
Echa menjadi orang pertama keluar dari kelas usai diskusi untuk 'Fight 8 Fun' itu selesai.
Suasa hatinya yang memang sejak pagi sudah hancur, semakin tidak jelas. Padahal Echa sudah memukul punggung Angga saat lewat tadi untuk menumpahkan kekesalannya, tetapi tidak mengubah apa-apa.
Dia masih merasa buruk karena segala hal yang tidak tahu apa saja tepatnya.
"Oca."
Suara itu membuat Echa mendengus dan mempercepat langkah nya. Tapi, derap langkah mendekat dan cekalan di tangannya memberitahu kalau usahanya sudah sia-sia.
"Gue bakal anter lo," kata Givan, tatapnya memendar mencari sesuatu pada Echa.
Sementara itu, Echa berdecak, dia berupaya melepaskan tangannya dari cekalan Givan yang malah menahannya lebih kuat. "Gue bawa motor sendiri," kata Echa sambil menunjukkan kunci motornya dari saku.
"Tepat!" kata Givan. "Gue bakal anter lo karena itu." Setelah mengatakannya, dengan gerakan yang cepat dia merebut kunci motor -yang memang sejak tadi di incarnya- dari tangan Echa.
"Apa apaan sih lo?" suara Echa meninggi, hendak meraih kunci motornya kembali, tetapi Givan lebih dulu memasukkan kuncinya ke dalam saku celana, tempat Echa tidak bisa menjangkaunya.
"Kata Alkana, bisa bahaya kalau lo bawa motor sekarang," papar Givan membuat Echa berdecak lagi.
Alkana bilang apa sih?
"Ayo," kata Givan sambil menggerakkan sedikit kepalanya, menyampaikan secara tidak langsung untuk pergi.
Echa melepaskan tangannya dari Givan. Baru mundur selangkah untuk menjauh, Givan berhasil meraih sikutnya dan membuat Echa mendekat lagi.
"Kenapa sih ngurusin gue?" tanya Echa yang semakin tidak mengerti dengan sikap Givan. "Bukannya lo juga bawa motor?"
"Gue bawa motor, tapi gue mau pulang sama lo," jawab Givan terdengar jujur dan berhasil membuat Echa merasakan perasaan tergelitiknya lagi, di tengah kesalnya.
Heu~ bisa-bisanya Echa merasa begitu lagi setelah emosinya di buat berputar-putar tidak jelas seharian ini, kayak baju di mesin cuci.
"Gue gak mau," kata Echa menahan langkahnya saat Givan hendak mengajaknya pergi. "Sini kunci motor gue."
Givan menunjuk saku celananya. "Ambil kalau berani," tantang Givan. "Bentar lagi Angga sama cocotnya keluar."
Bisa sepaket gitu ya? Tantangannya di keluarkan langsung dengan ancaman. Intinya kunci itu tidak akan di kembalikan ke Echa.
"Gak cukup gue gigit."
"Enggak," kata Givan menggeleng dengan senyum yang menampilkan jajaran giginya.
__ADS_1
Saat merasakan kalau satu per satu teman kelasnya sudah keluar, akhirnya Echa memutuskan untuk melangkah duluan dan Givan mengikutinya.
Benar kata Givan, sebelum Angga dan cocotnya keluar, mereka lebih baik pergi dari sana.
"Boleh tau gak? Lo kesel sama gue karena apa?" tanya Givan sambil berjalan di samping Echa yang melangkah dengan cepat.
Pertanyaan belum di jawab, Givan sudaj bertanya lagi. "Harusnya gue tuh merasa bersalah dan minta maaf kayak Zia. Tapi gue seneng liat lo kesel, jadi gimana dong?"
Echa menoleh hanya untuk melempar tatapan sinis. "Lo tau gak sih kalau gue lagi menahan ke inginan untuk hap mulut lo?"
Givan terkekeh. "Baru tau," sahut Givan dengan riangnya. "Mau dong di hap."
Echa tidak menanggapi lagi, mereka sedang menuruni tangga sekarang dan Givan malah mengikutinya di belakang. Sampai mereka tiba di tangga paling bawah, Givan menahan tangan Echa lagi.
"Bentar," katanya.
Lalu Givan berjongkok tanpa menjelaskan apa-apa, dan ... saat Echa akan mundur, Givan malah menahan kakinya sambil mendongak.
