
Seperti sambil duduk di kelas, tempat yang di rekomendasi kan nya.
Tapi berbeda dari sudut pandang Echa. Dia justru lebih baik berbicara sekarang sambil berjalan di koridor ketimbang di kelas. Echa masih sangat ingat, yang duduk di depan nya di kelas itu Givan, orang yang akan jadi objek gibah nya.
Echa mulai menyusun kalimat nya. Dia sebenar nya bukan sepenuh nya ingin bercerita dari A sampai Z ke Zia tentang semua nya.
Dia ingin tau pendapat Zia, tapi jangan sampai Zia tau yang sebenar nya. Sedikit ribet emang.
Menambah keribetan nya itu, Echa menambah metafora.
"Jadi gini," kata Echa. "Ada---"
"Ada temen lo yang pagi ini peluk pelukan sama cowok di motor?" Zia menginterupsi lagi dengan kata kata yang membuat Echa mengernyit.
"Apa sih?" lalu saat teringat sesuatu, Echa merasa tenggorokan nya sedikit tercekat. "Kok ngomong gitu sih?" Dia memaksa berbicara.
"Enggak deh." Zia menggeleng. "Cepet tadi apa? Mau bilang apa?"
"Gini ... jangan di potong lagi pas gue ngomong!" Echa melempar peringatan dengan mulut dan tatap mata nya.
Zia mengangguk.
Tangan Echa bergerak mendukung pemetaan cerita nya. "Lo bayangin ada sebuah teater, ada orang yang berperan sebagai batu," Metafora nya di mulai, anggap aja Givan itu batu. "Batu tuh, pendiem kan? Eh enggak maksud nya emang diem. Terus tiba tiba dia gerak grabak grubuk." Meluk. "Kan itu horor ya?"
Zia tertawa hambar. "Apa sih lo? Ngomong apa? Batu, apa?"
Echa tidak berniat menerjamah kan nya tapi dia sangat ingin dia mengerti. "Ya pokok nya gimana menurut lo tentang situasi itu? Ada karakter batu yang tiba tiba gerak?"
"Bilang aja Givan Si Batu, anjir banyak banget sebutan dia. Ya pokok nya Givan yang biasa nya diem terus tiba tiba grabak grubuk deketin lo, gitu? Susah amat," cetus Zia malah menghancur kan metafora Echa. "Jadi meniru lo Givan grabak grubuk deketin lo? Gak ke balik."
"Apaan yang ke balik?" Echa tak sabar malah nyolot. "Apa sih lo gak jelas!"
Zia sekarang tertawa, ke konyolan Echa terdengar seperti konfirmasi atas apa yang baru saja di lontar kan nya.
"Lebih gak jelas lagi teori batu batu lo!" Zia tertawa lagi, menertawa kan Echa. "Mau jualan batu akik?"
__ADS_1
Echa merasa sia sia begitu saja, sejak tadi Zia tidak menjawab apa apa, tidak membantu Echa dengan mendiskusi kan keresahan nya tentang semalam, sikap Givan yang mendadak berubah sampai terjadi pelukan itu!
"Kenapa gak jujur aja sih sama gue?" tanya Zia. Sekarang mereka sedang menaiki tangga. "Jadi gimana? Menurut lo, Givan deketin lo?"
Suasana hati Echa sudah hancur, dia tidak ada ke inginan untuk bercerita lagi.
"Gue ngeliat nya sih, lo yang deketin Givan."
Echa berhenti sebelum mencapai ujung tangga terakhir. "Ngomong apa sih lo?" tanya Echa dengan kedua alis tertekuk. "Dari tadi nuduh gue deketin Givan? Otak lo treveling ke mana? Lubang hitam?"
Zia tidak menjawab, malah memberi kan pertanyaan yang saat itu. Echa rasa cukup OOT alias out of topic.
"Lo ke sekolah sama siapa sih?"
Tuh kan. Kalau pertanyaan itu berhasil membuat Echa teringat dengan apa yang terjadi tadi pagi. Ke jadian drama yang di lalui saat berangkat sekolah.
