Love "A" Double

Love "A" Double
Dia Gengsi


__ADS_3

Alga yang masih terdiam melihat ke arah guru yang menghampirinya. Tidak tahu ingin melakukan apa.


Bagaimana ini, Danisa! Kau berani bermain-main denganku. Ah, sudahlah aku bilang saja jangan macam-macam nanti akan dipecat oleh ayahku. Batin Alga.


"Alga, apa benar kamu menyontek?" Tanya guru itu yang sudah berada di hadapan Alga tanpa Alga sadari. 


"Tidak pak, Danisa salah." Jawab Alga tanpa ragu supaya tidak dicurigai. 


"Benarkah Alga?" Tanya guru itu lagi memastikan. Tanpa Alga sadari guru itu melihat meja Alga yang tidak terdapat kertas ujian di atasnya yang seharusnya terdapat kertas ujian. 


"Tidak pak, saya tidak menyontek." Alga tetap bertahan. 


"Lalu, dimana kertas ujian kamu Alga?" Tanya guru itu menyelidik. 


"Pak saya minta ja... " Ucapan Alga terpotong. 


"Maaf pak, saya izin ke toilet sebentar." Ucap Almira yang sudah berdiri. 


"Baik, silahkan." Jawab guru itu mengizinkan. 


Almira berjalan meninggalkan tempat duduknya, tapi sebelum keluar kelas untuk ke toilet ia berhenti di dekat meja Alga untuk mengikat tali sepatunya. Sambil mengikat tali sepatu ia juga menggunakan kesempatan itu untuk menaruh sesuatu di dalam sepatu yang dipakai Alga. 


Alga tentu saja merasakan itu namun ia hanya terdiam dan tidak menoleh ke arah bawah. Ia menunggu Almira keluar dari kelas. Saat Almira sudah keluar dari kelas ia mengangkat kakinya sedikit dan tangannya ke bawah untuk mengambil apa yang dimasukkan oleh Almira. Ia masih mencoba meraihnya sambil melihat tatapan sang guru didepannya yang sudah mengangkat satu alisnya dengan penggaris di pegang di tangan satunya dan ditepukkan ke tangan satunya lagi. Alga tersenyum ke arah guru itu sambil tetap mencoba mengambil benda itu tanpa dicurigai. 


Alga mendapatkan apa yang ada di dalam sepatunya dan ia melihat sebuah kertas ujian tanpa pikir panjang ia langsung memberikan kepada guru yang didepannya itu. 


"Ini pak." Ucap Alga dan tidak jadi melanjutkan perkataannya yang tadi. 


Guru itu mengambil kertas itu sambil masih mengangkat satu alisnya. 


Ada apa dengan guru itu, apa di kertas itu tertulis nama Almira. Batin Alga. 


"Baiklah, ini saya kembalikan." Guru itu berlalu kembali ke meja gurunya. 


Haha..., memang enak kau Alga. Sudahlah tidak apa kalau tidak berhasil. Batin Danisa yang sudah merasa cukup puas melihat ekspresi Alga tadi. 


Alga merasa lega dan sudah kembali tenang. Ia penasaran dengan kartu ujian itu, ia pun melihat kartu itu bertuliskan namanya. Ia melihat sebuah label putih yang menempel di kertas itu yang hampir menyerupai kertas itu. 

__ADS_1


Oh, ternyata namanya sudah ditimpa dengan label. Batin Alga.


Alga pun kembali mengerjakan ujiannya setelah meletakkan kertas tadi di atas mejanya. Ia melihat Almira yang baru kembali ke kelas dari toilet. Almira melihat Alga yang sedang menatapnya tapi ia merasa aneh dengan Alga karena baru kali ini ia mendapatkan tatapan teduh dari Alga beda yang sebelumnya selalu mendapatkan tatapan tajam darinya. Namun, Almira tidak ambil pusing ia langsung duduk kembali di kursinya dan melanjutkan ujiannya. 


Setelah semua ujian mata pelajaran hari ini selesai, Almira langsung keluar dari kelas untuk pulang ke rumah. Saat ia ingin keluar gerbang sekolah ada mobil yang berhenti tepat di sampingnya. Jendela kaca mobil iti dibuka. 


"Masuk!" Ucapnya dengan sedikit penekanan. 


Almira yang melihat Alga di dalam mobil itu merasa malas untuk bersama Alga. Almira tetap berjalan tidak menghiraukan Alga yang masih menunggu. Alga memajukkan lagi mobilnya sampai bersebelahan dengan Almira. 


"Cepat Masuk! " Alga yang sedikit meninggikan suaranya membuat Almira merasa kaget dan akhirnya menuruti keinginan Alga. 


Almira masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Alga. Alga pun melajukan mobil itu. Entah kemana Alga akan membawa Almira pergi. 


