
Akhirnya Yara kembali lagi ke rumah sederhana bermaterial kayu itu, napasnya sedikit lega kerna sudah berada di dalam rumah setidaknya binatang buas tidak akan bisa masuk ke dalam.
“Mandilah kau kotor,” jujur Ray.
“Gelap gini mana bisa Yara mandi, apa tidak ada listrik di sini?”
“Sebentar kaka hidupkan lampunya.” Ray pergi ke dapur, ia menggunakan aki untuk menyuplai listrik. “Lampunya sudah hidup kau cepatlah mandi,” suruh Ray.
Bukannya langsung mandi, Yara malah menghampiri Ray di dapur yang sedang bersiap untuk memasak.
“Apa lagi yang kau tunggu Yara? kau kotor seperti babi. Apa perlu aku yang memandikanmu?”
“Yara tidak memiliki baju ganti dalaman juga tidak ada, terlebih lagi Yara sedang datang bulan bagaimana ini? Apa kak Rai punya pembalut?”
Rai melebarkan matanya mendengarkan pernyataan Yara, ia lupa kalau Yara tidak memiliki apa-apa di sini. “Besok kaka belikan baju baru dan segala kebutuhanmu, untuk sekarang pakai apa adanya dulu, untuk pembalut pakei kain aja, ya,” ujar Ray lembut.
Yara mengangguk paham akhirnya ia pergi ke kamar mandi yang ada di kamarnya untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Setelah mandi Yara membuka lembari pakaian, Yara memilih pakaian kaos yang oversize dan panjang milik Ray tanpa memakai dalaman kerna ********** Yara cuci, tapi untunglah ada celana bola milik Ray yang bisa Yara gunakan, tak lupa Yara menggunakan kain untuk pengganti pembalut.
“Kak Ray sedang masak apa? Baunya enak.” Yara berdiri di samping Ray yang sibuk dengan mengaduk sup.
“Kau suka sup ayam?” tanya Ray, ia menoleh dan Yara hanya mengangguk tanda iya.
“Untuk kali ini aku yang memasak, tetapi selanjutnya adalah tugasmu. Tak hanya itu, kau juga harus bersih-bersih rumah dan mencuci pakaian,” tambah Ray.
“Apa kaka membawaku ke sini untuk menjadikanku babu?” protes Yara merasa tidak terima, matanya memincing tajam tapi bukannya seram Yara terlihat menggemaskan di mata Ray.
“Itu masih lebih baikkan dari pada organmu yang kuambil,” ucap Ray sambil tertawa kecil.
“Kaka tidak akan menolongmu dari kejaran beruang kalau ingin membuatmu mati. Sudah sana, Yara tunggu saja di kursi, sebentar lagi ini masak,” suruh Ray sambil mendorong tubuh Yara ke meja makan.
Setelah beberapa menit menunggu Ray datang membawa panci lalu kembali lagi untuk mengambil nasi.
“Nah makanlah,” tawar Ray.
__ADS_1
Yara tidak segan-segan makan dengan lahap, lagian dia juga sangat lapar kerna seharian tidak makan.
“Pelan-pelan saja, makannya masih banyak,” tegur Ray.
“Masakan kaka enak juga,” puji Yara.
Setelah selesai mekan dan mencuci piring, Ray sibuk dengan laptop entah apa yang sedang ia ketik. Sedangkan Yara tampak gelisah ingin menanyakan sesuatu tapi tidak berani.
Yara terus menatap Ray tapi Ray malah mengabaikannya padahal sadar sedari tadi ditatap Yara.
“Kak,” tegur Yara mencoba memberikan diri.
“Apa?”
“Kak Poppy di mana?” tanya Yara, dengan cepat Yara menundukkan kepalanya, tatapan tajam Ray membuat Yara takut dan tidak berkutik untuk melanjutkan perkataan.
“Kaka tidak membunuh Poppy,” balas Ray.
__ADS_1
“Oh begitu, ya” pasrah Yara .“Mungkin kak Ray tidak berbohong, lagian kalau kak Poppy mati kenapa jasadnya belum di temukan padahal kak Ray kalau membunuh orang pasti jasadnya dibiarkan begitu saja dan jadi urusan polisi nantinya. Kalau gitu kak Poppy pasti masih hidup atau sekarang ia sudah pulang,” ucap Yara dalam hati.
Tbc.