
Givan mengangkat teleponnya setelah berdiri tegak, masih di sana tidak melangkah menjauh. "Iya kenapa, Bi?"
Echa yang ada di dekatnya jadi memasang telinga baik-baik, siap menguping dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Oh, makanan kesukaan Oca," kata Givan pada orang di telepon.
Tanpa sadar Echa benar-benar membuka mata dan telinga lebar saat mendengar kata 'Oca' keluar dari mulut Givan.
Makanan kesukaan Oca?
Maksudnya dirinya? Niscala Rescha/ Echa (Oca)?
Wah ada apa nih?
Echa semakin penasaran.
Echa menahan senyumnya agar tidak jadi cengiran lebar. Sementara Givan yang menyadari ekspresi wajah Echa sudah tertawa geli sendiri di dalam hatinya.
Dia jadi ingin terus menggodanya.
"Iya, soalnya Oca makin cantik kalau banyak makan," kata Givan sambil melihat Echa yang ada di sana bersamanya, yang sedang menggerakkan badan nya ke kiri dan ke kanan entah kenapa, dengan senyum yang sama. "Lucu juga," kata Givan.
Tanpa tahu apa yang sedang di bicarakan Givan, Echa merasakan perasaan menggelitik-gelitik tidak jelas. Sementara, senyumnya semakin sulit di tahan.
Cantik? Lucu?
Sampai Givan mengakhiri teleponnya, Echa masih dengan senyumnya, gelitik-gelitiknya masih terasa.
"Jadi, tadi sampe mana?" tanya Givan.
Entah kenapa rasanya itu jadi tidak penting lagi, Echa lebih penasaran dengan semua yang baru saja di dengarnya, yang sangat-sangat membuat suasana hatinya menjadi baik. Sangat baik. Gadis itu seketika lupa kalau beberapa saat lalu dia kesal sampai marah-marah pada Zia.
"Lo siapain apa buat gue?" tanya Echa.
"Siapain?" Givan menanyakan nya kembali dengan satu alis terangkat, pura-pura tidak mengerti, padahal sangat paham apa yang membuat Echa salah paham.
Echa mengangguk. "Makanan kesukaan gue? Emang lo tau?"
Givan menggeleng sambil mempertahankan raut wajah polosnya. "Enggak, emang apa?"
"Gue denger jelas kok," kata Echa. "Katanya kalau makannya banyak---" Echa jadi cantik dan lucu.
Entah sejak kapan Givan pintar berakting, dia berpura-pura baru memahaminya padahal dia sudah paham sejak awal. "Oh, tentang Oca?" kata Givan. "Iya, dia jadi cantik dan lucu kalau banyak makan Whiskas."
Tunggu.
Siapa yang makan apa?
__ADS_1
"Hah?"
"Oca, kucing gue," kata Givan dia masih bisa menjaga ekspresinya yang seolah tidak mengerti apa-apa. "Namanya Oca, kucing yang pernah jilat kaki lo waktu itu."
Sementara Echa yang mendengar itu, tahu bagaimana rasanya? Ingin menggali tanah, membuat lubang yang besar dan mengubur dirinya dalam-dalam bersama semua perasaan malunya.
Jadi, yang sejak tadi di bicarakan Givan itu Oca kucingnya ... Bukan Oca Echa?
Bagus.
"Kucing ko namanya Oca, dan lo panggil gue juga Oca?"
Givan membuka mulutnya seolah terkejut. "Oh ya!" katanya membuat Echa ingin menimpuk wajahnya sekarang juga. "Iya juga, ya? Nama kalian sama." Seolah benar-benar baru sadar.
"Wah lo samain gue sama kucing."
Givan menggeleng. "Gak samain, itu kebetulan,
Lagi pula lo sama Oca gue beda. Dia cantik, lucu, dan lebih pintar juga."
'Oca gue' yang maksudnya kucing itu?
Wah Echa di buat kehilangan kata-kata.
Echa melipat tangannya di depan dada, dia menunjukkan kekesalan dengan jelas lewat tatap mata. "Gunung Es yang menjelma jadi Cowok Sialan gini ya kalau mencair?" Setelah menghela napas beberapa kali, Echa merubah raut wajahnya, memaksakan senyumnya dan membentuk tangannya seolah jadi cakar kucing. "Gemes banget ya Givandra Galaxy ini? Bikin gue jadi pengen ngap."
Begitu melepaskan nya, dia menyambar susu kotak cokelat tadi yang di berikan Givan. "Syukurnya lo gak gue guyur pake ini!"
