
Kenapa aku bisa bangun sampai siang ini. Semalam aku juga tidak tidur terlalu malam. Kenapa juga aku harus sarapan dalam kamar. Sebenarnya Alga kenapa lagi.
Almira mau tidak mau langsung memakan sarapan yang ada di meja samping tempat tidur. Karena, kalau ia mandi terlebih dahulu. Pasti makanannya akan menjadi dingin. Walaupun sebenarnya saat ia bangun saja makanan itu sudah dingin.
Aku merasa seperti seorang ratu. Makanannya disiapkan begini. Haha…, sekali-kali aku merasakan hal seperti ini.
Di dalam kamar Alga, berdiri di balkon sambil memandang pemandangan yang ada di sekitar Villa itu. Alga akan menggunakan hari ini sebagai hari untuk memikirkan suatu hal yang penting. Tidak peduli penting atau tidak. yang penting Iya akan memikirkan hal itu.
Apa yang harus kulakukan sekarang. Apa sebaiknya aku menunggu hari dimana ayah akan pulang saja. Ah, ya lebih baik begitu. Aku juga tidak tahu harus melakukan apa. Yang penting sekarang tidak membuat Almira berpikir aneh. Dan tidak memikirkan diriku.
"Alga!" Teriak seseorang dari luar kamarnya.
Alga yang mendengar suara teriakan itu. Membuatnya tersenyum senang. Karena, ia tahu suara siapa itu.
Almira.
__ADS_1
Alga dengan cepat berlari ke arah pintu dan saat hendak membuka pintu. Ia menyiapkan wajahnya untuk tidak terlihat senang di depan orang itu.
Kreek!
Alga membuka pintu itu perlahan.
Lho, kemana dia.
Alga tidak mendapati Almira berada di depan kamarnya. Alga pun kembali masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan kesal. Namun, sebelum masuk dan menutup pintunya kembali.
Alga pun membalikkan tubuhnya. Melihat Almira yang sedang memeluknya erat. Melihat seorang Almira menangis. Sambil membawa ponselnya. Seketika ponsel itu terjatuh bersamaan dengan Almira yang kehilangan kesadarannya.
"Eh, kenapa. Almira, Almira bangun." Alga yang mencoba menggoyangkan wajah dan tubuh Almira supaya tersadar. Tapi, Almira tetap kehilangan kesadarannya.
Alga pun menggendong Almira untuk berbaring di atas tempat tidurnya. Perlahan tapi pasti. Merapikan rambut Almira yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Ada apa bocah bodoh. Bukankah kamu wanita yang kuat dan jual mahal. Kenapa sekarang pingsan begini. Ku kira kamu tidak bisa pingsan." Alga menatap lekat wajah Almira yang terlihat lesu. Mengusap air mata yang masih membasahi wajah Almira.
Kenapa dia menangis ya.
Alga pun teringat dengan ponsel Almira yang terjatuh di dekat pintu. Alga mengambil ponsel Almira. Sekaligus menutup kembali pintu yang belum sempat tertutup kembali.
Meletakkan ponsel Almira di atas nakas. Lalu, ia pergi keluar kamar meminta sesuatu yang baunya menyengat untuk membantu Almira tersadar.
Setelah mendapatkan minyak kayu putih dari salah satu pelayan. Ia kembali ke kamar. Mengoleskan sedikit minyak kayu putih itu di bawah hidung Almira. Karena, kalau banyak pasti akan panas. Menaruh minyak kayu putih di bawah hidung Almira sambil dipegang. Supaya Almira bisa menghirup aroma menyengat dari minyak kayu putih itu.
Tidak lama Almira tersadar dari pingsannya. Almira mencoba untuk bangun dan bersandar di sandaran tempat tidur. Alga pun membantunya. Setelah sudah duduk dengan nyaman. Barulah Almira langsung mendekap Alga lagi dengan lebih erat.
Baru kali ini aku melihatmu sebagai wanita yang lemah, Almira.
Bersambung.
__ADS_1