Married With Stepbrother

Married With Stepbrother
Bab 29


__ADS_3

Ray pergi ke Mall untuk membeli pakaian untuk Yara, ia sibuk memilih milih pakaian wanita yang menurutnya bagus.


Terdengar suara tawa dari pelanggan lain kerna melihat Ray sedang memilih-milih pakaian dalam wanita, tapi Ray tidak menanggapinya dan bersikap santai seolah yang ia lakukan adalah hal yang wajar.


Setelah selesai Ray langsung membayar belanjaannya lalu membawa tumpukan paper bag ke dalam mobilnya.


“Apalagi ya yang belum?” tanya Ray, ia memikirkan apa yang harus ia beli selanjutnya.


“Oh iya pembalut.” Ray langsung membelokkan mobilnya ke arah supermarket.


Ray memasukkan segala macam merek pembalut ke dalam keranjang hingga penuh, lalu kembali lagi Ray mengambil troli untuk mengisinya dengan kebutuhan pangan serta snack-snack yang banyak untuk ngemil Yara di rumah.


“Mbak bayar,” ujar Ray yang sudah berdiri di depan kasir.


Pembalut-pembalut yang ada di keranjang Ray membuat kasir manahan tawanya. “Mau jualan pembalut ya mas?” tanya kasir.


“Enggak mbak.”


Kasir hanya mengangguk lalu memberitahukan total belanjaan Ray.


“Mau bayar pake apa mas?”


“Debit saja.”

__ADS_1


Setelah belanja Ray bergegas pergi melajukan mobilnya menjauh dari kota.


Sesampainya di hutan tujuannya, Ray memarkirkan mobil di tempat yang aman jauh dari rumah kayunya untuk menghindari jejak ban di tanah hutan.


Dua jam lamanya ia berjalan dan juga sedikit berlari dengan membawa banyak sekali tentengan di tangan. Dari kejauhan Ray bisa melihat Yara tengah menjemur pakaian di teras bersama Moco yang berada di dekat kaki Yara.


“Yaraa!” teriak Ray dari jauh.


“Kak Ray.”


......................


Yara membongkar isi dari bungkusan yang Ray bawa. “Kenapa pembalutnya banyak banget kak?” tanya Yara.


Yara mengangguk paham. “Kaka udah makan? Yara udah masak tapi bekas tadi pagi” tawar Yara.


“Belum.”


“Emang di sekolah kaka tidak makan.”


“Kaka lupa kalau sekolah masih libur?” ujar Ray mendengus kesal. “Oh iya, Yara. Kau tidak takut lagi dengan ku?”


“Tidak”

__ADS_1


“Kenapa? Cepat banget penyesuaian dirimu,” heran Ray, ia ingat Yara walaupun terlihat tenang tapi sebenarnya penakut, apalagi dengan Ray yang seorang buronan misterius polisi, terkadang Yara tidak bisa menyembunyikan ekpresi ketakutannya di hadapan Ray.


Kali ini Yara terlihat berbada dibandingkan takut ia malah terlihat senang.


“Lihat ini.” Yara menunjukkan selembar foto yang ia temukan di dalam laci saat bersih-bersih tadi pagi.


“Itu-”


“Ini foto mama Ezra, dengan adanya foto ini Yara yakin kak Ray adalah kaka tiri Yara, kan?” kekeh Yara sambil memainkan alisnya.


“Aku tidak kenal dengan wanita itu memangnya siapa dia?”


“Jangan berpura-pura lagi kak, mama Ezra akan sedih kalau kau tidak mengakuinya”


“Bukan begitu-


“Bukan begitu apanya? Barusan kaka mengatakan tidak mengenal mama Ezra,” potong Yara cepat sebelum Ray melanjutkan perkataannya.


Ray terdiam tidak menanggapi perkataan Yara, bahkan ia sempat ingin pergi tapi tangannya ditahan oleh Yara.


“Sekarang Yara mengerti kenapa kaka tidak membunuhku, Yara senang bisa bertemu kaka lagi tapi apa yang membuat kaka menjadi pembunuh seperti ini?” sambung Yara menatap Ray menanti jawaban.


“Huh.” Ray menghela napasnya panjang, Yara pasti akan terus bertanya kalau dia tidak menjawab, apalagi setelah mengetahui identitas Ray. “Kaka bertahan hidup dengan cara itu Yara.” Ray kembali duduk dan menatap serius Yara bersiap menceritakan yang sebenarnya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2