"Hei, bocah." Panggil Alga. 


"Apa?" 


"Apa kamu sedang berharap bahwa aku akan berterima kasih padamu? Jangan harap." Ucap Alga yang membuat Almira sedikit menyesal namun ia tetap mencoba untuk mengikhlaskan.


"Tidak." Jawab Almira sambil mengalihkan pandangannya ke jendela kaca sampingnya. 


Almira merasa sakit hati walaupun ia dikenal wanita kuat dan berani. Ia tetap seorang wanita yang mempunyai hati. Hati yang bisa luluh kapan saja dan hati yang bisa ditusuk kapan saja. Karena hati yang dimiliki bukanlah hati baja yang keras. Ia mencoba untuk tidak menangis dan tetap tenang.


Mobil yang dikemudikan Alga berhenti di sebuah cafe. Alga turun dari mobil dan Almira yang tidak ingin dikuncikan dalam mobil lagi langsung segera turun mengikuti Alga. 


Alga duduk di salah satu meja yang memang untuk dua orang saja yang ada di cafe itu. Almira terpaksa duduk di hadapan Alga. Alga yang melihat Almira duduk di hadapannya tersenyum kecil.


Seorang pelayan datang sambil membawakan buku menu. Alga dan Almira melihat isi menu itu. 


"Pesanlah yang kamu suka." Ucap Alga tanpa menoleh ke arah Almira. 


"Aku boleh..." Almira belum selesai bicara. 


"Pesan saja aku yang bayar." Ucap Alga yang seakan-akan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Almira. 


"Baiklah." 

__ADS_1


Almira pun memesan makanan yang ia inginkan dengan harga yang murah, walaupun ia dibebaskan memesan apa saja. Ia tetap berhati-hati kalau akhirnya ia di kerjai oleh Alga untuk membayar apa yang sudah ia pesan. Karena dengan harga makanan yang ada di cafe ini Almira merasa belum menyanggupi untuk membayar beberapa makanan yang ada di cafe itu. 


"Saya pesan roti bakar keju coklat saja dan air mineral." Ucap Almira tanpa malu dan ragu. 


Alga yang mendengar hanya menggelengkan kepala. 


"Roti bakar dan air mineralnya tidak jadi. Kami pesan Choco banana puff, Banana coffee puff dan chicken ragout puff. Untuk minumnya  Chocolate Milkshake dua." Pesan Alga tanpa memikirkan harganya. Almira yang mendengar nama makanan kesukaannya disebut sedikit merasa senang namun setelah ia mencoba melihat harga makanan itu di buku menu sedikit tercengang dengan harganya. Ia melihat sambil menelan salivanya susah. Namun, ia tetap senang karena makanan kesukaannya dipesan oleh Alga. 


"Kenapa?" Tanya Alga kepada Almira. 


"Tidak." Almira masih berusaha tenang. 


"Hei, bocah. Aku melakukan ini disuruh oleh ayahku. Bukan karena kamu membantuku. Ingat itu!" 


"Iya." Jawab singkat Almira. 


Sudahlah Alga, aku tahu kamu melakukan ini itu sebagai tanda terima kasihmu. Aku tahu itu. Lagipula jika ayahmu yang menyuruhmu kapan dia menyuruhmu. Dasar gengsi! Batin Almira. 


"Kamu sedang membicarakanku." Alga menatap Almira menyelidik. 


"Tidak." Almira bohong. 


"Bohong." 


"Tidak." 


"Aku tahu, tidak usah berbohong. Dasar bocah!" 


"Apa si bocah, bocah. Beda dua tahun saja sampai seperti itu." Almira mengalihkan pandangannya ke arah lain. 


Makanan yang dipesan pun datang, Alga menggeser piring yang berisi Choco banana puff di hadapan Almira. Sedangkan, Banana coffee puff untuknya dan satu makanan lagi untuk mereka berdua beserta minumannya. Mereka memakan itu berdua sampai perut mereka sudah merasa sedikit kenyang. Setelah itu, Alga mengantarkan Almira pulang ke rumahnya dengan mobilnya.. 


Suasana di dalam mobil hanya keheningan saja. Tidak ada suara apapun. Almira yang sudah melihat mobil Alga berhenti di depan rumahnya yang sederhana namun nyaman. Langsung bersiap untuk keluar mobil. 


"Terima kasih." Ucap Almira tulus kepada Alga. Karena ia merasa hari ini Alga tidak membuatnya kesal. 


"Hemm." Jawab Alga dingin. Walaupun dingin masih ada sisi hatinya yang lembut. 

__ADS_1


Almira menutup pintu mobil itu dan melihat mobil Alga yang sudah berlalu pergi. Ia pun juga masuk ke dalam rumahnya untuk istirahat. 


Bersambung. 


__ADS_2