Love "A" Double

Love "A" Double
Almira Tahu


__ADS_3

Siang harinya. Alga sedang duduk di kursi taman belakang. Sambil memeriksa beberapa pesan dari teman-teman di sekolahnya. Sekaligus Alga juga mendapatkan informasi kalau acara kelulusan sekolah akan diselenggarakan minggu depan. 


"Alga." Seseorang memanggil namanya sambil memegang bahunya dari belakang. Alga menoleh untuk melihatnya.


"Almira." Alga kaget dengan kedatangan Almira. 


"Apa aku boleh duduk?" Tanya Almira. 


"Duduk saja." Jawab Alga.


Almira pun duduk di sebelah Alga. Alga menaruh handphonenya di saku celananya. Ia menunggu Almira bicara lebih dulu kepadanya.


Almira menghela nafasnya panjang. Lalu, menghembuskannya perlahan. Alga mendengar suara hembusan nafas Almira. Merasa Almira sedang merasakan sesuatu yang berat di dalam hatinya.


"Aku sudah tahu." Ucap Almira yang membuat Alga bingung. Apa maksudnya. Sudah tahu, tapi tahu apa.


"Tahu apa?" Alga mengernyitkan dahinya.


"Ayahku." Deg!, hanya dengan kata itu mampu membuat Alga terdiam seribu kata. Tidak tahu apa yang harus ia katakan sekarang. Tapi, ia ingat kalau harus memberi pengertian kepada Almira perihal Pak Wisnu yang sudah tidak ada.


"Kenapa kamu diam saja, Alga? Devan sudah memberitahuku. Apa kamu ingin mengatakan yang sebenarnya sekarang?" Tanya Almira dengan suara seperti menahan isak tangis yang cukup dalam.


Alga masih diam masih bingung untuk mengucapkan kata atau kalimat apa.


"Alga, sebenarnya apa yang terjadi?!" Almira meninggikan suaranya. Bulir bening pun keluar dari sudut matanya. Tidak kuasa untuk menahannya lagi. Almira meraih kerah baju Alga. Menggoyang-goyangkan Alga supaya bicara. Alga menghela nafasnya pelan. Lalu, dia menepis tangan Almira dengan lembut dan membawanya ke dalam dekapannya. Berusaha memberikan ketenangan dan kehangatan.


"Maaf, apa selama ini aku selalu berkata kasar padamu?" Tanya Alga yang membuat Almira mengangkat alisnya. Kenapa pembicaraannya dialihkan.


"Apa aku sudah sering kali menyakiti hatimu, Almira? Maaf." Alga bertanya lagi sambil mengusap lembut pucuk kepala Almira.


"Alga aku mohon. Beritahu aku semuanya. Semuanya!" Almira meninggikan suaranya.


"Semuanya apa?" Alga pura-pura tidak mengerti.


"Tentang ayahku dan ayahmu. Apa yang terjadi dengan mereka? Sebenarnya selama ini ada apa?" Tanya Almira lirih dalam isak tangisnya.

__ADS_1


Huh, mungkin ini saatnya.


"Aku akan memberitahumu. Tapi, kau tidak boleh nangis dan marah. Apalagi berteriak seperti orang gila." Ucap Alga yang mampu membuat kemarahan Almira muncul.


"Apa maksudmu?! Aku orang gila begitu?" Almira kesal dengan ucapan Alga. Almira langsung melepaskan pelukan Alga. Ia sedang marah dengan Alga sekarang. Memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin melihatmu menangis saja. Aku akan memberitahumu tapi jangan menangis. Apa kamu bisa mengerti? Kamu pintar kan." Ucap Alga yang seperti mengejek Almira. Menepuk kepala Almira beberapa kali. Puk, puk, puk. Anak baik. Begitu sepertinya.


"Aku bukan anak kecil lagi Alga!" 


"Kalau begitu berhentilah menangis!" Alga sengaja mengeraskan suaranya. 


"Ah, menyebalkan sekali si! Sudah, sudah, aku sudah berhenti menangis. Cepat katakan!" Paksa Almira.


"Baik." Jawab Alga. Alga menghela nafas pelan. 


Satu detik, dua detik, tiga detik. Alga masih diam. Almira menjadi tambah kesal sekaligus bingung. Kenapa dia diam.


"Alga!" Teriak Almira. Alga pun menoleh lagi ke arah Almira. 


"Ada orang yang menginginkan saham Perusahaan Gautama Group sebesar enam puluh lima persen. Bahkan lebih besar dari saham milik ayahku dan aku sendiri. Saat ini ayahku di sekap oleh pamanku. Ayahmu..." Alga menghentikan bicaranya sejenak. 


"Iya aku sudah tahu." Ucap Almira lirih.