"Sepatu lo," kata Givan sambil menunjuk sepatu Echa yang talinya terlepas. "Lo mau jatuh?"
Echa akhirnya diam saat Givan membungkuk di sana untuk membenarkan tali sepatunya.
Dan Givan, selalu berhasil membuat Echa terjaga dari hal-hal yang membuat tubuhnya tidak jatuh ke tanah. Tetapi, sadar tidak sih? Kalau semakin Givan bersikap begitu, semakin membesarkan potensi untuk membuat hati Echa jatuh padanya?
"Udah belum sih?" tanya Echa pada Givan yang masih membungkuk di depannya dan membuat Echa merasa dadanya jedag jedug tidak jelas. "Lama banget. Benerin tali sepatu atau benerin tali pusar?"
Givan terkekeh lagi, sebelum akhirnya mengangguk dan berdiri. "Ada tempat yang mau lo kunjungin sebelum pulang?"
"Ada," jawab Echa sambil menatap Givan.
"Ke mana?"
"KUA."
Givan mengernyit. "Ngapain ke sana?"
"Buat bungkus lo pake ijab kabul."
***
Echa berbaik hati dengan memberikan alternatif lain untuk Zia agar di maafkan, yaitu dengan membuat Zia menginap di rumahnya malam ini.
__ADS_1
Dan di sana lah mereka sekarang, di kamar Echa dengan Zia yang duduk selonjoran sambil memainkan ponselnya, sedangkan Echa sendiri bersila di karpet sampingnya.
Ada maksud lain dari sekedar membuat Zia berbaring di kamarnya sambil bernapas serta berkedip. Echa ingin bercerita tentang Givan, tentang sikap laki-laki itu padanya.
Tetapi, sejak Zia datang Echa malah belum mengatakan apa-apa dan sibuk dengan pikiran nya sendiri. Karena bingung.
"Hoaam ... Gue tidur ya," kata Zia yang baru saja mematikan daya dan menyimpan ponselnya ke kabinet samping tempat tidur.
"Jangan dulu," larang Echa.
Mendengar itu, Zia melihat ke jam digital yang ada di samping tempat tidur. "Udah jam sembilan ini Cha," kata Zia, lewat dari itu termasuk jam malam karena besok mereka masih harus sekolah. "Lo mau gue ngeronda di sini? Astaga jahat banget ya, mentang-mentang---" Zia datang untuk menebus kesalahannya. "Sekalian gak sih lo tidur nanti gue tepokin juga pantatnya kayak bayi?"
"Gak gitu," kata Echa dan setelahnya Echa bingung sendiri untuk mengarahkan pembicaraannya ke pembicaraan yang dia ingin kan, tampa membuatnya jelas.
"Terus?"
Echa masih berpikir sampai membuat Zia kesal menunggu. "Tiga, dua , sat---"
"Soal Givan!" sergah Echa cepat karena terdesak oleh hitungan mundur itu.
"Kenapa Givan?" tanya Zia penasaran dengan wajah mengantuknya. Lalu, seperti baru mengingat sesuatu, Zia menjentikan jarinya. "Eh tau gak sih?"
"Apa?" Echa bertanya cepat, dan sangat berharap kalau Zia mengatakan sesuatu tentang Givan.
"Tadi kan lo di anter Givan pulangnya?"
Echa menjawab dengan anggukan kepalanya. "Iya," kata Echa dan teringat kalau sebelum mengatakan itu, Givan menyebut-nyebut tentang Alkana. "Emang Alkana ngomongin apa di depan anak itu sampe dia anter gue?"
"Tadi kan lo semrawut banget ya di sekolah. Takutnya kayak kejadian tahun lalu. Kalau lo kesel bawa motor, gak mau lewat terbang pulangnya, tapi nerobos tembok lagi."
Echa meringis mengingat kejadian tahun lalu. Ada hari dimana dia sedang PMS lalu Angga terus membuatnya kesal dengan mengganggunya tentang apa gitu, Echa lupa apa tepatnya.
Pokoknya ketika pulang, setelah menyalakan motor, Echa tidak sengaja menarik gas di tangan kanannya dengan keras hingga motornya meloncat dan menabrak tembok sekolah.
"Dia ceritain kejadian tahun lalu ke Givan?"
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung... ...