Love "A" Double

Love "A" Double
Pesan Terbalik


__ADS_3

Setelah sudah selesai memperhatikan setiap kedipan Ayah Gautama. Yang menurut Devan itu berarti sandi morse. Jadi, bisa diartikan menjadi dalam sebuah huruf. 


Devan memberikan kertas yang berisi beberapa huruf berjejer rapi itu kepada Alga. Alga sebenarnya sudah melihat selama Devan menulis. Alga tidak ada rasa penasaran apapun. Karena yang ia lihat hanyalah sebuah huruf acak. 


Devan hanya menulis serangkaian huruf acak. Membuat Alga mematahkan harapan. Kalau itu bisa saja menjadi sebuah pesan dari ayahnya. Tapi, nyatanya hanya sebuah huruf acak. Sungguh mengecewakan batinnya. 



"Apa yang kau lakukan tadi hanya membuang-buang waktuku saja." Alga mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia memijat keningnya yang terasa sedikit pusing.


"Maaf, aku kan juga tidak tahu. Aku kira ayahmu sedang mencoba memberikan pesan melalui matanya." Devan menundukkan kepalanya. 


Hening seketika. Devan masih merasa ada sesuatu yang mengganjal. Akhirnya, dia mengambil kertas itu dan mencoba melihat setiap huruf-hurufnya dengan seksama. Memutar-mutar kertasnya siapa tahu ketemu petunjuk. 


Deg!!! 


Devan membulatkan matanya saat mengetahui kalau huruf yang terlihat acak itu. Ternyata mengandung sebuah kalimat yang terbalik dibacanya. 


"Huh, kau sangat tidak menghargai kerja keras orang lain ya Alga. Lihat lah baik-baik. Sang jenius!" Devan menekankan kata terakhirnya. 


Devan mencoba menggeser kertasnya lagi ke hadapan Alga. Menunjuk huruf dari ujung kanan bawah. Lalu, bergeser ke kiri. Jadi, Devan membacanya dari ujung kanan bawah ke kiri. 



Alga melihatnya. Tidak disangka. Dia membulatkan matanya sempurna. Saat berhasil menangkap sesuatu yang membuat dirinya terkejut. 


"Bacanya dibalik coba. Ayahmu mungkin sengaja memberikan pesan secara terbalik. Supaya tidak ketahuan oleh orang jahat itu. Kan kita tidak ada yang tahu kalau orang jahat itu bisa menyadarinya atau tidak." Ungkap Devan yang masuk akal. 


"Apa ini kebetulan atau memang ayah mengirimkan pesan ini kepadaku?" Alga tampak heran. 


"Sepertinya ayahmu memanfaatkan keadaan untuk mengirim pesan kepadamu." Ucap Devan. Alga mengangguk mengerti. 


"Memangnya apa keseluruhan isinya?" Devan mengambil kembali kertas itu karena tadi dia hanya melihat sekilas saja. 


"Alga tidak usah cari ayah dan Pak Wisnu. Kasih pengertian kepada Almira bahwa Pak Wisnu sudah tidak ada. Ayah tidak tahu saat kamu menonton video ini, ayah masih ada atau tidak. Ayah peringatkan kamu untuk mengambil hak kekuasaan perusahaan segera. Paman mu yang menyekap ayah. Paman mu bisa berbicara dia tidak bisu. Dia ingin merebut perusahaan kita. Pertahankan perusahaan kita dan jaga Almira. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi." Devan yang membaca setiap kalimat yang ada di dalam kertas itu secara dari bawah ke atas. 


"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" Alga menatap Devan meminta saran darinya. 

__ADS_1


"Alga, bukankah dalam pesan ini sudah jelas. Kau harus merelakan tujuanmu setelah sekolah menengah atas untuk berkuliah. Perusahaan Gautama Group sedang membutuhkanmu sekarang. Lagipula kalau kau bisa membagi waktumu. Kau juga bisa kan bekerja sambil berkuliah." Devan menjelaskan apa yang bisa ditangkap dari pesan yang diberikan oleh ayah Gautama. 


"Ah, ya kau benar. Sebaiknya aku tidak berkuliah. Setelah hari kelulusan nanti. Aku akan menggantikan ayahku." Ucap Alga matanya sambil fokus ke layar laptop. 


"Aku mendukung apapun keputusanmu saja Alga. Ingat Almira sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Masih ada aku dan Danisa yang bisa membantumu." 


"Terima kasih." Alga kembali tertunduk. Dia mencoba memikirkan sesuatu untuk mencari celah jalan keluar dari ini semua. 


"Untuk video kedua nanti saja. Kita sarapan dulu." Ucap Devan setelah ingat mereka semua belum sarapan pagi. 


"Hemm." Alga mengangguk mengerti. 


"Aku akan membangunkan para wanita untuk sarapan. Kau juga kalau sudah selesai. Segera ke ruang makan." Devan menepuk bahu Alga beberapa kali. Devan pun beranjak keluar dari ruangan Alga. 


