
Malam harinya Almira baru saja sampai di rumah. Keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya.
Meregangkan ototnya yang merasa pegal. Duduk di tepi tempat tidur. Mengambil ponselnya yang tergelak sembarangan di atas kasur. Membuka galeri foto yang ada di ponselnya.
Almira tersenyum miris dan bulir bening pun terjun bebas dari sudut matanya. Foto yang sedang memperlihatkan seseorang tersayangnya. Almira seketika merasa sedih dan merasa kehilangan kembali.
Ayah bagaimana caranya aku bisa mengikhlaskan dirimu yang telah pergi. Karena, aku selalu merasa tidak bisa tenang. Saat aku bisa melepaskan, aku akan lepaskan. Saat aku tidak bisa melepaskan, aku merasa sulit untuk melepaskan.
Aku belum menunjukkan diriku di kala aku sukses. Aku belum memperkenalkan anakku ke hadapanmu. Bahkan, ibu.
Apa aku bisa melewati ini semua tanpa mu ayah? Aku seperti merasa membebankan Alga disini. Apa aku harus pergi dari kehidupan Alga agar aku bisa mandiri.
Aku tidak ingin merasa menyusahkan dan merepotkan dirinya. Bahkan, saat ini dia memberikanku pekerjaan secara cuma-cuma kepadaku. Huh, sepertinya benar aku harus pergi saja dari kehidupan Alga dan mencari kehidupan ku yang baru.
Ayah dukung aku dari sana ya. Kalau Alga bisa membuat keputusan berarti aku juga bisa kan, ayah.
__ADS_1
Almira tersenyum melihatnya. Namun, pikirannya menjadi kemana-mana dan tidak tenang. Apakah benar dia harus pergi atau tetap berada di sisi Alga. Sekarang ia merasa galau akan hal itu.
Tok!, Tok!, Tok!.
Suara ketukan pintu kamar Almira membuat pikiran Almira teralihkan seketika. Almira menaruh ponselnya di atas tempat tidurnya. Lalu, beranjak ke arah pintu untuk membukakan pintunya.
"Ayo, makan malam." Ajak Alga yang sudah berdiri di depan pintu.
Tapi, wajah semangat Alga yang mengajak Almira makan malam menjadi redup seketika. Saat melihat wajah Almira yang basah di sekitar pipinya. Tidak salah lagi pasti Almira baru saja menangis. Begitu pikirnya.
Alga dan Almira duduk bersebelahan. Almira menunduk. Alga memperhatikan itu. Alga menyentuh punggung Almira dan mengusapnya.
"Apa kamu merindukan ayahmu?" Tanya Alga menebaknya. Almira menjawab dengan anggukan. Alga yang mendengarnya menghela nafasnya pelan.
"Almira, aku juga merindukan ayahku. Tapi, bukan saatnya kita untuk bersedih saat ini. Bahkan, tidak ada waktu untuk kita bersedih. Karena, itu hanya membuang waktu kita yang seharusnya bisa kita lakukan untuk menyelesaikan masalah dan hidup tenang." Jelas Alga mencoba memberi penjelasan kepada Almira.
__ADS_1
"Iya, aku tahu. Aku hanya ingin mengingatnya sebentar." Jawab Almira lemah.
"Bukankah Almira yang dulu adalah Almira yang sikapnya berani dan kuat. Sekarang kenapa berubah?" Alga yang mengungkapkan sesuatu kebenaran supaya Almira bisa bangkit dari kesedihan yang datang tiba-tiba.
"Alga, manusia bisa saja berubah." Tegas Almira mengangkat wajahnya dan menatap lekat wajah Alga. Alga tersenyum.
"Iya, aku juga tahu itu. Tapi, pikirkan lah yang lebih penting untuk saat ini. Tapi, ingat jangan pernah berpikir untuk pergi dari sisiku. Karena, ayahku dan ayahmu menitipkan dirimu kepadaku. Jadi, aku lah yang harus menjaga dirimu." Ucap Alga.
"Iya, iya. Aku paham." Jawab Almira.
"Ya, sudah. Ayo, makan malam."
"Hemm."
Alga dan Almira pun beranjak pergi dari dalam kamar Almira ke ruang makan untuk makan malam. Melakukan rutinitas nya setiap hari seperti biasa saat di malam hari.
__ADS_1
Bersambung.