
Di dalam kamar Yara sendiri menunggu Ray yang tengah berbicara dengan Calvin di ruang kerja nya
Rasanya sudah lama Yara menunggu tapi Ray belum juga kembali, ada hal yang ingin Yara tanyakan maka dari itu ia menunggu dengan tidak sabar nya
"Apa sih yang mereka bicarakan kenapa lama sekali?" Gerutu Yara
Krek"
Pintu kamar pun terbuka menampakkan sosok yang sedari tadi Yara tunggu
"Menunggu?"
"Iya iyalah, sini duduk" Pinta Yara sembari menepuk kasur di sebelah nya
"Apa lagi hmm? kau belum memaafkan kaka?"
"Bukan itu tapi Yara penasaran saja kenapa kaka tiba tiba mengakui kalau kaka saudara tiri kami bahkan bersedia bertemu papa juga"
"Biar gampang keluar masuk rumah ini saja, tidak ada alasan lain"
"Hanya itu?"
__ADS_1
"Iya, setidaknya Yara tidak perlu di curigai kerna membawa makanan ke kamar. Kaka akan makan di meja makan yang sama dengan mu secara terang terangan"
Benar benar semua tindakan Ray di luar nalar Yara, pria ini bertindak sesuka hati nya. Yara mengehela napas nya kasar dan langsung saja berbaring memejamkan mata nya, sungguh otak nya cukup di buat bekerja keras hanya kerna memikirkan sebenarnya apa mau Ray
Terdiam beberapa detik..
"Tadi papa meminta kaka menceritakan semua apa yang terjadi"
Yara yang penasaran membuka matanya untuk mendengar kelanjutan cerita Ray "Jadi apa kaka menceritakan semuanya?"
"Kaka hanya menceritakan kebohongan pada nya dan papa pun percaya"
"Emangnya apa yang kaka katakan?"
Yara tatap mata kekasih nya itu, terlihat rasa kecewa yang entah kenapa. Sepertinya ia menunjukkan pada Yara kalau ia butuh sandaran
Yara mendekat untuk menenggelamkan kepala Ray di dada nya "Apa kaka belum menemukan keberadaan nya?"
"Hmm" Gumam Ray, ia mulai mengantuk dengan rasa hangat yang memeluk tubuh nya erat
"Semoga saja dia masih hidup dan kaka di beri kesempatan untuk bertemu dengan nya lagi, Yara juga penasaran seperti apa wajah paman emm-" Terjeda sejenak "Siapa nama papa kaka?" Sambung Yara kembali
__ADS_1
"Lemuel Rederick, panggilan nya Red"
"Red? Yara suka warna Red"
"Hmm, mungkin kalau Yara bertemu dengan nya akan menyukai nya juga. Dia adalah sosok hebat, ayah yang penyabar dan penuh kasih sayang. Waktu mama hamil anak papa mu saja, papa masih menerima hanya saja saat itu kake marah besar dan mengusir mama serta mengancam papa kalau ia akan bunuh diri jika papa tidak menceraikan mama"
"Jadi paman Red dan mama Ezra terpaksa bercerai? Terus kenapa kaka memilih ikut dengan mama Ezra?"
"Kerna mama tidak punya siapapun lagi, maka dari itu kaka ingin ikut dengan mama"
Yara merasa kasihan dengan Ray sekaligus bangga kerna Ray sanggup bertahan hingga detik ini, bahkan dalam kehidupan yang gelap dan kejam penuh rintangan dan bahaya Ray tampak tangguh dari hasil latihannya bertahan hidup
"Berjanjilah jangan pernah meninggalkan kaka Yara"
"Yara janji"
Mereka pun saling menautkan jari kelingking sebagai bentuk perjanjian
"Em kak? apa papa tidak tau kan kalau kaka di sini?"
"Pintu kamar kaka, kaka kunci mungkin dia mengira kaka tidur di dalam sana".
__ADS_1
Tbc.