
Almira berdecak kesal. Sungguh dia sangat sangat dan sangat tidak percaya dengan ucapan Alga tadi.
"Oh iya?" Almira tidak percaya.
"Iya, lihat saja contohnya. Aku bisa mendapatkan nilai bagus karena aku belajar dan menjadi pintar. Bahkan, lebih pintar darimu. Aku bisa memimpin perusahaan karena aku harus menjalani hidup yang kejam ini dengan keyakinan penuh dan mental yang kuat. Maka dari itu aku tidak pernah menyerah." Jelas Alga mengenai dirinya yang pantang menyerah.
"Wah, kamu hebat sekali."
Prok!, Prok!, Prok!.
Almira bertepuk tangan sebagai tanda kagum kepada Alga. Entah bertepuk tangan karena bangga atau mengejek.
Hanya Almira dan tuhan lah yang tahu. Alga hanya memutar bola matanya malas dan kesal. Mereka pun kembali dalam mode hening.
Kurang lebih tiga puluh menit mereka sampai di tempat yang sudah ditentukan oleh Alga dan meminta sopirnya mengantarkan dirinya ke tempat ini.
Jujur saja Alga juga belum pernah ke tempat ini. Makanya dia memilih tempat ini sebagai destinasi di akhir pekan mereka.
Almira menatap kagum dari kaca jendela mobil. Dari dalam mobil saja sudah terlihat menarik dan keren sekali.
__ADS_1
Mobil mereka sudah terparkir dengan rapi di tempat yang diperbolehkan untuk memarkirkan mobil. Karena, tidak di semua tempat boleh memarkirkan mobil pribadi.
"Ayo, keluar." Ajak Alga yang tengah bersiap-siap untuk keluar dari pintu yang sudah dibukakan oleh sopirnya.
"Oke." Jawab Almira yang sudah antusia juga sebenarnya.
Alga dan Almira sudah keluar dari mobil. Almira mendekat ke arah Alga karena situasinya cukup ramai dengan orang lain juga.
Karena, ini di negara orang. Jadi, Almira tidak ingin tersesat seperti anak kecil yang hilang. Alga menggandeng tangan Almira tanpa meminta izin dan menariknya perlahan.
Mereka pun berjalan berdampingan. Almira biasa saja karena dia juga merasa aman kalau digandeng.
Karena tinggi badan Alga dan Almira yang berbeda. Sopir mereka pun juga ikut mendampingi untuk menjaga Tuan dan Nona mudanya.
Alga membawa Almira kebagain pusat tempat yang menurutnya keren untuk berfoto.
"Kita dimana ini?" Tanya Almira saat mereka sudah berhenti berjalan di pinggir jalan raya yang suasananya cukup ramai.
Di tengah persimpangan jalan ada gedung tinggi bernama gedung One Times Square dengan dindingnya yang dipasang papan iklan dan televisi lebar. Bersamaan juga dengan gedung-gedung lainnya.
__ADS_1
Jadi, membuat kesan persimpangan jalan tersebut terkesan berwarna dan menarik dipandang. Apalagi untuk foto-foto.
"Times Square." Jawab Alga sedikit berteriak karena suara bising antara mobil yang berlalu lalang di jalan raya. Juga dengan orang-orang yang berjalan di antara mereka.
"Apa itu Times Square?" Tanya Almira penasaran.
"Times Square nama persimpangan jalan utama di Manhattan. Kita ada di kota New York tepatnya. Dan ini tempatnya. Bagus bukan?" Jelas Alga.
"Iya, bagus sekali. Aku ingin berfoto disana. Boleh tidak?" Tanya Almira merasa itu spot yang bagus untuk berfoto.
"Iya, kita akan berfoto disana. Sopirku yang akan memfotokan kita." Jawab Alga.
"Tidak. Aku ingin sendiri." Tolak Almira keras.
"Tidak. Berdua saja denganku." Tolak Alga lagi tidak mengizinkan.
"Kenapa?" Tanya Almira heran.
"Nanti fotonya kan bisa dipajang di rumah kita. Anak-anak kita pun juga bisa melihatnya." Jawab Alga dengan percaya dirinya.
__ADS_1
Bersambung.