Love "A" Double

Love "A" Double
Ayah Gautama Dalam Video


__ADS_3

Alga dan Devan masih terus memfokuskan mata mereka terhadap layar laptop yang menunjukkan ayah Gautama sedang duduk dengan kedua tangan diikat kebelakang pada satu kursi. 


Terlihat orang dengan pakaian lengkap berwarna hitam untuk menutup seluruh tubuh termasuk wajahnya kecuali matanya. Suara orang yang menyekap ayahnya terdengar jelas di telinga mereka berdua saat video itu sedang berputar. 


Orang itu terlihat sedang berada di belakang ayah Gautama yang duduk terikat. Dia bicara di samping telinga Ayah Gautama yang terlihat sangat cemas. 


Suara orang yang menyekap ayahnya itu.


"Bicaralah, aku sedang membuat video untuk diberikan kepada anakmu nanti."


Ayah Gautama hanya diam karena mulutnya di tutup oleh kain. Jadi, tidak bisa berbicara bahkan satu kata pun tidak akan bisa dikeluarkan secara jelas. 


"Minta tolonglah kepada anakmu itu."


"Minta tolong supaya dirimu diselamatkan. Haha…, pasti dia tidak tahu dimana dirimu berada sekarang ya." 

__ADS_1


Orang itu menampar pipi Ayah Gautama dengan kencang. Alga yang melihatnya menahan geramnya. Tapi, ia tetap melanjutkan menonton videonya. 


"Ternyata kau tidak mau bicara ya. Baiklah, tidak perlu bicara." 


"Alga apa kau sedang menonton video ini sekarang. Kalau iya, segeralah berikan saham sebesar enam puluh lima persen dari Perusahaan GG. Kalau tidak ayahmu akan mati." Orang itu memperagakan tangannya seperti sedang menyayat lehernya dengan pisau. 


"Haha…" Orang itu tertawa.


"Sudahlah, aku bosan. Alga kau nikmatilah video ayahmu ini. Aku akan pergi. Membiarkan kalian berdua. Walaupun tidak bisa berbicara. Haha…" Orang itu pergi tanpa mematikan kamera yang sedang membuat video itu. Sisanya hanya menunjukkan Ayah Gautama yang diam terikat tidak melakukan apapun. 


Alga kembali teringat dengan kejadian semalam. Dimana Almira melihat kemeja putih yang menurutnya kemeja milik ayahnya. Karena memang benar. Dimana di sisi bawah bagian kiri kemeja terdapat nama Wisnu Gantari. 


"Alga, kau yang sabar ya. Kita selesaikan ini semua perlahan dengan cara cerdas bukan cara cepat. Tapi, dimana ayahnya Almira. Tidak mungkin kan kalau kemeja kemarin malam itu benar-benar punya ayahnya Almira." Devan membuka suara setelah video berdurasi lima menit itu sudah selesai. 


"Maaf." Satu kata yang Alga keluarkan. Devan bingung kenapa mengucapkan maaf kepadanya. 

__ADS_1


"Untuk apa?" Devan heran. 


"Karena aku. Kau, Danisa dan Almira harus terkait dalam masalah ini." Alga tertunduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya dengan siku lengannya yang bertumpu pada meja Kerjanya.


"Sudahlah Alga. Mungkin di saat inilah peran sebagai sahabat dibutuhkan." Devan memberi pengertian sambil menepuk bahu Alga beberapa kali. 


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku cukup bodoh dalam hal ini." Alga bertanya dengan posisi yang masih sama. 


"Aku merasa ada yang sedikit mengganjal dalam perasaanku saat menonton video itu. Tapi, ada apa ya?" Devan mencoba memutar ulang kembali video itu.


Alga tetap tertunduk tak kuasa melihat ayahnya yang sedang disekap. Entah dimana. Bukankah pergi untuk bisnisnya melainkan disekap. 


Peran sebagai anak yang patuh dan bertanggung jawab sangat dibutuhkan sekarang. Demi sang ayah. Karena memang ayahnya lah yang tinggal dimilikinya. Sama dengan Almira. Pak Wisnu satu-satunya keluarga yang masih dimiliki oleh Almira. Karena ibunya sudah meninggal sama seperti Alga.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2