Love "A" Double

Love "A" Double
Pagi Bersama


__ADS_3

Keesokan harinya. Keadaan rumah sudah tidak seramai beberapa hari yang lalu. Para pengawal milik Devan dan Danisa sudah pulang lebih dulu. Sedangkan, Devan dan Danisa masih menginap di rumah Alga. 


Rumah Alga kini dijaga ketat oleh setiap penjaga rumah yang ada. Walaupun Alga sudah tahu siapa pelakunya. Tapi, Alga tidak menemukan bukti kuat. Tentang Pak Wisnu dibunuh oleh pamannya. Karena hanya ada video ayahnya saja yang sedang diikat. Sedangkan video satunya lagi belum di tonton. 


Almira bangun dari tidurnya. Ia tidur bersama Danisa satu kamar. Sedangkan, Devan dan Alga berada di kamar lain tentunya mereka berbeda kamar tidak bersama. 


Almira masuk ke dalam kamar mandinya untuk membersihkan tubuhnya. Setelah sudah selesai. Sudah merasa segar. Baru lah ia keluar dari dalam kamar. Saat keluar kamar ia melihat Devan yang juga sedang berjalan hendak melewati kamarnya.


"Sudah bangun?" Tanya Devan berhenti di hadapan Almira. 


"Belum. Kalau sudah pasti aku tidak akan berdiri disini kan." Jawab Almira yang merasa aneh dengan pertanyaan Devan.


"Haha…, iya juga ya." Ucap Devan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. 


"Devan, bagaimana dengan ayahku?" Tanya Almira menatap Devan lekat. 


"Kamu masih ingat kan apa yang aku ucapkan waktu itu?" Tanya Devan mencoba mengingatkan Almira. 


"Iya ingat." Jawab Almira. 


"Apa?" Tanya Devan ingin memastikan. 

__ADS_1


"Tidak boleh bersedih. Tetap tunjukkan wajah ceria. Tidak boleh menangis kalau belum ada bukti kebenarannya. Karena, Alga juga pasti sedang mengalami hal berat." Ungkap Almira mengatakan ucapan Devan yang memberi pengertian tentang ayahnya yang meninggalkannya. 


"Bagus. Yaudah, sekarang kita sarapan. Alga dan Danisa sepertinya sudah berada di ruang makan." 


"Baiklah."


Tanpa mereka sadari. Sejak tadi sudah ada yang mendengarkan pembicaraan mereka. Tidak tahu siapa. Hanya saja dia tersenyum saat mendengarnya. 


Almira dan Devan pun berjalan bersama ke arah ruang makan untuk sarapan pagi. Karena, memang mereka semua sudah terbiasa dengan yang namanya sarapan pagi sebelum memulai hari. 


Saat sudah duduk di meja makan. Ternyata baru ada Danisa. Almira dan Devan bergabung. 


"Alga belum bangun?" Tanya Devan kepada Danisa. 


"Oh, baiklah." Ucap Devan. 


Mereka bertiga pun menunggu Alga lebih dulu. Baru mereka sarapan bersama. Tidak lama. Alga datang dengan ponselnya. Mungkin ponselnya lah yang membuat Alga kembali ke dalam kamarnya. 


"Ayo makan." Ajak Alga setelah dia duduk. 


Mereka semua pun makan bersama pagi itu. Alga mencoba meringankan bebannya dengan membaca setiap pesan grup teman-teman di ponselnya. Karena, ayahnya juga sudah memperingatkan dirinya untuk tidak mencari ayah Gautama. 

__ADS_1


"Hari ini kita mau melakukan apa?" Tanya Alga dengan senyum di wajahnya. Devan, Danisa dan Almira yang melihatnya menjadi aneh. 


"Kau kenapa Alga?" Tanya Devan. 


"Aku?" Tanya Alga menunjuk dirinya sendiri. 


"Iya kamu. Yang lagi sarapan dengan ayam goreng. Memangnya siapa lagi?" Devan menjawabnya dengan sedikit candaan dan rasa kesal. 


Sedangkan, Danisa dan Almira terkekeh melihat tingkah dua laki-laki itu yang lucu. Alga melihat Almira tertawa jadi ikut bahagia rasanya. 


"Aku tidak apa-apa." Jawab Alga santai. 


"Lalu, kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Tanya Almira sekarang. 


"Karena kamu." Jawab Alga sambil tersenyum ke arah Almira. 


"Hah, kau sudah gila ya Alga." Kesal Almira. 


"Ya, karena kamu." Jawab Alga lagi. 


"Sepertinya ada gangguan dengan kejiwaan mu Alga." Sahut Danisa sambil menggelengkan kepalanya. 

__ADS_1


Alga tidak menjawab lagi. Hanya mengangkat bahunya saja. Setelah itu mereka memakan sarapan mereka sampai kandas habis tidak tersisa.  


Bersambung. 


__ADS_2