Tadi pagi, saat Echa baru saja akan memesan ojek online setelah menyimpul kan tali sepatu sepatu di teras, tiba tiba saja Givan menghampiri nya.
Echa kira Bunda memanggil Givan, ternyata tidak.
Givan ke sana untuk menghampiri nya, benar benar untuk Echa. Saat Echa melihat nya dengan bingung Givan berkata. "Ayo berangkat bareng gue."
Dan jawaban Echa tentu saja delengan kepala, yang arti nya menolak tentu saja. Gak mau berangkat bareng.
Tapi Bunda datang dari belakang dan memaksa kepala Echa untuk mengangguk.
"Iya nih," kata Bunda setelah mendorong kepala Echa sekali. "Baik banget Givan mau sekalian bawa Echa ke sekolah. Makasih ya?" Bunda menyetujui.
Dan kemudian selanjut nya, Echa di paksa berdiri oleh Bunda. Di dorong dorong sampai ke motor Givan, dan hampir di buat terjungkal ke depan andai dia tidak segera naik ke motor laki laki itu.
Kalau ada kata lebih dari aneh, ya itu lah yang bisa menggambar kan sikap Givan sejak semalam.
Dari tiba tiba mengajak nya pergi ke Bukit Bintang -dengan modus beli martabak, lalu menghibur nya? Berbicara banyak, merangkul dan memeluk nya?
Echa saja masih bingung dan mempertanya kan motif semua itu.
__ADS_1
Mangka nya dari tadi pagi yang ada di pikiran Echa hanya, apa lagi sih? Apa lagi, hei?!
Kemudian di jalan, Givan menjalan kan motor nya dengan metode gas-rem-gas-rem membuat tubuh Echa terantuk antuk. Sampai akhir nya karena 'kesal' dia memutus kan untuk memeluk Givan erat erat, lebih ke menggencet perut Givan dan mengancam Givan untuk menjalan kan motor dengan waras.
Echa melakukan nya dari pada muntah karena perut nya seperti di kocok kocok jika Givan terus gas-rem sampai sekolah.
Mabuk darat karena naik motor kan agak konyol.
Zia menjentik kan jari nya di depan wajah Echa membuat fokus Echa kembali ke masa kini, di ujung tangga dan di depan Zia yang pertanyaan nya belum di jawab.
"Gue berangkat sama ojol," kata Echa yang jelas berbohong. Echa tidak berani menatap sepasang mata Zia saat mengatakan itu.
"Oh, sama ojol ya? Gue kira sama Givan."
Echa tidak sadar dia melihat Zia dengan cepat dan mata nya terbelalak sempurna saat mendengar itu.
"Soal nya waktu gue beli nasi uduk di pinggir jalan, gue liat orang yang 'mirip banget' sama lo lagi peluk pelukin Givan di motor tadi pagi."
Perkataan itu berhasil memaku Echa di tempatan dengan tenggorokan yang tercekat.
Echa lupa. Kalau rute ke sekolah dari kompleks Puri Melati itu melewati kompleks yang di tinggali Zia sekarang.
Seketika semua nya jadi masuk akal pantas saja sedari tadi Zia terus menyinggung itu. Tentang Echa yang mendekat kan diri ke Givan, aishh. Jadi Zia melihat nya? Saat Echa memeluk --- menggencet perut Givan?
"Mau ngaku sendiri atau mau gue introgasi?"
***
Sekali, Echa di selamat kan oleh bel yang berbunyi. Karena itu dia bisa menghindar dari ke harusan memberi penjelasan pada Zia karena mereka harus buru buru ke kelas.
Kali ke dua sampai nya di kelas, Echa di selamat kan oleh Bu Dewi yang datang dan langsung bilang. "Ulangan harian ya, hafalan sepuluh menit setelah itu simpan semua tas dan buku ke depan. Tidak ada apa apa di meja kecuali alat tulis."
.
.
__ADS_1
.
...Bersambung... ...