"Lebih baik aku menangkap paman saat aku sudah mengambil alih perusahaan. Lebih cepat lebih baik. Aku akan pura-pura tidak tahu kalau paman bisa bicara. Maafkan aku paman, kalau kali ini aku akan menjadi keponakan yang menjengkelkan untukmu. Karena kau sudah merenggut nyawa tangan kanan ayahku sekaligus calon mertuaku. Tunggu pembalasan ku paman!" Gumam kesal Alga. Sambil mengepalkan tangannya. 


Lalu, dia segera merubah ekspresinya. Dan ia pergi keluar dari ruang kerja ayahnya. Ia menuju ruang makan untuk sarapan bersama yang lain. 


Alga duduk di sebelah Almira. Alga melihat Almira yang sudah tidak lagi bersedih. Entah apa yang dikatakan oleh Devan sebenarnya untuk membuat Almira lebih tenang. Alga hanya tersenyum kecil saja melihatnya.


Mereka semua pun sarapan walaupun sebenarnya sudah telat satu jam untuk dikatakan sarapan. Tidak apa yang penting mengisi perut sebelum memulai hari. 


Tidak tahu bagaimana kabar saudara Gautama lainnya. Apakah mereka juga ada yang merasa iri atau tidak. Alga tidak ingin memikirkannya. Yang harus ia lakukan saat ini hanyalah menunggu dimana hari kelulusannya di laksanakan. Baru ia akan menggantikan posisi ayahnya. 


Selesai sarapan. Alga keluar dari dalam rumah. Sedangkan, yang lainnya pergi ke kamarnya masing-masing untuk membersihkan diri. 


Alga mengumpulkan semua para pekerja di rumah ini di bagian halaman depan. Sekalian menjaga-jaga kalau ada hal aneh kembali dari area gerbang masuk rumah. 


Setelah semuanya sudah berbaris dengan rapi dengan posisi Alga yang berada di hadapan mereka semua. Dengan memberikan tatapan yang serius. 


"Selamat pagi semuanya." Ucap Alga yang mengawali pembicaraannya dengan selamat pagi. 


"Selamat pagi juga Tuan muda." Jawab mereka semua kompak. Alga tersenyum kecil. 


Kenapa jantungku berdebar. Ternyata begini ya rasanya menjadi pemimpin. 


"Sebelumnya, aku ingin bertanya kepada kalian semua. Apakah kalian setia kepadaku?" Tanya Alga serius dengan suara yang tegas. 

__ADS_1


"Siap, kami setia Tuan muda." Jawabnya serempak. 


"Apakah kalian setia kepada keluarga Gautama?" Tanya Alga lagi.


"Siap, kami setia Tuan muda." Jawabnya lagi kompak. 


"Baiklah, terima kasih. Sebagai hadiah karena kalian setia kepadaku. Saat aku sudah bisa menggantikan posisi ayahku nanti. Aku akan menambahkan bonus setiap bulannya untuk kalian semua." 


"Siap, Terima kasih Tuan muda." 


"Aku juga ingin memberikan informasi kepada kalian semua. Mulai hari ini aku akan memperketat penjagaan di setiap sudut rumah ini. Jangan menerima siapapun tamu yang datang ke rumah. Jika sangat mendesak, minta izin terlebih dahulu kepadaku. Dan…" Alga menghentikan ucapannya karena mendengar suara gerbang yang terbuka. 


Semuanya menoleh ke arah gerbang yang terbuka. Lalu, masuk para pengawal yang naik motor tadi yang sempat mengejar dua orang berpakaian serba hitam. 


Alga meminta mereka segera bergabung dalam barisan. Alga menghela nafasnya. Karena sebenarnya dia lupa dengan pengawal yang sempat mengejar. Untung saja mereka selamat. Tidak ada kejadian apapun lagi. 


Namun, ada sisi yang mengecewakan karena melihat para pengawal itu yang kembali tanpa membawa kedua orang berpakaian hitam bermotor itu. 


Alga pun melanjutkan yang sempat terhenti tadi. 


"Dan yang perlu kalian ingat dan biasakan mulai hari ini. Mulai saat ini Almira Kaneisha Gantari adalah Nona muda Gautama."


Semua yang ada dalam barisan pun tampak saling tatap dengan yang lainnya. Mereka tidak mengerti kenapa Almira menjadi Nona muda Gautama. Alga yang melihat pun langsung menjelaskannya kepada mereka. 


"Memang dia bukan keturunan Gautama. Tetapi, apapun yang menjadi perintahku. Lakukan saja. Tidak perlu membantah. Mengerti!" 


"Siap, mengerti tuan." Jawab mereka kompak walaupun sebenarnya mereka masih kurang paham. 


Setelah selesai. Semuanya dibubarkan. Untuk yang ketinggalan bisa bertanya kepada yang lainnya. Tapi, dia meminta pengawal yang mengejar tadi berhadapan dulu dengannya. 


"Bagaimana apa yang terjadi selama di jalan?" Tanya Alga langsung. 


"Motornya sangat kencang tuan. Kami tidak dapat mengejarnya. Kami kehilangan saat kondisi lalu lintas macet." Jawabnya. 


"Ah, ya baiklah. Tidak apa. Istirahat lah kalian." Ucap Alga. 


Mereka pun membungkukkan tubuhnya hormat. Lalu, pergi dari hadapan Alga. Alga pun kembali masuk ke dalam rumah. 

__ADS_1


Bersambung. 


__ADS_2