
Yara berdiam diri di dalam mobil yang sudah dikunci Ray, menunggu kedatangan pemuda itu yang entah kemana.
“Lama banget, kemana sih?” keluh Yara sambil melihat lampu lampu kota yang menyala.
Tak lama kemudian Ray kembali dan langsung melanjutkan perjalanannya menuju ke kota yang menjadi tempat makam mamanya.
Baru setengah perjalanan Yara sudah tertidur mengingat ini sudah waktu jam tidur Yara, Ray memberhentikan mobil sebentar untuk membuat kursi yang Yara pakai nyaman untuk ditiduri lalu ia melanjutkan perjalanannya.
Pukul 06.02 Pagi
Yara terbangun dari tidurnya, netranya langsung teralihkan pada orang yang juga tidur di samping tampak pulas.
Mereka berdua tidur di mobil yang terparkir di tepi jalan, Yara merasa panik kerna Ray memarkirkan mobilnya sembarangan. “Kak bangun,” panggilnya dengan menggoyangkan tubuh Ray.
“Kak ayo cepat bangun, sebelum mobil ini diderek kerna parkir sembarangan!” pekik Yara berusaha membangunkan Ray.
“Emm,” lenguh Ray yang mulai mengerjapkan matanya. “Jam berapa ini?”
“Lihat di HP kaka, Yara tidak tau. Ayo cepat pergi kak sebelum ada yang melapor.”
“Tenang saja ini kawasan yang aman,” jawab Ray ringan, ia menguap kerna baru sebentar rasanya Ray memejamkan mata.
“Beneran aman?”
__ADS_1
“Hem.”
“Kaka lanjut aja tidur biar Yara yang pergi beli sarapan.”
“Enggak! Nanti kau kabur” cegah Ray curiga.
“His siapa juga yang mau kabur? Yara cuman kasihan sama kaka pasti capek nyetir semalaman. Jadi buka kunci pintunya biar Yara saja belikan sarapan,” pujuk Yara dengan mata berbinar.
“Ok,” jawab Ray tiba tiba sambil menatap Yara dengan kekehan yang terdengar seperti mengejek, walaupun begitu Yara tetap positif dalam berpikir.
Benar! Ray benar benar membiarkan Yara ke luar sendiri tanpa dirinya. Tapi..
“Yara!” Baru beberapa langkah Ray kembali memanggil Yara.
“Ada apa kak?”
“Tidak ada, emangnya apa?” Bingung Yara, ingin segera rasanya Yara berlari tapi jika hal itu di lakukan sudah pasti Ray dapat mengejar Yara, langsung Ray lebih cepat dari Yara, ingat!
“Kemarilah,” panggil Ray meminta Yara untuk mendekat, Yara pun mengikuti printahnya dari pada Ray malah curiga.
Ray membuka pintu lalu menarik Yara kembali masuk tak lupa ia langsung mengunci semua pintu mobilnya secara otomatis.
“Hah!? Kok dikunci lagi kak? Kan Yara mau pergi beli sarapan.”
__ADS_1
“Mau beli sarapan atau kabur?” sindir Ray dengan kekehan kecil.
“Mau bel-
“Hanya orang bodoh saja yang membiarkan sanderanya berjalan sendiri di tempat bebas seperti ini,” potong Ray, ia merasa lucu dengan usaha Yara yang menurutnya konyol.
“Sialan!” Yara menggeram kesal namun tidak bisa ia ucapkan atau dia akan semakin malu.
“Yara tidak ingin kabur kok,” bantah Yara mencoba membela dirinya yang sudah terlanjur ketahuan.
“Kau tau apa yang kau lupakan tadi Yara?”
“Apa?”
“Kau memasukan semua barang barang mu ke dalam tas, tapi kau lupa kalau tidak punya uang. Sudahlah lupakan itu, Yara lapar kan? nih makanlah, kaka sudah membelinya tadi malam.” Ray menyerahkan bungkusin roti tawar dengan selai srikaya yang ia taruh di laci mobil tak lupa juga dengan susu kotak rasa vanila yang menjadi favorit Yara waktu kecil.
“Susu ini?”
“Kaka ingat waktu kecil kau sering meminumnya,” jawab Ray yang mengerti maksud Yara
“Ternyata kaka ingat, tapikan itu masa lalu sekarang Yara suka kopi dan roti prancis”
“Haha kaka menyesal pernah menawarkanmu itu dulu, lihatlah sekarang kau menjadi pecandu kopi,” kekeh Ray. Yara mengoleskan selai ke roti lalu memakannya bersama Ray di dalam mobil.
__ADS_1
“Aduh gimana nih,” keluh Yara dalam hati kerna rencananya gagal.
Tbc....