daging, jagung dan juga marshmallow yang dibakar.
Malam ini terasa sangat nikmat dan seru karena mereka memakan masakan mereka sendiri. Walaupun ada beberapa pelayan di sana ikut membantu mereka.
"Marshmallownya masih ada?" Tanya Alga yang masih sibuk memakan jagung bakarnya.
"Masih, ini." Almira memberikan mangkuk Marshmello yang masih belum dibakar.
"Kamu tidak ada alergi apapun kan?" Tanya Alga untuk memastikan.
"Tidak."
"Berarti tidak apakan kalau aku membakar marshmallownya pakai coklat."
"Baiklah, tunggu."
Mereka makan hasil bakaran mereka cukup lama menikmatinya. Apalagi ditambah daging yang dibakar ala barbeque-an. Di tambah balutan sayur selada seperti makan daging ala korea. Rasanya semakin nikmat.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan tengah malam. Mereka masih saja menikmati daging dan juga jagung yang masih ada sambil melihat pemandangan kebun teh yang luas di hadapannya.
__ADS_1
"Aku sudah kenyang. Perutmu masih cukup kan menampung semua daging ini?" Almira yang merasa perutnya sudah penuh.
"Kamu pikir perutku ini karet yang bisa melar saat sudah terisi penuh!"
"Bukan begitu. Ah, dikit-dikit marah. Malas aku. Ya sudah dagingnya disimpan saja untuk besok pagi." Almira pun membereskan beberapa perlengkapan membakar mereka dan juga membawa beberapa sisa makanan ke dalam dapur.
Bisa dihangatkan kembali untuk besok. Sayang kalau dibuang. Begitu pikir Almira yang tidak mudah atau tidak suka membuang makanan tepatnya.
Alga masih saja menikmati jagung bakar yang ada di tangannya yang belum habis tadi. Sambil melihat indahnya pemandangan malam. Tanpa Almira tahu Alga tengah berpikir tentang keadaan ayahnya saat ini begitu pula keadaan Pak Wisnu selaku tangan kanan ayahnya. Sekaligus ayah dari Almira.
Semoga mereka baik-baik saja disana. Aku takut ucapan orang gila kemarin itu yang dimaksud orang aku sayang itu adalah ayahku. Menyiapkan dua pemakaman untuk ayahku dan juga ayahnya Almira. Semoga pikiran ku ini salah. Kasihan Almira jika harus ditinggal ayahnya kembali di umur yang masih bocah. Tapi, dia sudah dewasa. Ah, siapapun dia yang penting manusia.
"Alga, kamu belum selesai juga? Kamu itu lapar, menikmati atau memang lama si makannya." Tanya Almira yang duduk kembali di sebelah Alga sambil membawakan minum untuk dirinya dan juga Alga.
Alga melotot mendengar ucapan Almira tadi. Merasa dirinya sedang diejek oleh bocah.
"Terserah. Mau lama atau cepat yang makan juga aku kan." Ucap Alga kesal.
"Haha…, iya, iya." Tawa Almira terpaksa.
__ADS_1
Almira pun berdiri dan berjalan meninggalkan Alga yang masih sibuk dengan jagung bakarnya.
Bersambung.