
Alga pun mengatur volume laptopnya supaya terdengar lebih kencang dan jelas lagi.
"Coba kembalikan ke lima belas detik yang lalu." Ucap Devan.
"Kenapa?" Tanya Alga mengernyitkan dahinya.
"Kan dia sudah dari tadi bicaranya. Masa mau mendengar apa yang dibicarakannya setengah doang. Tidak jelas apa maksudnya nanti." Jawab Devan setengah kesal.
"Ah, iya benar." Alga mengangguk paham.
Orang berpakaian hitam yang sedang duduk sambil membelakangi kamera itu berbicara begitu jelas dan suaranya terkesan berat.
"Siapapun yang menonton video ini nanti. Apakah itu Alga atau Almira. Hahahaha…, anak dari bawahan ayahmu yang tidak berguna itu. Mau tidak mau dia harus masuk dalam permainan ini.
Aku disini mau bilang. Kalau kalian berpikir yang bicara sekarang ini adalah paman mu, Alga. Jawabannya adalah benar. Harapanku untuk memiliki setengah persentase saham Perusahaan Gautama Group sudah pupus sekarang. Karena ternyata ayahmu sudah membuat surat wasiat.
Hahaha…, bodohnya aku ternyata dia sudah mempersiapkan ini semua dari awal. Maka dari itu aku tidak bisa memiliki perusahaan itu sekarang. Karena, kau harus mati juga Alga. Barulah aku bisa memimpin Perusahaan Gautama Group itu.
Bagaimana hadiah terindah dan termahal yang ku berikan padamu? Dua benda yang berisi dua orang itu. Kau pasti sudah menyiapkan makamnya kan. Dari awal aku tidak bicara main-main, Alga. Hanya kau saja yang menganggap ini semua tidak serius.
Oh iya, Alga. Keponakan ku yang sebentar lagi kau harus pergi dari dunia ini. laporkan saja tentang ini semua ke polisi. Seberapa jauh kau melangkah untuk menangkap dan memenjarakan ku. Kau tidak akan pernah bisa menemukanku. Ingat itu ya Keponakan ku."
__ADS_1
Video pun berhenti sudah selesai.
"Alga." Devan melihat Alga yang sudah menggeram kesal.
Alga menoleh ke arah Devan. Merasa dirinya telah terancam. Bahkan, Almira ikut disangkut pautkan dengan masalah Perusahaan keluarganya.
"Alga kau kenapa melihatku seperti itu? Awas nanti matamu keluar. Kan tidak lucu." Ucap Devan menunjuk mata Alga yang sedang menatap tajam ke arah Devan.
"Devan." Entah dari mana suara Alga menjadi berat sekarang.
"I, iya." Devan melihat tatapan Alga yang penuh kemarahan dan kebencian ada disana.
"Kau benar-benar sahabat ku yang tulus dan setia kan?" Tanya Alga serius.
"Aku ingin kau dan Danisa pulang besok pagi. Tidak usah banyak tanya." Ucap Alga penuh penekanan.
"Hah, kenapa? Bukankah kau masih butuh kami?" Tanya Devan lagi.
"Tidak. Aku bisa sendiri. Ikuti saja kataku. Aku tidak ingin kalian berempat terlibat semakin jauh." Ucap Alga lagi.
"Huh, baiklah. Aku hanya bisa mendukungmu saja, Alga."
__ADS_1
Devan bangkit dari duduknya. Lalu, dia menepuk bahu Alga beberapa kali. Alga menepuk tangan Devan yang menyentuh pundaknya. Rasa simpati diantara keduanya sudah cukup dalam.
Devan pun paham dengan bagaimana sikap Alga. Jadi, dia tidak perlu bertanya dan bertahan lebih lama lagi di dalam. Devan pun keluar dari ruangan kerjanya Alga. Tinggallah Alga sendiri di dalam ruang kerja itu.
Tidak berapa lama Devan keluar dari ruang kerja itu. Alga juga ikut keluar. Dia berjalan ke arah kamar Almira. Berpapasan dengan salah satu pelayan wanita yang tadi menemani Almira di dalam kamar.
"Ada apa?" Tanya Alga kepada pelayan itu.
"Maaf Tuan muda. Itu Nona muda Almira sudah sadar." Ucap pelayan itu memberitahu.
"Baiklah. Dia masih di dalam kamar kan?" Tanya Alga lagi.
"Masih tuan." Jawabnya cepat.
"Baiklah, terima kasih. Kau boleh pergi sekarang." Ucap Alga mempersilahkan pelayan itu pergi.
"Baik tuan." Pelayan itu pun pergi.
Alga berlanjut jalan ke arah kamar Almira. Melihat pelayan wanita satu lagi yang hendak membantu Almira minum. Setelah selesai, Alga meminta pelayan itu pergi.
Alga pun duduk di tepi tempat tidur Almira. Almira mengalihkan pandangannya karena tidak mau melihat wajah Alga. Alga tersenyum samar melihatnya. Alga menghela nafasnya pelan.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku bicarakan serius denganmu." Ucap Alga. Almira pun langsung menoleh lagi ke arah Alga.
Bersambung.