Love "A" Double

Love "A" Double
Devan Pinsa


__ADS_3

"Alga!" Devan berteriak setelah menyadari sesuatu. 


"Kau berisik sekali! Tidak perlu berteriak. Jangan membuat sebuah dramatisasi." Alga kesal dia pun mendongakkan kepalanya menatap Devan kesal. Benar-benar kesal. 


"Aku menyadari sesuatu. Ayahmu sedang mengedipkan matanya lihat." Devan menunjukkan jari telunjuknya ke arah mata Ayah Gautama. 


"Ah, kau bodoh!  Tentu saja ayahku mengedipkan matanya. Kalau tidak matanya akan kering bodoh." Alga tambah kesal lagi dengan sikap Devan. Dia mengacak-acak rambutnya kasar. 


"Hei, kau yang bodoh Alga. Lihat itu Ayahmu mengedipkan matanya beberapa kali." Tunjuk Devan lagi. 


"Lalu, kenapa? Tidak ada yang aneh. Mungkin ayahku kelilipan." Alga berpikir secara umum. 


"Yang serius Alga. Aku tidak sedang bercanda." Devan merasa Alga sedang bermain-main. 


"Aku tidak bercanda, bodoh! Memangnya salah kalau ayahku mengedipkan matanya. Yang ada mata ayahku keluar kalau melotot terus." Alga kesal dengan ucapkan Devan. 


"Cih, kau tahu aku siapa?" Devan membusungkan dadanya. Mencoba menunjukkan siapa dirinya.


"Devan!" Jawab Alga dengan suara keras. 

__ADS_1


"Santai saja Alga, kau masih ingat aku di sekolah dikenal sebagai apa?" 


"Apa?" Alga balik bertanya. Karena ia memang tidak tahu. 


"Aku itu pinsa di pramuka, bodoh!" Beritahu Alga. Kesal karena Alga tidak tahu dia itu adalah salah satu bagian dari Pramuka di sekolahnya. 


"Pinsa?" Alga mengernyitkan dahinya. Apa nyambungnya dengan situasi saat ini. 


"Pemimpin Sangga di pramuka sekolah. Ah, kau tidak tahu apa-apa tentang ku. Jahat sekali. Sahabat macam apa kau ini. " Devan kembali menjelaskan dengan perasaan kesal. 


"Aku tidak peduli. Sekarang aku hanya peduli pada ayahku dan ayahnya Almira. Kau malah membanggakan dirimu sebagai Pemimpin sangga. Itu hal tidak penting, bodoh! Kau hanya membanggakan dirimu saja." Alga tambah kesal dibuatnya. 


"Apa maksudmu, hah?!" Alga kembali emosi.


"Lihatlah ayahmu. Dia sedang mengedipkan matanya namun ada perbedaan di setiap kedipannya." Ungkap Devan lagi menjelaskan apa yang dia sadari tadi ke Alga pelan-pelan. Kalau tidak pasti macannya akan bangkit lagi. 


"Apa?" Alga penasaran. 


"Apa kau tahu di dalam pramuka ada yang namanya morse. Sandi morse, ah kau bodoh. Pasti kau tidak tahu kan." 

__ADS_1


"Cepat kau jelaskan saja. Tidak perlu mengatakan diriku bodoh." 


"Aku minta kertas kosong dan pulpen atau pensil. Terserah apa saja." Pinta Devan dengan santai kepada Alga.


Alga pun memberikan apa yang dibutuhkan oleh Devan. Mengambilnya di laci dan di tempat alat tulis. Lalu, memberikannya pada Devan. Devan pun menerimanya dengan senang hati. 


"Apa yang akan kau lakukan?" Alga penasaran dengan apa yang akan dilakukan Devan. 


"Aku akan berperan sebagai seorang anak pramuka sejati. Haha…" Devan kembali membanggakan dirinya. 


Cih. Alga kesal. 


"Lihat saja apa yang aku lakukan." Devan kembali memutar ulang video tersebut. 


Alga memperhatikan setiap apa yang Devan lakukan di hadapannya. Devan memutar ulang video berdurasi lima menit itu. Lalu, matanya melihat ke arah layar. Namun, tangannya tetap bekerja untuk menulis apa yang Devan tangkap dari setiap kedipan ayah Gautama. 


Alga kagum tapi juga aneh melihat Devan yang seperti itu. Bagaimana dia bisa menulis tanpa melihat ke arah kertasnya. Bagaimana dia bisa menulis huruf hanya dengan sebuah kedipan mata ayahnya. Sungguh aneh dan menyebalkan melihat Devan seperti itu. Mungkin kalau Alga melihat orang lain yang melakukan itu pasti akan terkagum-kagum. Beda kalau Devan yang melakukannya. 


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2