"Maaf. Kemungkinan besar orang yang menginginkan saham itu pun juga pamanku. Orang yang meneror kita selama ini pun juga pasti pamanku." Jelas Alga melanjutkan bicaranya lagi.


"Meneror?" 


"Iya, Almira. Mulai dari nomor asing yang menghubungiku, dua jas bersih di gantung depan gerbang, satu kemeja penuh darah, terakhir dvd berisi dua video." Alga memberitahu Almira secara jelas.


"Kenapa kamu menyembunyikan ini semua dariku?" 


"Karena aku tidak mau kamu celaka, Almira. Bukankah kamu dengar sendiri. Kalau ayahku menitipkanmu padaku untuk menjagamu. Kalau kamu tahu tentang ini. Sama saja kamu menyerahkan diri untuk menjadi korban selanjutnya. Kalau aku tidak peduli dan tidak ada rasa ya, dari awal juga kamu sudah aku buang jauh-jauh." Ucap Alga dengan santainya


"Ada rasa, maksudnya?" Almira tidak mengerti.

__ADS_1


Alga menepuk dahinya. Merasa dirinya telah keceplosan. Kalau Almira orang yang peka pasti seharusnya langsung mengerti. Tapi, ini untungnya saja Almira tidak mengerti. Jadi, memudahkan Alga untuk berkilah.


"Rasa peduli dan kebersamaan maksudku." Kilah Alga.


"Oh, iya, iya." Almira mengangguk mengerti.


"Almira." Alga memanggilnya.


Almira menoleh ke arah Alga.


"Apa kamu sudah mengikhlaskan ayahmu?" Tanya Alga pelan-pelan.


Sebenarnya aku merasa sedikit kesal dan berat hati. Sekeras mungkin aku tidak menumbuhkan rasa benci dan rasa ingin balas dendam. Tapi, aku juga tidak boleh seperti itu. Alga dan Ayah Gautama walaupun paman Alga sama-sama berdarah Gautama. Tetap saja mereka berbeda sifat. Sedangkan, ayah Gautama dan Alga disini pun juga korban. Untung ada Devan yang bisa menenangkanku dan memberi pengertian padaku tadi.


"Iya." Jawab Almira sambil menghela nafasnya.


"Maaf, karena keluargaku. Kamu jadi kehilangan ayah." Alga merasa bersalah. Walaupun memang bukan salahnya.


"Sudahlah, Alga. Jangan membuat diriku ingin membenci keluargamu. Hanya saja aku bingung apa yang harus ku lakukan tanpa ayah." Almira kembali tertunduk.


"Tenang, Ada aku. Kita bisa bekerja dan hidup bersama." Alga menepuk dadanya beberapa kali. 


"Aku tahu. Tapi, bagaimana dengan ayahku?" Almira tertunduk. Ia sangat merindukan ayahnya. Bahkan ia belum sempat untuk menunjukkan kepada ayahnya kalau ia bisa menjadi orang yang sukses nantinya. Tapi, kini ayahnya sudah tidak lagi bersamanya. Almira juga tampaknya tidak sadar dengan kalimat yang baru saja diucapkan Alga tadi.


"Aku akan mencari ayah mertua dan ayahku. Aku akan menyiapkan tempat untuk ayahmu bergabung bersama keluarga Gautama yang telah pergi." Ucap Alga. 


"Ayah mertua?" Almira meninggikan suaranya merasa kesal. Disaat-saat sedih Alga masih saja bisa bercanda. 


"Iya ayah mertua." Alga memperjelas perkataannya lagi.


"Alga! Aku baru saja kehilangan ayah. Apa maksudmu berbicara seperti itu. Ah, aku malas denganmu." Almira marah dan pergi begitu saja. 


Huh, bagaimana si cara menghiburnya. Ayah, aku tidak bisa memberi pengertian kepadanya. Almira juga wajahnya tampak tenang-tenang saja dan tidak terlalu sedih. Masih bisa marah juga walaupun hatinya lagi sedih. Ya, hatinya yang sedih bukan wajahnya. Aku paham sekarang. Tapi, dia tadi bilang Devan yang memberitahunya. Rasanya aku tidak dibutuhkan disini Ayah. Sudah ada Devan disini. Rasanya aku ingin mengusir Devan jauh-jauh. Tapi, aku membutuhkannya. Aku harus bagaimana. Dua hari lagi jadwal ayah pulang kan. Ayah harus pulang. Walaupun sendiri. Aaarrrggghhh!!! 


Alga mengacak-acak rambutnya. Lalu, tertawa sendiri seperti orang gila. Entah apa yang sedang dipikirkannya sekarang. Para pekerja rumah yang lewat di sekitar taman itu pun bergidik ngeri. Ada apa dengan Tuan muda? Mungkin begitu pertanyaan yang ada di dalam benak mereka. Namun, tidak berani untuk dikeluarkan.

__ADS_1


Bersambung. 


__ADS_2