Love "A" Double

Love "A" Double
Menunggu Kepulangannya


__ADS_3

Setiap detiknya terus berlalu. Memang waktu tidak pernah berhenti jika memang belum saatnya. Hari ini adalah hari dimana. Seharusnya, Ayah Gautama atau Tuan Besar Gautama pulang kembali ke rumah utama. 


Alga, Almira, Danisa dan Devan mencoba berharap mereka kembali. Walaupun satu sisi harapan itu tidaklah besar. Hanya Danisa lah yang belum tahu sama sekali apa yang terjadi sebenarnya. Dia hanya mengikuti dalam permainan Alga. Sedangkan, Alga dan Devan saling membantu. 


Mereka berempat sedang berdiri di depan pintu rumah. Baru sepuluh menit mereka berdiri. Mencoba tetap bertahan menunggu walaupun kaki sudah pegal. Ingin duduk rasanya. 


"Permisi Tuan muda Alga, Tuan muda Devan dan Nona muda Almira, Nona muda Danisa." Ucap salah satu pelayan rumahnya. 


Dia dan pelayan yang lainnya menaruh kursi di dekat mereka. Karena merasa tidak tega melihat Tuan dan Nona mudanya berdiri sepanjang waktu. Atau memang Tuan dan Nona mudanya lah yang tidak bisa berpikir jernih kalau mereka bisa menunggu sambil duduk. 


"Menunggunya sambil duduk saja ya Tuan dan Nona. Supaya tidak lelah." Ucap pelayan itu. 


"Iya, terima kasih ya." Jawab Danisa dan Almira berbarengan sambil duduk di kursi yang telah disiapkan. Mereka tidak munafik kalau mereka memang sudah merasa lelah. 

__ADS_1


Alga dan Devan juga ikut duduk. Tapi, tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Mata mereka tetap fokus melihat gerbang rumah yang cukup jauh dari pandangan mereka saat ini. 


Memastikan apa yang akan terjadi hari ini. Apakah ada kejadian buruk kah atau bahkan kejadian yang tidak disangka-sangka. Tepat di hari ayah dan tangan kanannya itu seharusnya pulang. 


Almira tampak gelisah. Danisa dia tenang tapi dalam hatinya dia cemas dan jantungnya berdebar. Alga wajahnya biasa saja, memperlihatkan dirinya yang tenang.  Dalam hatinya. 


Apakah hari ini ayah akan pulang. Semoga ayah pulang. Aku mengikuti kata ayah untuk tidak mencari ayah. Tapi, ayah harus pulang. 


Ya, begitulah isi hati seorang Alga. Sudah tahu sekarang kan bagaimana luar dan dalamnya. Sedangkan, Devan dia diam dan tenang. Sama seperti Alga. Hanya saja memperlihatkan kecemasannya lewat getaran kaki yang digerakkan. 


Penjaga rumah itu membungkukkan tubuhnya hormat kepada mereka semua. Lalu, menatap Alga sebagai Tuan muda rumah Gautama. 


"Maaf Tuan muda. Ada seseorang yang datang menggunakan truk box besar. Katanya dia pengantar paket." Ucap Penjaga rumah itu. 

__ADS_1


"Mengirim paket menggunakan truk box besar?" Alga mengernyitkan dahinya. Ia merasa heran. 


Kenapa mengirim paket harus menggunakan truk segala. Apakah isinya orang-orang suruhan pamannya yang jahat. Lalu, orang suruhan itu langsung menyerbu mereka. Alga yang mencoba menduga-duga apa yang ada di dalam truk box besar itu. 


"Mungkin paketnya besar. Kan tidak mungkin kalau paketnya besar dikirim pakai motor. Yang ada Ban motornya pecah duluan sebelum sampai." Sahut Devan yang mengetahui isi pikiran Alga. Alga mengangguk pelan mengerti. 


"Kalian berdua tetap duduk disini saja." Ucap Alga menatap Almira dan Danisa bergantian. Alga dan Danisa menganggap paham. 


"Devan kau ikut aku." Ajak Alga pada Devan. 


"Oke." Jawab Devan. 


Alga dan Devan pun bangkit dari duduknya. Lalu, berjalan menuju gerbang rumahnya. Diikuti dengan penjaga rumah yang memberi informasi kepada Alga tadi berjalan di belakang mereka. Sedangkan, para wanita duduk menatap lekat ke arah dua laki-laki yang sedang berjalan itu. 

__ADS_1


Sungguh sangat penasaran mereka sebenarnya. Namun, tidak ingin membantah Alga. Karena khawatir akan membuat suatu masalah baru atau malah akan mengganggu rencana yang mungkin sudah Alga dan Devan buat. Tapi, Almira dan Danisa tidak tahu. 


Bersambung. 


__ADS_2