***
Givan berhasil, membuat Echa lebih kesal sampai membuat Echa melupakan kekesalan sebelumnya pada Zia.
Sebelum jam pelajaran kedua di mulai, Echa kembali ke kelas dan duduk di tempatnya tanpa mengomel, lalu tak lama di susul Givan yang setelah duduk di bangkunya laki-laki itu menghadap belakang, ke arahnya.
"Oca, lo belajar---"
"Gak usah panggil Oca-Oca deh," kata Echa dengan tidak suka. "Sekali lagi lo panggil gue Oca, gue gosok bibir lo."
"Pake?" Givan memang tidak ada takut-takutnya.
"Pake kekuatan seribu tangan," kata Echa dengan dingin. "Sampe ilang."
Alkana dan Zia saling bertukar pandang, masih belum tau apa yang terjadi, alasan kenapa rasanya emosi Echa lebih ruwet dari pada saat pergi meninggalkan kelas tadi?
"Cha, gue minta maaf," kata Zia yang merasa kalau yang membuat emosi Echa memburuk adalah dirinya, padahal bukan lagi. "Kalau lo mau kursi ini gue kasih---"
"Gue mau di sini." Echa menginterupsi perkataan Zia dengan tatap yang masih tertuju tajam dan dingin ke Givan. "Biar bisa liatin cowok itu sampai lehernya putus."
__ADS_1
Givan tergelak sendiri. "Oh jadi mau setajam itu tatapan mata lo sampai bisa mutusin leher orang, Oca?"
Echa tidak menanggapi lagi, dia mengalihkan fokus dan pandangannya segera ke Zia yang ada di sebelah. "Lo duduk di sana, tapi gue belum maafin lo," kata Echa.
Zia mengangguk.
"Besok, bawa jepit jemuran sebanyak tanggal lahir lo."
"Cha---"
"Bilang iya, atau gue minta lebih banyak dengan di kali bulan lahir?"
Mendengar ancaman itu, Zia buru-buru mengangguk. Bisa jadi gawat kalau sampai di kali. Tanggal lahirnya saja udah sebelas, di kali delapan -karena Zia lahir di bulan Agustus- bisa-bisa jumlah nya berganda jadi delapan puluh delapan.
Di sisi lain, dari tempatnya Givan masih memerhatikan, dengan senyum yang tak lepas.
Mungkin aneh, tapi itu Givan lakukan karena suka. Dia suka melihat Echa yang sudah ber-demage seperti ini, membuat permintaan maaf orang-orang yang bersalah padanya di bayar dengan cara yang nista.
Alkana yang sudah menghadap depan menyentuh kakinya, dan mengajaknya berbicara diam-diam. "Lo tadi bawa anak itu keluar buka buat beresin masalah?" tanya Alkana dengan suara yang di buat serendah mungkin. "Kenapa balik-balik malah makin acak-acakan begini?"
"Kayaknya gue bikin salah?" tanya Givan, padahal ittau sendiri kalau jawabannya YA! "Tadi gue di gigit." kata Givan menunjukkan bekas gigitan Echa di tangannya membuat yang Alkana ngeri sendiri. "Lucu, ya?"
Perkataan Givan membuat Alkana bertanya, "Menurut lo lucu?" Lalu Alkana menggeleng. "Gak sama sekali."
***
Di mata Givan memang Echa sebodoh apa sih sampai bilang Oca kucing lebih pintar darinya?
Echa jadi ingin melakukan pembuktian kalau dia lebih pintar, dan juga jadi ingin bertemu kucing itu sekali lagi lalu menyerahkan setumpuk soal Matematika lengkap dengan alat tulisnya. Echa ingin tahu apa kucing itu bisa mengerjakannya?
Echa masih menyimpan kekesalannya sampai diskusi kelasnya di mulai yang di adakan sepulang sekolah, di kelas.
Hal yang harus di diskusikan adalah partisipasi dalam 'Fight 8 Fun' yang akan di adakan sebentar lagi.
'Fight 8 Fun' adalah sebuah acara yang selalu di adalah oleh SMA Nusa Bhakti di penghujung bulan Agustus.
Isi acaranya adalah rangkaian lomba-lomba kreatif yang harus di ikuti antar kelas.
Tujuan acaranya adalah untuk mengingat bulan Agustus sebagai bulan yang penuh dengan perjuangan, agar para murid memiliki semangat juang yang tinggi. Begitu katanya.
Namun di samping itu, acaranya juga membuat murid-murid merasa 'Fun', sebagai ajang hiburan juga sebelum menghadapi PTS (Penilaian Tengah Semester) akhir september nanti.
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung......