
"Alga, aku tinggal ke kamar ya. Tidak apa kan kamu sendiri?" Teriak Almira dari dekat pintu rumah ke halaman luar tempat mereka membakar makanan tadi.
"Iya tidak apa." Sahut Alga yang ikut berteriak.
Iya, tinggalkan saja aku sendiri. Sana tinggalkan saja. Pergi sana. Kalau perlu tidak usah kembali. Tidak masalah. Memang selama ini hidupku sudah sendiri. Memangnya siapa yang ingin menemaniku. Almira? Cih, dia sendiri saja lelah menghadapiku yang seperti ini. Bahkan anjing saja dengan beraninya menggonggongiku disaat aku kesepian. Sedangkan, kamu pergi meninggalkan ku sendirian. Manusia macam apa seperti itu. Kamu bilang aku manusia tidak punya hati. Kalau aku tidak punya hati, tidak mungkin kan aku merasa kesepian. Mungkin kamu lah manusia yang tidak punya hati. Tidak merasa kasihan denganku yang kesepian ini.
Setelah selesai Alga pergi ke kamarnya tanpa membereskan sisa makananya. Ia meminta tolong kepada pelayan disana seperti biasa.
Ia pergi ke alam mimpinya untuk mengistirahatkan matanya yang sebenarnya sudah lelah dari tadi. Hanya saja jagung yang sedang dimakannya tadi dirasa seperti tidak habis-habis. Jadi, ia terpaksa menahan rasa kantuknya untuk memakan jagung itu sampai habis tidak tersisa. Apalagi itu buatannya jadi tidak ingin disia-siakan. Kapan lagi aku akan memasak makan malamku sendiri seperti ini. Ditemani bocah yang pernah menolak cinta seorang Alga. Tidak mungkin akan terulang lagi kan momen langka ini. Kecuali suatu saat dia bersedia menikah denganku. Begitu pikirnya seorang Alga.
Besok paginya Alga sudah berjalan pagi di sekitaran kebunnya tanpa Almira. Karena, ia pastinya akan terasa terganggu dengan orang yang dianggapnya bocah. Walaupun sebenarnya sudah dewasa. Tidak tahu Pak Wisnu memberikannya makan apa sampai bisa memiliki anak seperti itu.
Sedangkan di dalam rumah. Almira sudah bangun dan sudah rapi. Aroma tubuhnya pun sudah wangi seperti biasanya. Siap untuk segera menikmati sarapan pagi ini.
Almir berjalan keluar kamar. Menuju ruang makan. Namun, tidak mendapati Alga disana. Menghampiri Alga ke kamarnya. Lagi-lagi tidak mendapati sahutan apapun dari dalam.
Akhirnya, bertanyalah ia kepada pelayan rumahnya.
__ADS_1
"Tuan muda sedang berolahraga pagi di luar rumah Nona." Jawabnya.
"Sudah lama ya?"
"Tuan muda sudah berolahraga sekitar dua puluh lima menit yang lalu."
"Oh, baik. Terima kasih."
"Iya nona, sama-sama."
Almira karena sudah lapar memutuskan untuk sarapan duluan tanpa Alga. Tidak lama dengan sisa makanan Almira yang tinggal beberapa sendok lagi akan habis. Alga masuk dengan baju olahraganya yang sudah dibasahi oleh keringatnya.
Memperlihatkan dada bidangnya yang terbentuk. Membuat Almira salivanya susah. Alga yang melihat mata Almira tertuju pada dadanya. Menghampirinya dan mendekat ke samping Almira.
"Bagaimana apa sudah puas memandangi makhluk tuhan yang indah ini?" Bisik Alga sambil tersenyum penuh arti.
Apa, katanya!
__ADS_1
"Siapa yang memandangimu. Lebih baik aku memandangi indahnya alam di luar sana." Kilah Almira.
Cepat pergi sana, kesal sekali rasanya berdekatan denganmu!
"Kenapa tidak menungguku makan?" Tanya Alga sedikit meninggikan suaranya.
"Lama." Satu kata yang mewakili. Paling tepat.
"Ah, sudahlah. Habiskan saja makananmu. Jam sepuluh kita akan pergi. Ingat jam sepuluh!"
"Iya aku dengar."
"Bagus."
Alga pun pergi berlalu meninggalkan Almira yang masih diam ditempat. Almira segera menghabiskan makanannya supaya sebelum Alga kembali ke ruang makan, ia sudah selesai sarapan. Karena jam sepuluh masih lama. Ia menghabiskan waktunya lebih dulu dikamar sambil menunggu.
Bersambung.
__ADS_1