
"Kak Ray bangun, ayo minum obat" Yara mengguncang tubuh Ray guna membangun kan nya
"Obat apa?" Ucap nya dengan suara berat khas bangun tidur
Yara tertunduk malu, suara ini terdengar seksi di telinga Yara. Ray menyeringit heran, bukannya menjawab pertanyaan nya, Yara malah tertunduk sambil menggigit bibirnya menahan senyum
"Yara?"
"Ah apa!"
"Itu obat apa?" Ray mengulang pertanyaan nya lagi
"Obat demam, kaka sakit kan? kenapa tidak bilang sih?"
Yara memberikan obat serta air putih pada Ray, pria itu pun langsung menerima nya tanpa ragu
"Terimakasih" Ucap nya sambil tersenyum
Beberapa menit kemudian Ray kembali tertidur, mungkin kerna efek dari obat itu
Yara menatap Ray tengah tidur, satu kata yang keluar dari mulut yara 'Sempurna'. Pria ini teramat tampan, pasti di luar sana para wanita mengagungkan namanya
Apa Yara masih marah dengan Ray? entahlah tapi rasa itu perlahan terkikis setelah ia berhasil membuat kekasih Ray mati mengenaskan. Bukankah seharusnya itu saja sudah cukup?
Selagi Ray tidur, Yara sekarang tengah berhadapan dengan keluarga pak Teon yang datang ke rumah bersama Jimmy, sedangkan istrinya tidak ikut kerna ada urusan penting di usaha butik milik nya sendiri
__ADS_1
Suasana terasa menegang ketika Calvin menjelaskan kalau ia tidak bisa menerima tawaran Teon untuk menjodohkan Yara dan Jimmy
"Tapi kenapa Calvin?" Tanya Teon mencoba menahan emosi, ini penghinaan! harga dirinya merasa di injak injak dengan penolakan tersebut
"Maaf Teon tapi Yara belum ingin menikah, usia nya masih 18 tahun. Bukan kah kau ingin segera mendapatkan cucu? aku rasa Yara belum siap untuk mempertaruhkan masa muda nya untuk mengasuh" Jawab Calvin, ia sangat mengkhawatirkan hal itu juga
"Bagaimana Jimmy?" Teon beralih pada putra tunggal nya yang sangat menginginkan Yara itu
"Bagaimana kalau menunggu dua tahun lagi? aku siap jika menunggu selama itu" Ujar Jimmy mencoba mencari titik terang
"Apa?" Sontak Jimmy, gadis di hadapan nya ini bukan lah gadis gampangan yang bodoh ia tidak bisa tertipu dengan kata kata murahan yang terlalu pasaran. Menunggu katanya? Jimmy itu orang yang tidak sabaran, bisa saja dia dengan sengaja menghamili Yara dan berakhir mereka menikah dengan cepat. Yara menyadari hal itu saat Jimmy membawanya ke ibu kota untuk bertemu Sang paman, padahal mereka baru bertemu sehari, sungguh sangat tidak sabaran
"Yara biar papa mu saja yang bicara" Tegur Reva. ia takut perkataan putrinya malah menimbulkan konflik di antara Calvin dan Teon
"Maaf Teon, tapi bisakah kau mengerti hal ini?" Ucap Calvin
__ADS_1
"Baiklah aku mengerti"
"Papa!" Jimmy tidak setuju ia membentuk raut kesal di wajahnya
"Jimmy!!" Tekan Teon memarahi putranya "Kalau gitu kami permisi pulang"
Teon dan Jimmy pun pulang. Calvin tau kalau sebenarnya Taon marah, mungkin esok ia akan kehilangan jabatannya sebagai direktur di perusahaan Teon
"Apa papa akan di pecat besok?" Tanya Yara ketika melihat raut tidak enak dari wajah papa nya
"Kau tidak usah pikirkan itu, kebahagiaan mu lebih penting"
"Terimakasih pah" Yara memeluk papa nya. Calvin sedang melindungi putrinya, bahkan sejak pembicaraan tadi Calvin tidak mengatakan kalau Yara sudah tidak perawan demi menjaga image anak nya.
**Tbc**.
__ADS_1