
Tetesan air mata yang mengalir begitu saja melihat keluarga dan besan berfoto bersama, sedangkan dirinya tidak ada padahal ia adalah bagian dari keluarga pengantin perempuan.
Dari kejauhan Yara dapat melihat keluarganya tampak bahagia seolah tidak merasa ada yang kurang dalam foto tersebut.
Tanpa sadar kaki Yara menapak sendiri ingin menggapai keluarga yang sudah lama yang tak ia lihat ada di depan sana.
“Yara,” panggil Ray, Yara pun berhenti sejenak. Lalu tiba tiba...
“KAK AGHAAA!!” teriak Yara.
Ray terkejut dengan teriakan Yara, ia langsung menarik Yara membekap mulutnya lalu menyeret pergi Yara walaupun gadis itu memberontak dan tetap berusaha berteriak.
Sedangkan Agha celingak celinguk panik kerna barusan ia merasa mendengar suara Yara yang memanggilnya.
“Yara! dimana kau? YARAA!!” teriak Agha memanggil Yara membuat para tamu undangan terkejut dengan teriakannya.
“Yara, kaka tahu kau di sin,i iyakan?” Agha terlihat seperti orang gila, ia bolak-balik lari kesana kemari bahkan mengecek satu persatu gadis yang menjadi tamu undangan.
__ADS_1
“Agha hentikan!” teriak Calvin merasa malu dengan tingkah Agha.
“Yara ada di sini, Pah, tadi Agha dengar suaranya memanggil nama Agha,” ucap Agha dengan napas yang memburu, ia bahkan dapat mendengar suara jantungnya sendiri yang kencang akibat keterkejutan yang menurutnya nyata.
“Mungkin itu khayalanmu saja Gha, iklaskan Yara biarkan dia istirahat dengan tenang.”
“PAH!” bentak Agha.
Reva segera menengahi suami dan putranya kerna suasana nya sudah mulai panas, Reva menarik mereka berdua untuk menjauh dari lokasi tamu undangan.
“Gha dengarkan mama, tidak ada Yara di sini. Mungkin itu hanya firasatmu saja, tenangkan dirimu, nak,” ucap Reva lembut.
“Bukan kau saja yang merindukan Yara, kami jugaa, nak” ucap Calvin berusaha tegar, ia memeluk Agha untuk sesama menguatkan.
Seandainya jasad Yara ditemukan mungkin Agha lebih mudah melepaskan, tapi situasi yang dihadapinya berbeda. Jasad Yara tidak di temukan membuat Agha yakin kalau Yara masihlah hidup.
“Agha yakin Yara masih hidup pah.”
......................
__ADS_1
Yara dan Ray berjalan di hutan untuk kembali ke rumah yang menurut Yara adalah tahanan, dengan penjaga yang merupakan predator mengelilingi area hutan sedang kan Ray berperan sebagai kepala sipirnya.
“Kaka tidak akan membawamu keluar lagi,” ucap Ray.
“Kaka sudah mengatakan itu berapa kali? Aku bosan mendengarnya” cibir Yara sambil merengut.
Sesampainya di rumah Ray mengeluarkan sesuatu. “Nih ambil.” Ray menyerahkan topi baret dan kacamata.
Mata Yara melotot kini satu satunya harapan Yara juga ikut hancur. “Kenapa itu ada sama kaka?”
“Kau kira kaka tidak tau? Kau menjatuhkan ini dengan sengaja agar benda itu bisa menjadi petunjuk kalau kau masih hidup kan Yara?”
Yara terdiam seribu bahasa, ternyata saat itu ia menunggu Ray lama di mobil kerna Ray mencari Retno untuk mengambil barang barang yang sengaja ia jatuhkan.
“Tidak ada celah, Yara. Kaka sudah menjelaskan pada temanmu itu kalau kita baru menginjakkan tanah ke negara ini untuk liburan.”
“Bagaimana bisa dia tau?” ucapnya dalam hati, Yara sepertinya lupa kalau Ray sangat teliti.
Yara pergi ke kamar dengan wajah kesal, ia sungguh lelah dengan kegagalannya di kesempatan yang entah kapan lagi datang. Yara sudah berusaha bahkan sampai nekat meneriaki nama kakanya. Menangis? Ya, Yara sedang menangis dibalik bantal nya.
__ADS_1
Tbc.