Love "A" Double

Love "A" Double
Batal


__ADS_3

"Pakai sarung tangan tuan, supaya lebih aman." Ucapnya sambil memberikan sepasang sarung tangan kepada Alga. Alga mengangguk mengerti mengambil sarung tangan itu dan memakainya.


"Nama ayahmu ada di bagian mana?" Tanya Alga serius kepada Almira.


"Di bawah kiri." Jawab Almira lirih.


Wisnu Gantari. Sial! Darah yang ada di kemeja ini. Darah siapa. Jangan-jangan darah. Ah, apa ucapan orang gila itu tidak main-main. Aaa..., dia benar-benar gila. Kalau ini darah Pak Wisnu. Bagaimana dengan ayahku. Siapa yang menjaga ayahku.


Alga langsung menyerahkan kemeja itu lagi kepada penjaga rumahnya. 


"Simpan bukti cctv hari ini di dalam flashdisk. Urutkan tanggal peristiwanya. Ambil flashdisk yang ada di meja kerja ayahku. Gabung dengan yang kemarin." Perintah Alga lagi.


"Baik tuan." Jawabnya sopan. Mengerti laksanakan.


Alga dan yang lainnya pun kembali masuk ke dalam rumah. Danisa menemani Almira di dalam kamar. Sedangkan, Alga dan Devan berada di ruang kerja ayahnya. 


Alga duduk di kursi tempat ayahnya bekerja biasanya. Devan duduk di kursi yang ada di depan meja kerja. Berhadapan dengan Alga. Memijat keningnya mencoba mencari suatu celah permasalahan. 

__ADS_1


Alga tampak frustasi setelah melihat Almira menangis untuk yang kedua kalinya. Apalagi soal ayahnya Almira yang turut berkaitan dengan Ayahnya juga. 


"Alga." Devan memecahkan keheningan.


"Hemm." Jawabnya. 


"Lebih baik batalkan saja liburan kita besok." Saran Devan.


"Tiket sudah ada di tangan Devan. Kau ingin membuatku rugi!" Alga berteriak kesal. .


"Hei, ditukar kembali dengan uang masih bisa. Kau kan beli di aplikasi online. Coba saja lakukan sekarang sebelum telat." Devan yang menanggapi Alga masih sabar.


Kenyataan apa sekarang yang kudapat. Ponsel seorang Alga tidak dikunci. Aneh kau Alga.


Alga melihat Devan sedang mengotak-atik ponselnya dengan serius. Alga hanya memperhatikan saja. 


"Ini." Devan menyerahkan ponsel Alga kembali setelah melakukan pembatalan tiket. 

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih." Alga menerimanya kembali. 


Alga meminta Devan untuk keluar dari ruang kerja ayahnya dan meminta tolong untuk memberitahukan pelayan dan juga pengawal yang akan ikut besok tidak perlu bersiap-siap lagi karena dibatalkan.


Sedangkan, Alga tetap di dalam ruang kerjanya. Bimbang akan suatu keputusan yang hendak diambilnya.


Beritahu paman atau tidak. Minta bantuan paman atau tidak.


Karena, yang ada di ibu kota. Berada di kawasan yang sama dengan Alga hanyalah Paman dan bibinya. Tidak ada lagi. Keluarganya yang lain berpencar di negara lainnya. 


Hari esok yang akan menjadi liburan mereka pergi ke luar negeri pun sudah tiba beberapa jam lagi akan menuju pukul dua belas malam. Namun, harus dibatalkan karena mendapatkan kejadian yang hampir serupa dengan yang kemarin.


Ayah katakan aku harus apa. Ayah ada dimana. Cepatlah aku bingung. Mungkin aku pintar di sekolah. Untuk hal seperti ini aku belum tahu pasti. Yang ku tahu aku bodoh dalam hal ini. Aaaa..... Ayah… 


Alga berteriak dalam batinnya. Frustasi. Tentu saja. Tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Alga yang masih remaja tujuh belas tahun. Seharusnya liburan menunggu hari kelulusan. Tapi, ia harus mengalami hal seperti ini di hari santainya. 


Tanpa Alga sadari. Kalau dirinya juga sudah merasa lelah. Akhirnya, tidurlah ia bertumpu dengan kedua tangannya di atas meja. Memejamkan matanya yang memang sudah butuh untuk di istirahatkan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2