
TAK.
Sebuah map dihempaskan di atas meja tepat di hadapan Yara. Map yang tergambar logo sekolah di Italia serta nama bertuliskan, 'Ivy Ayyara' menjadi salah satu pusat perhatian Yara terhadap map itu.
Dengan penasaran Yara membukanya. “Ijazah?” Sekarang Yara sadar bertapa lamanya sudah ia di asingkan di hutan.
“Sudah tiga tahun aku di sini” gumam Yara, tersenyum getir. “Seharusnya ijazah ini kudapatkan sendiri bukan hasil kerja orang lain, aku merasa jadi penjahat sekarang.” Yara menatap Ray yang seakan tidak perduli bahkan pria itu semakin tampak mengerikan setiap harinya.
Walaupun Yara sudah lama hidup hanya berdua saja dengan Ray, Yara masih tidak mengerti dengan jalan pemikiran Ray. Setiap hari Yara berdoa untuk dibebaskan dari hutan ini dan kembali ke kehidupan lamanya.
Tapi ada satu hal yang membuat Yara lebih menderita, Yaitu kenyataan bahwa ia tanpa sadar menaruh perasaan pada kaka tirinya sendiri. Bagaimana tidak? Di tengah hutan ini satu-satunya manusia yang Yara lihat hanyalah Ray. Yara gadis normal yang pasti akan memiliki ketertarikan pada lawan jenis. Yara akan menahan cemburu ketika Ray mengatakan ia ingin bertemu kekasihnya, Maya.
“Gunanya ijazah ini untuk apa? kau bahkan mengasingkan aku di tengah hutan ini, aku yakin di luar sana semua orang sudah menganggapku mati,” ucapnya menahan air mata, kenyataan ini terlalu pahit untuk ia terima.
“Mau sampai kapan Yara di sini kak? Aku capek!” bentak Yara menghempas map yang ia pegang di atas meja, lalu langsung berlari ke kamar.
Setelah dua jam lamanya Ray membiarkan Yara sendiri di kamar barulah ia menyusul Yara guna membujuk gadis itu. “Yara?” Panggilan Ray tidak mendapat respon dari Yara. Dia kemudian mendapatkan ide. “Mau jalan jalan ke kota?” tawarnya.
Yara langsung bangun mendengar pertanyaan Ray, ia melotot seakan meminta Ray mengulangi perkataannya.
“Kaka bilang apa tadi?”
__ADS_1
“Mau jalan jalan ke kota?”
“Yara tidak salah dengarkan kak? Kaka mau melepaskan Yara kan?” duga Yara senang sambil menyeka air matanya terharu.
“Kaka tidak bilang melepaskanmu, kita hanya jalan jalan setelah itu baru kembali lagi ke sini.”
“Hiss” keluh Yara.
“Yaudah gak jadi”
.
.
Yara dan Ray berjalan berdua di hutan untuk mencapai mobil yang ditaruh Ray dengan jarak yang sangat jauh.
“Ngapain sih kak naruh mobil jauh banget, udah satu jam lebih gak nyampe-nyampe,” keluh Yara, sudah lama ia tidak berjalan kaki sejauh ini.
__ADS_1
“Bentar lagi sampai,” jawab Ray.
Sesampainya di mobil, Yara melompat kesenangan, akhirnya dia merasakan lagi duduk di kendaraan roda empat.
Pelanggan bolak-balik hutan ini hanya Ray. Adapun pengendara lain, mereka tidak berani berkendara malam di area jalanan hutan, bahkan hanya sekedar berhenti sebentar saja untuk buang air kecil pengendara lain tidak mau. Jalanan itu semakin sepi setelah berita penemuan mayat seorang wanita tiga tahun yang lalu.
Lajunya Ray berkendara membuat perjalanan cepat berlalu hingga tak terasa sudah keluar dari area hutan.
“Wah kita sudah keluar kak,” girang Yara menatap jendela mobil.
“Hmm.”
Sebelum sampai di kota Ray memberikan topi dan masker untuk Yara kenakan menutupi identitasnya.
“*Sepertinya kesempatan seperti ini bisaku gunakan untuk kabur*,” ucap Yara dalam hati merencanakan sesuatu yang membuatnya terlepas dari tangan Ray.
__ADS_1
Tbc.