
Besok pagi yang cerah pun datang. Mereka berdua masih bisa merasakan Kehidupan yang indah di pagi ini.
Almira masih tidur di dalam kamarnya. Sedangkan, Alga sudah terjaga. Bersandar di sandaran tempat tidur.
Apa aku harus memberitahu Almira. Atau aku beritahu paman saja. Apa aku memberitahu ayah saja. Tapi, bagaimana caranya. Ponsel ayah saja tidak aktif sampai saat ini. Almira yang sudah tidak mencemaskan ayahnya lagi saja sudah membuatku bersyukur sekali. Setidaknya bisa sedikit meringankan beban Almira. Sekarang, bagaimana dengan kondisi ayah dan Pak Wisnu. Apakah mereka baik-baik saja. Semoga saja. Ayah berjanjilah kembali secepatnya. Huh, menjengkelkan sekali rasanya. Kalau harus menjadi lemah.
Alga pun bangkit dari tidurnya dan langsung masuk ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan tubuhnya. Kini sudah merasa lebih segar. Ia ingin melihat seseorang yang berada di salah satu kamar lain di villa ini.
Tok!, Tok!, Tok!.
Alga mengetuk pintu kamar Almira. Namun, tidak kunjung dibuka oleh orang yang berada di dalam. Sahutan pun tidak ada. Karena, ia yakin Almira pasti belum keluar di jam yang masih sepagi ini.
__ADS_1
Akhirnya, Alga mencoba membuka pintu.
Kreek!
Oh, tidak dikunci. Bodoh sekali, kenapa tadi tidak langsung membukanya saja.
Alga pun masuk. Melihat selimut yang berantakan. Posisi tidur Almira yang sangatlah aneh. Karena kedua tangannya berada di atas kepalanya sedangkan kakinya mengangkang. Beruntungnya Almira bukanlah tipe wanita yang ileran. Alga duduk di tepi ranjang Almira.
Alga yang merasa gemas dengan posisinya. Akhirnya, membenarkan posisi tidur Almira. Sekarang posisinya menjadi lebih sedikit normal seperti orang tidur biasanya. Berbaring di bawah selimut. Memeluk guling menghadap ke samping.
Tidurlah yang nyenyak. Jangan pikirkan aku. Pikirkan saja dirimu sendiri. Biarkan aku yang pusing dan terbebani. Aku sendiri pun tidak tahu bagaimana kondisi ayahku. Aku juga mulai merasa tidak yakin dengan keadaan ayahku. Aku hanya berharap ayahku baik-baik saja. Begitu juga dengan ayahmu. Apapun yang terjadi. Jika, yang terjadi itu membuat dirimu tidak lagi memiliki siapa-siapa. Aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan berjanji. Aku tahu kamu wanita yang kuat, Almira. Jadi, jangan tunjukkan kelemahanmu di depanku. Aku mohon. Karena itu membuatku ragu akan kewajibanku sebagai laki-laki yang harus bertanggung jawab dan menjaga seseorang yang harus ku jaga. Apalagi aku diamanahkan untuk menjaga dirimu oleh ayahku. Jadi, aku tidak mungkin bisa mencelakai mu kan. Sekarang tidurlah. Hari ini kita tidak akan kemana-mana. Kita hanya akan beristirahat saja di villa. Mungkin, nanti malam kita akan barbeque-an lagi.
__ADS_1
Alga pun mengusap kepala Almira sebentar. Lalu, beranjak keluar dari kamar Almira. Berdiri sebentar di depan pintu kamar Almira.
Mungkin kali ini aku hanya mengusap kepalamu. Tapi, lain kali aku akan menciummu juga. Haha…, tunggu saja waktu yang tepat.
Alga yang tiba-tiba tertawa sendiri. Sontak membuat pelayan yang hendak melewatinya menjadi menghentikan langkahnya. Terdiam sambil memikirkan sikap Alga yang mulai sedikit aneh.
"Bawakan sarapan Almira ke kamar saja ya." Perintah Alga yang sudah duduk di ruang makan dan memakan sarapannya kepada pelayan yang ada disana.
"Baik tuan." Menjawabnya sopan. Tidak perlu bertanya ataupun membantah. Karena, tidak seharusnya tahu kan. Hanya lakukan saja.
Pelayan itu pun membawakan sarapan ke dalam kamar Almira. Sedangkan, Alga yang sedang menyantap sarapannya tetap melanjutkannya seorang diri di ruang makan.
__ADS_1
Bersambung.