
Ray sudah bisa menerima akan kematian Maya setelah sebulan ini merenung. Yang sebenarnya menjadi masalah terbesarnya adalah pelaku yang membunuh kekasih nya merupakan orang yang tak ingin ia lukai. Ia sampai bingung harus berbuat apa, seandainya pelaku nya bukan Yara sudah di pastikan Ray akan menguliti orang tersebut
Rasa kesepian melanda nya selama satu bulan ini, bahkan bunga yang di tanam Yara di halaman sudah mati serta dedaunan kering kembali menyelimuti halaman nya seperti dulu lagi
Hari hari yang ia jalani terasa asing, ketika ia membuka mata dari tidur nya tidak ada lagi gadis cantik di sisinya yang selalu menyambut awal aktifitas Ray. Rindu? Tentu saja, ia sudah terbiasa dengan kehadiran Yara
Pikiran nya semakin terusik tidak tenang dengan kenyataan yang ia dapati semalam. Perasaan tidak ikhlas timbul begitu saja entah kenapa
"Sial!" Umpat Ray sambil membanting pintu untuk kembali ke luar
Di sisi lain ada perdebatan antara Agha dan juga Reva membahas tentang pikiran Reva untuk menjodohkan Yara dan Jimmy
"Aku tidak terima!" Tegas Agha
"Hentikan Agha! Jimmy berasal dari keluarga terpandang dia sangat cocok untuk Yara"
"Apa mama menanyakan pendapat Yara? tidak kan? dia baru saja kembali dan mama malah ingin memberikan nya pada orang lain!" Agha di buat geram dengan perdebatan tak kunjung selesai ini, sedangkan Yara hanya duduk diam di kursi sambil melihat dan mendengar perdebatan mereka
"Yara setuju kan nak?" Reva beralih menatap Yara, kini semua mata tertuju pada Yara termasuk papanya yang sebenarnya turut ambil bagian rencana
__ADS_1
"Aku tidak mau" Jawab Yara to the point
"Tapi nak ini permintaan Pak Teon" Kata Calvin berdiri mendekati Yara yang ada di depan nya, ia pegang kedua tangan Yara berbicara sehalu halus nya guna memujuk gadis itu
"Apa papa akan di pecat kalau Yara menolak?" Tanya Yara
"Papa tidak tau tapi itu bisa saja terjadi, menolak Teon yang merupakan orang terpandang sama saja melukai harga dirinya"
Terdiam, semua orang terngaga dengan perkataan Yara barusan. Yara meremas ujung bajunya, kepalanya merunduk dan bulir bening jatuh dari pelupuk matanya.
"APA KATAMU!?" Bentak Calvin menggema di ruangan itu
"DIAM!!" Balas Agha yang langsung membentak papanya, Agha melempar papanya menjauh dari Yara sehingga Calvin terduduk di lantai dekat kaki Reva yang masih terdiam membisu dengan segala keterkejutan nya
__ADS_1
Tindakan Agha terkesan kurang ajar, tapi itu ia lakukan kerna menurut Agha papanya sudah melewati batas. Perlahan Agha merengkuh tubuh gadis yang menangis terisak
"Tidak apa apa jangan menangis" Ucap Agha menenangkan.
PLAK"
Terdengar suara tamparan yang keras, itu Calvin yang menampar dirinya sendiri. "Maaf papa membentak mu tadi nak, tadi papa hanya terkejut" Lirih Calvin tidak bergerak dari tempat nya
"Selama tiga tahun lebih ini pasti sudah benyak sesuatu yang terjadi pada mu, seharusnya papa bersyukur dengan hanya kepulangan mu saja dalam keadaan hidup" Sambung Calvin penuh penyesalan kerna emosi sesaat nya tadi
Yara hanya mendengarkan masih terisak dalam pelukan hangat sang kaka
"Tidak usah menjodohkan Yara, biarkan Yara memilih pasangan nya sendiri nanti. Lagian umurnya masih 18 tahun perjalanannya masih panjang pah" Kata Agha
"Papa akan bicarakan ini pada Teon" Calvin beralih pergi ke kamarnya membawa Reva yang masih tidak bersuara, mungkin ia masih shock.
__ADS_1
**Tbc**.