
Jam istirahat pertama Yara memutuskan untuk pergi ke perpustakaan untuk mencari buku yang bersangkutan dengan tugas yang diberikan pak guru pagi tadi.
Di sana, Yara melihat Linda duduk bersama teman-temannya sambil menulis di buku masing masing, Linda sempat menoleh ke arah Yara lalu mengabaikannya begitu juga dengan Yara yang langsung pergi.
Dengan teliti Yara mencari buku yang berkaitan dengan sejarah “Membaca sejarah memang asik, tapi kalau ada ulangan pelajaran sejarah maka jawaban pun bisa tertukar tukar dengan soal lain sangking banyak nya hal yang harus di hafal. Mulai dari tahun lah, nama orang, negara, kota, peninggalan, bahkan mamak bapak kakek buyut pun juga dipertanyakan,” omel Yara dalam hati, kerna sering mengalami tertukarnya jawaban dengan soal lain.
Setelah memilih-milih, Yara mencari meja yang kosong, lalu meletakkan tumpukan buku yang ia bawa.
“Ah beratnya, lebih berat lagi kelau membaca semuanya,” keluh Yara.
KRESEK
Sebuah kantong plastik mendarat di meja Yara diantara tumpukan buku-buku.
“Kak Ray? Apa ini?”
“Untuk mu.”
Tidak ada lagi sambungan kata lagi, Ray langsung pergi meninggalkan Yara yang menatap nya heran dan bernapas lega setelahnya.
__ADS_1
“Huh keberadaannya membuat ku takut, apa aku minta pindah sekolah aja ya sama papa?” Yara segera membuka kantong yang di bawa Ray, terlihat di dalamnya ada kotak lagi serta beberapa bungkus merek kopi yang Yara minum di rumah Ray kemarin.
“Roti?! apa karena aku bilang roti ini enak makanya ia memberikan ini? Haha kopinya juga di berikan dengan merek yang sama,” kekeh Yara merasa tindakan Ray ini sangat menggemaskan.
Yara berdiri lalu keluar berlari ke kantin sekolah untuk meminjam gelas dan juga meminta air panas untuk menyeduh kopi.
Setelah selesai Yara kembali lagi ke perpustakaan, beruntung perpustakaan memperbolehkan untuk membawa makanan ringan tetapi dengan syarat harus dibersihkan setelahnya.
“Enak banget.” Yara menikmati waktunya dengan secangkir kopi juga roti panjang yang menurut Yara cocok dipadukan bersama.
“Sebentar lagi masuk kelas, aku harus membereskan ini semua,” ucap Yara lalu terdiam sebentar. “Eh iya, kan jam kosong.” Yara duduk kembali melanjutkan kegiatannya.
“Yang selama ini selalu ada untukmu adalah aku bukan Ray! Tapi kau malah jadian dengan Ray. Sebenarnya kau menganggap aku apa, Poppy!?” ujar Gilang geram, ia juga baru tau kalau Poppy berpacaran dengan Ray dari temannya.
__ADS_1
“Bukankah kita teman?! Hanya itu tidak lebih!” jawab Poppy menepis tengan Gilang yang berada di pundaknya.
“Hanya teman? Teman seperti apa yang merelakan semua waktunya untukmu padahal masih ada hal yang lebih penting?”
“Sebaiknya lupakan saja perasaanmu itu, kerna yang aku sukai sejak awal masuk ke sekolah ini adalah Ray bukan kau Gilang, maaf.” Poppy berlari meninggalkan Gilang, merasa prustasi Gilang mengacak ngacak rambutnya bahkan menendang kerikil yang berserak di sekitarnya.
Di sisi lain ada seorang pria yang melihat dari jendela lantai dua dengan senyum penuh kemenangan, ia adalah Ray.
“Kau akan menyesal dengan pilihanmu Poppy, atau lebih tepatnya saudari tiri ku,” gumam Ray. Ia hanya ingin bermain-main dengan Poppy, tidak ada hal serius untuk menjalin hubungan dengan Poppy mengingat masa kecilnya dulu yang selalu di sakiti.
__ADS_1
Tbc.