Married With Stepbrother

Married With Stepbrother
Bab 33


__ADS_3

Yara dan Ray tetap melanjutkan perjalanannya walaupun diguyur hujan lebat. “Apa masih lama sampainya kak?” rengek Yara yang sudah kedinginan, bahkan bulu Moco yang lebat tampak seperti botak kerna basah kuyup.


“Bentar lagi,” ucap Ray.


Tak lama kemudian rumah Ray sudah mulai kelihatan, bukannya senang yara malah kelihatan syok.


“Jemuran ku!” teriak Yara dengan kedua tangannya yang memegang kepala, pakaian yang Yara cuci tadi pagi habis basah bahkan ada yang jatuh ke tanah.


“Pfft.” Ray mencoba menahan tawanya kerna menurutnya itu lucu.


Yara berlari memungut jemurannya, dengan wajah yang kesal Yara membawanya masuk untuk dicuci lagi.


Sedangkan Ray pergi ke kamar untuk mandi.


“Kak Rai baju mu bawa sini!” teriak Yara dari dapur.


“Sebentar.” teriak Ray membalas.


Ray datang setelah selesai mandi dengan baju kaos putih dan celana pendek dongker. “Nih.” Ray memberikan baju basahnya tadi.


Yara menerimanya kasar kerna kesal. “Aku benar-benar jadi babu di sini, ” omel Yara, sedangkan Ray hanya tersenyum mengejek.


Setelah selesai dengan cuciannya, Yara pergi untuk mandi lalu bersiap untuk memasak.



Yara meletakkan semua masakannya di atas meja dengan rapi.



“Kak Ray ayo makan,” panggil Yara.



“Hah! kenapa semuanya jamur?” perotes Ray.


__ADS_1


“Kenapa? Ini enak kok, ada sup jamur, ada jamur krispi, dan jamur tumis. Sengaja yara masak semuanya kerna kalau dibiarkan nanti jamurnya busuk, kulkas sudah penuh tidak muat lagi untuk menyimpan jamur.”



“Bisa bisa kepalaku tumbuh jamur juga nanti.” Ray ikut duduk menikmati makanan yang sudah terhidang, bahkan dia makan dengan lahap kerna masakan Yara yang enak.



“Bagaimana? enak, kan?” tanya Yara.



Ray tidak merespon Yara, dia sedang malas memuji.



“Kak? enak?”




Kesal tidak dapat tanggapan, Yara mengambil semua piring yang berisi masakannya bahkan piring Ray juga ikut di rebut.



“Kenapa kau ambil?” bingung Ray.



“Pikir saja sendiri.”



“Iya iya enak, sini kembalikan semuanya,” pinta Ray. Yara pun menyusun kembali piring di atas meja sambil senyum-senyum sombong.


__ADS_1


“Dari tadi kek jawabnya.”



Setelah selesai makan mereka pun kembali ke kamar untuk tidur, di luar masih hujan lebat membuat suasana jadi dingin.


Yara tidak masalah tidur satu ranjang dengan Ray, kerna menurutnya Ray adalah kakaknya.


“Kak, kapan Yara bisa kembali lagi ke kota?” tanya Yara menghadap kesampingkan tubuhnya bertatap dengan Ray.


“Tidak bisa, Yara” tolak Ray.


“Bagaimana dengan keluarga dan sekolah Yara?”


“Maaf,” ujar Ray singkat.


“Yara janji tidak akan memberitahu siapapun, kan kamu adalah kakaku tidak mungkin Yara membocorkan rahasia kak Ray, jadi pulangkan Yara ya, kak,” sekali lagi Yara memohon.


“Agha adalah seorang detektif polisi, melihatmu pulang dengan selamat pasti dia akan menginterogasimu untuk menanyakan tentangku Yara.”


“Yara akan jawab tidak tau, apapun itu yang mereka tanyakan.”


“Pokoknya tidak! Maafkan kaka, Yara. Kerna mulai sekarang kau putus sekolah, tetapi tenang saja, kau akan tetap dapat ijazah kok. Bukan dari SMA itu melainkan SMA di Italia, kaka akan mengurus semuanya.”


“Maksud kaka pemalsuan dokumen?”


“iya begitulah.”


“Kalau sampai ketahuan Yara yang akan di penjara, kak,” panik Yara langsung terduduk.


“Tenang saja tidak akan ketahuan, kaka akan menyuruh orang bersekolah di Italia atas nama ataupun data-datamu untuk foto ijazahnya nanti juga fotomu,” jelas Ray santai.


“Yara tidak mau kak!” bentak Yara.


“Aku tidak memintamu memilih Yara,” tegas Ray, Yara pun terdiam. Dia membaringkan kembali tubunya membelakangi Ray, tanda ia merajuk. Ray menarik selimut untuk menutupi dirinya dan Yara lalu mereka berdua pun sama-sama tertidur.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2