
“Kita putus.”
Dua kata yang membuat Poppy melebarkan matanya bahkan tersentak keget.
“APA!” teriak Poppy.
“Kita putus, hanya itu,” ucap Ray santai tanpa merasa bersalah.
“Kita baru menjalani hubungan empat hari dan kau ingin meninggalkanku? kau hanya bercanda kan Ray, bahkan kau sudah menyentuhku kau tidak bisa meninggalkan aku begitu saja setelah merusakku!” Mata Poppy berair hatinya merasa sesak kerna kebodohannya sendiri yang begitu mempercayai Rai yang dijuluki internasional playboy.
“Aku tidak memintanya kau lah yang memulai, sekarang kau menyesal? Kau terlalu percaya diri berpikir aku tidak akan bosan hanya karna kau memberikan tubuhmu begitu mudahnya? Urusan kita sudah sselesai, Poppy.” Ray melangkah pergi menjauh dari Poppy dengan seringai di bibirnya.
Poppy terduduk di lantai menyesali semua yang terjadi. “Apa yang harus ku kulakukan? Bagaimana kalau keluargaku tau kalau aku sudah tidak perawan lagi?” batin Poppy. Beberapa detik kemudian Poppy menangis berteriak mengutuk Rai si pria brengsek yang meninggalkannya.
Tiga hari kemudian.
Dengan isak tangisnya Yara menghubungi seseorang untuk mengadukan hal yang membuatnya merasa takut, ia tidak bisa menyembunyikan hal ini lagi.
“Yara kaka sedang sibuk, kalau kau ingin berbicara nanti saja,” ujar Agha.
__ADS_1
“Ini sangat penting jangan dimatikan dulu,” ucap Yara dengan cepat sebelum Agha mematikan sambungan.
“Ada apa? cepat katakan.”
“Kak Poppy menghilang,” kata Yara langsung.
“APA!”
“Sudah tiga hari dia tidak ada di kost ataupun di sekolah. Yara sudah melaporkan hal ini ke polisi tapi belum ada kabar baik dari mereka kak,” adu Yara segera menghapus air matanya yang jatuh begitu saja. ”Kaka di mana? Yara tidak menemukan kaka di sana saat melapor.”
“Kaka di kota lain, kaka akan mencari Poppy.” Setelah itu panggilan telpon pun tertutup.
Perjuangan Yara mencoba menghubungi Agha beberapa hari ini akhirnya di angkat juga, membuat beban pikiran Yara sedikit berkurang.
“Ray, apa dia membunuh kak Poppy?” Dengan tergesa-gesa Yara mengambil tasnya lalu berlari ke luar. Sepanjang gang, Yara berlari dan sesekali berhenti untuk sekedar mengambil napas panjang.
Yara bertanya kebeberapa orang yang ada di halte tentang kendaraan apa yang bisa membawanya ke tepi sungai dekat pinggiran kota yang daerahnya kumuh.
Setelah mendapatkan beberapa saran, Yara bergegas untuk pergi ke tempat di mana ia pernah beristirahat satu malam dengan nyenyaknya.
__ADS_1
“Em permisi,” pamit Yara pada seorang ibu-ibu yang tengah menyapu.
“iya dek ada apa?” responnya.
”Rumah Ray ke arah yang mana ya, bu?” Yara lupa dengan letak rumah Ray terlebih banyak gang kecil yang bercabang-cabang.
“Ray siapa ya dek?” tanya ibu itu bingung.
“Frey Grayson, buk. Seingat saya dia tinggal di daerah sini,” jelas Yara.
“Maaf dek saya tidak kenal.”
“Oh yaudah buk saya permisi, makasih, ya.” Yara kembali melanjutkan perjalanannya dengan kaki yang terus melangkah padahal sudah lelah.
Pukul 18.01.
Cukup lama perjalanan Yara berkeliling-keliling serta bertanya ke orang yang ia lihat, tetapi mereka selalu mengatakan tidak mengenal Ray. Hari mulai gelap, Yara terus berjalan kerna ia tidak tau harus ke mana untuk beristirahat.
“Kakiku capek,” keluh Yara berjongkok sambil celinguk kanan kiri mencari tempat yang cocok untuk ia duduk.
__ADS_1
Tbc.